Minggu, 11 April 2010

della liar

Della menarik tangan Vivi sehingga kami bertiga mengobrol dan Della menyampaikan pesanku pada Vivi..

"Vi.. Dia OK, tapi kalau sampai lu yang minta nambah, lu musti mau jadi sex partner dia tiap saat" Wah, Della ngarang nih, pikirku. Tapi aku hanya tersenyum sambil terus bergoyang mengikuti irama lagu.
"Kita liat aja, siapa yang minta nambah" protes Vivi.
"Gue juga belum tau sih ilmu dia, selama ini kan cuma omong doang" sergah Della.

Aku tarik Vivi, punggungnya menyandar di badanku dan pantatnya menekan penisku, kulingkarkan tanganku di perutnya sambil kutepuk bahu Della, mataku mengerling ke arah Dino, Della mengerti maksudku.

"Vi.. Kamu di sini aja ya, gua pengen tau Dino bisa ngaceng nggak" kata Della sambil menghampiri Dino.

Aku dan Vivi menonton aksi Della meliukkan pinggulnya di hadapan Dino semakin lama semakin rapat sampai akhirnya penis Dino terkena goyangan bagian bawah perut Della.

Rupanya Vivi terkena gairah atau karena tidak mau kalah karena cowoknya dirangsang sedemikian rupa oleh Della, atau mungkin juga karena tersengat listrik dari buah dadanya karena tangan kananku sudah naik dari perut dan meremas dada kirinya walau masih terhalang BH tipis. Kalah kenyal dibanding milik Della, tapi lebih besar, kuperkirakan 36C. Tangan Vivi merayap ke belakang lalu meremas-remas penisku dari luar celanaku.

"Haah.. Gila lu ya, nggak pakai CD.."?, tanyanya kebingungan.
"Della yang minta.." jawabku.
"Lu berdua emang pada gila ya.." bisiknya sambil menolehkan mukanya ke belakang.

Kesempatan itu aku gunakan untuk menangkap bibirnya lalu kami berciuman. Kumasukkan lidahku ke mulutnya mencari lidahnya sambil menghisap bibir atasnya. Sementara terasa putingnya bertambah keras pertanda dia telah terangsang. Sementara Della berciuman dengan Dino sambil tangan kanannya meremas-remas penis Dino. Akhirnya Vivi berbalik dan kembali kami berciuman dengan bergairah dan aku balas dengan meremas buah dadanya.

"Vir, kata Della lu jago ya.." bisiknya di telingaku
"Dia cerita apa?" tanyaku.
"Della bilang, lu punya variasi dan teknik sexual yang tinggi, lidah kamu juga maut, mulanya dia tidak berminat, tapi sekali coba dia ketagihan, sekarang cowoknya mau ditinggalin tuh" ujarnya. Wah, aku jadi bingung mana yang benar nih..
"Terus terang gua belum pernah main dengan dia, mungkin dia cuma promosi" kembali aku berbisik sambil berusaha merangsang leher dan telinga dia.
"Ternyata dia benar, gua cuma mancing kok, nanti kalau Della sudah nyoba lu, giliran kedua dengan aku ya".
"Tanya dia dulu, boleh nggak?" ujarku sambil tertawa.
"Della sudah OK, dia bilang kalau perlu sama sama"

Della kembali bersama kami, terlihat Dino sibuk membetulkan letak penisnya karena berdiri jadi harus tegak ke atas arahnya. Melihat Vivi sedang meremas penisku, Della tidak mau kalah, lalu kedua tangan mereka secara bersama-sama memegang dan meremas penisku. Dengan posisi mereka di kanan kiriku, tidak ada yang melihat apa yang dilakukan tangan mereka. Della membuka resletingku dan mengeluarkan penisku, diambilnya tangan Vivi lalu digenggamkannya ke penisku. Vivi terkejut ketika menggenggam penisku tanpa bisa berkomentar.

"Vi.., katanya mau ngisep?" kata Della.
"Ngak dulu ah, nanti aja kapan-kapan" ujar Vivi.
"Berani nggak lu lawan kita berdua?" tanya Della kepadaku. Aku sampai menggeleng gelengkan kepala. Sejak kapan Della menjadi liar begini. Aku hanya berkata..
"Someday OK, but not now"

Akhirnya aku dan Della pulang sekitar jam 2 pagi. Sesampai di mobil, dengan buas Della membuka celanaku, penisku diremas-remasnya, saat memasuki tol, kepalanya mulai hilang dari pandangan belakang, lidahnya sibuk menjilat, mengulum dan mengocok penisku dengan mulutnya. Terasa terkadang masih kena gigi dan cara kulumannya menyisakan ruang udara di mulutnya yang mengurangi kenikmatan bagi lelaki yang merasakannya.

Aku ambil tangannya, aku hisap jari telunjuk dan jari tengahnya dengan cara tanpa menyisakan udara di mulutku. Ternyata Della langsung mengerti maksudku karena segera saja dia mengubah cara menghisap penisku.

"Ngajarinnya teori melulu sih, nggak pakai praktek jadi masih bego, praktek dong.., hayo sekarang.. Murid kan musti ujian praktek.. Dino juga tadi gila, tangannya masuk ke vagina gue.." rengeknya.

Aku mengarahkan mobil ke apartemenku di kawasan S, aku memang mempunyai sebuah apartemen khusus untuk berkumpul bersama kawan-kawan dan sebagai tempat untuk petualangan sex-ku ini. Sesampai di apartemenku, Della dengan tidak sabar langsung memeluk dan mendorongku ke dinding sambil membuka kancing baju serta celanaku. Seketika aku telanjang bulat. Sedangkan Della yang sejak di mobil sudah melemparkan seluruh pakaiannya hingga tinggal mengenakan G-String, langsung masuk lift dari basement tempat parkir. Untung saja aku dapat tempat parkir persis di sebelah lift.

Setelah kami masing-masing minum setengah gelas red wine, didorongnya tubuhku ke sofa, lalu dia berjongkok sambil menarik kakiku. Lidahnya menjalar di telapak kaki, seluruh jari-jariku dikulum dan dihisapnya hingga rasa gelinya tidak tertahankan, lalu naik ke betis, lutut dan bagian dalam pahaku.

"Dell.. Ooh, enak Del.., ternyata lu jago ya" aku mengerang.
"Baru segitu!!, Nikmati aja jangan kasih komentar dulu, ini belum apa apa.." katanya.

Sesampai di selangkangan, dijilatnya buah pelirku dengan sangat bernafsu sampai aku merintih keenakan, lalu dia naik menuju perut. Dihisapnya putingku kanan kiri, diangkatnya tanganku sambil dijilat dan dihisapnya ketiakku, penisku hanya dipegang saja. Aku berteriak sejadi-jadinya karena memang di situlah titik kelemahanku. Lalu kami berciuman, bersilat lidah, berlomba saling memasukkan dan menghisap lidah kami pada mulut pasangan masing-masing.

Kemudian tubuhku dibalikkan sehingga aku berada dalam posisi tengkurap dan dia naik menindih badanku dari belakang, dijilatnya mulai dari leher, lalu ke seluruh punggung dari ujung ke ujung dengan hawa nafsu birahi yang sudah sampai ubun-ubun, tak ada satu inchi pun yang terlewat dari lidahnya. Sampai di pantatku, lidahnya bermain main di ujung atas belahan pantatku sambil terkadang dihisapnya daerah itu hingga terasa nikmat yang amat sangat di daerah itu.

Lalu lidahnya ditarik ke bawah menyusuri belahan bulatan pantatku dan tiba di selangkanganku. Aku berdebar penasaran menanti Della melanjutkan permainan lidahnya menuju puncaknya yaitu penisku. Tapi dia tidak melakukannya, malah lidahnya kembali menelusuri paha sampai kembali ke ujung telapak kakiku.

Kali ini permainan mulut dan lidahnya di jari-jari kakiku lebih luar biasa dari yang tadi, masing-masing jari terutama jari manis dan jari tengah kakiku dipelintir di dalam mulutnya sambil kepalanya diputar ke kiri dan kanan.

Kulihat jam, 30 menit sudah penisku berdiri tegak sempurna, sangat keras sampai pegal dan tergencet pada sofa, Della menyiksaku sedemikian rupa hingga ingin rasanya aku kocok sendiri penisku, tapi setiap kali aku angkat pantat dan memegang penisku, tanganku selalu ditepis oleh Della, dia mengatakan bahwa penisku akan digilirnya nanti.

Akhirnya dia kembali naik menyusuri betis dan pahaku. Diangkatnya pantatku lalu diambilnya 2 buah bantal sofa dan disisipkannya di bawah pinggulku sehingga aku berada dalam posisi menungging, digigitnya bukit pantatku lalu dibukanya belahan pantatku dengan kedua ibu jarinya.

Terasa ada daging hangat menempel di bibir lubang anusku dan berbeda dengan tadi, kali ini Della dengan perlahannya memutar-mutarkan ujung lidahnya di sekeliling bibir anusku. Rasanya luar biasa, penisku sudah sedemikian kerasnya sampai sampai hampir meledak rasanya.

"Aaggh.. Oohh.. Del.. Enak amat.."

Della semakin bernafsu mendengar teriakanku dan rupanya masih belum selesai juga. Della dengan perlahan pula melesakkan ujung lidahnya yang keras ke dalam lubang anusku hingga mungkin ada kira kira 2 cm masuk ke dalam, lalu lidahnya diputar-putar di dalam anusku. Aku sampai menggeliat-geliatkan pantatku, tapi Della dengan sigapnya menahan pantatku agar lidahnya tidak terlepas dari lubang anusku.

Setelah kira kira 2 menit, lalu dengan tiba-tiba, dia keluarkan lidahnya dan langsung menghisap lubang anusku sekeras kerasnya. Seketika itu pula aku berteriak. Kejang badanku seketika, rasanya aku hampir orgasme saat itu. Cara itu diulanginya lagi beberapa kali sampai aku berkata..

"Udah Del.. Gua nggak tahan nih.."

Tubuhku kembali dibaliknya dan dia langsung menjilat kepala penisku, lidahnya bermain di belahan kepala penisku, disapunya seluruh permukaan kepala penisku lalu perlahan dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya hingga terlihat Della berusaha keras untuk membuka mulutnya yang mungil agar penisku bisa masuk seluruhnya. Mula-mula sedikit, dikeluarkannya, lalu dimasukkan lagi semakin lama semakin dalam sampai terasa di ujung tenggorokannya, kadang dia agak tersedak, tapi belum masuk semuanya. Dengan kocokan mulutnya yang maju mundur dan kepala yang berputar putar semakin cepat, akhirnya..

"Del.. Gua mau keluar nih.." Kocokannya makin dipercepat. Akhirnya spermaku keluar di dalam mulutnya.
"Jangan ditelan semuanya!" kataku.

Kutarik kepalanya lalu kucium bibirnya, kusedot spermaku yang ada di mulutnya, lalu lidah kami bermain-main dengan spermaku cukup lama sampai bibir dan muka kami berdua belepotan sperma.

Jam menunjukkan pukul 3:30 pagi. Nafasku memburu berbaring keenakan sambil Della kembali mengulum penisku yang mulai mengecil.

"Aah, Del.. Ngilu nih.." teriakku.
"Gila nih kontol, kok ada ya yang kaya gini.." katanya sambil terus menjilati kepala penisku.
"Sini dong memek lu, gua mau jilatin.." pintaku.
"Hari ini gua bermaksud untuk ujian doang, nggak ada maksud buat ngewe, jadi gua mau minta hasil ujiannya sekarang, lulus nggak gua.." ujarnya sambil digigitnya penisku ringan.
"Curang lu, emang lu pikir gua bisa cukup puas cuma gua doang yang keluar" aku protes.
"Itu hukuman buat yang punya kontol kaya lu, lagian gua masih ragu, bisa nggak kontol lu masuk ke memek gua, soalnya punya laki sama cowok gua masih di bawah ukuran standar, lagian gua takut minta nambah he he he he.., ntar kalau gua minta nambah, lu nggak sempet sama Vivi lho.." ujarnya.
"Kan mau sama-sama, kata Vivi.."
"Sapa takut, sama gua aja lu udah kelojotan, apa lagi ditambah sama Vivi.."

"Ratih juga mau tuh.." kataku sekenanya.
"Emangnya dia juga tadi liat kontol lu waktu gua isep sebentar.."
"Undang Dino juga nggak..?" tanyaku.
"Kontolnya kecil, makanya Vivi lagi cari yang gede.." ujarnya.
"Ntar gua cariin yang lebih gede dari gua punya deh.."
"Botol bir aja sekalian. Udahan, pulang yuk.., jadi gimana nilai gue..?" tanyanya.
"Summa Cum Laude, buat mulut sama lidah lu kalau kaya tadi, nggak bakalan gampang cari gantinya deh.., tapi belum tau goyangan memek lu ya, belum bisa kasih nilai.." kataku seakan menantang.
"Kapan-kapan ujian lagi ya, soalnya gua juga penasaran sama kontol lu, musti sering praktek supaya bisa masuk ke mulut gua semuanya.." ujarnya.
"Emangnya kontol gua mau dibuat latihan.. Yuk, pulang.." kataku.

"Kalo dengar cerita lu, nggak nyangka lu hebat gitu kaya tadi.. Atau memang permainan lu kaya tadi?" tanyaku heran.
"Itu kan yang lu ajarin sama gua, tadi itu pertama kalinya gue kaya gitu, memang gua pengen naklukin lu.. Jadi usaha keras.. Cowok gua nggak mau gua jilat anusnya, kontolnya kecil, udah masuk semua ke mulut gua, masih belum terlalu penuh"

Lalu kami turun dari apartemen, Della mengenakan kaus oblongku. Rasa kecewa masih menyelimuti perasaanku karena baru kali ini aku tidak 'bekerja' sama sekali hingga kepuasan diriku berkurang. Sesampai di mobil baru dia mengenakan pakaiannya. Sepanjang perjalanan ke rumahnya di kawasan BGV, penisku tak pernah lepas dari tangannya sambil sesekali kepalanya menunduk untuk kembali menjilati kepada penisku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan sisipkan komentar anda dibawah ini