Sabtu, 17 April 2010

nafsu pak kacab...

Sebulan setelah meeting sebelumnya, aku mendapat tugas untuk meeting di Sukabumi. Aku diantarkan dengan kendaraan kantor. Berangkatnya pagi2 sekali, sehingga tibanya tepat sesuai jadwal meeting. Meeting hari itu berjalan lancar, seselesainya meeting kepala cabang Sukabumi, sebut saja pak Kacab, mengajakku ngobrol.

Kantor sudah sepi karena memang sudah lewat waktu karyawan pulang. “Nes, kamu nginep aja malem ini, besok baru kembali”, katanya. “Ines gak dikasi uang untuk nginep karena harus pulang hari, tadi perginya dianter tapi pulangnya harus cari kendaraan sendiri”, jawabku. “Kalo ongkos nginep gak udah dipikirin, nantu aku yang bayarin, besok nanti kamu dianter pulang sama kendaraan cabang yang mau ke jakarta”, katanya lagi. “Terus Ines nginep semalem mau ngapain pak, apalagi Ines sendiri, kan bete gak ada temennya”, jawabku, aku sudah menduga kemana arah pembicaraannya. “Gimana kalo aku yang nemenin kamu malem ini. Aku denger, meeting yang lalu kamu dateng sama oom oom ya, dua orang lagi”, Lanjutnya. “Kok bapak tau sih”, jawabku, kayanya dia mau minta servis nikmat dari aku. “Ya, aku kan punya mata dan telinga dimana2 Nes, jadi taulah kalo kamu bawa oom2 itu nginep, mau ya nginep sama aku”, rayunya. “Nginep sama bapak, emangnya kita mau ngapain”, kataku pura2 tidak tau maksudnya. “Kamu pake pura2 gak tau lagi, kalo nginep sama kamu ya ngapain lagi kalo gak ng*****. Aku napsu liat kamu Nes, aku pengen ng***** sama kamu, mau ya”, katanya to the point, maksa lagi.”Emangnya bapak mau bawa Ines nginep dimana, baik2 ketauan yang lain lo pak, kan mata dan telinga mereka juga ada dimana2″, kataku menirukan perkataannya. “Beres lah soal itu, aku ada tempat yang cukup tersembunyi, aman dari mata dan telinga yang lain, kamu mau ya”, jawabnya mencoba meyakinkan aku. Aku akhirnya menggangguk saja. “Tapi Ines gak bawa baju ganti pak, rencananya pulang hari sih”, kataku lagi. “Kita beli pakaian ganti deh, sebenarnya untuk malem ini kan kamu gak perlu pakaian Nes”, jawabnya sambil tersenyum. Dia mengajak aku ke toko untuk membeli pakaian. Aku membeli pakaian untuk pulang besok. Kemudian kita pergi makan malam, dari situ baru meluncur ke hotel yang dia maksud. Tempatnya dipinggir kota sehingga daerahnya sepi. Hotelnya memang tidak nampak seperti hotel dari luar. “Ini motel ya pak”, tanyaku. “Bukan Nes, hotel tapi lokasinya tersembunyi dari keramaian”, jawabnya. Dia langsung masuk ke garasi dan petugas segera menutup rolling door garasinya. “Aku sudah book satu kamar Nes untuk kita malem ini”, katanya sambil keluar dari mobil. Aku mengikutinya sambil membawa tas yang berisi pakaian yang baru dibeli dan tas kerjaku.

Kita duduk di sofa, dia mengambilkan minuman dan menyalakan TV. Kami tak banyak bicara karena perhatian tertuju ke tv, tapi aku berdebar2 menunggu apa yang akan terjadi. Akhirnya dia pindah duduk di sampingku, menghadapkan tubuhnya ke arahku. “Yang, kamu sudah tahu maksudku kan?” katanya lirih di telingaku. Merinding aku mendengarnya memanggil aku yang, dan aku hanya mengangguk. “Ya pak, Ines tahu, bapak ,,,” belum selesai aku menjawab, kurasakan bibirnya sudah menyentuh leherku, terus menyusur ke pipiku. Tubuhnya bergeser merapat, bibirku dilumatnya dengan lembut. Ternyata dicium pria bibir tebal nikmat sekali, aku bisa mengulum bibirnya lebih kuat dan ketebalan bibirnya memenuhi mulutku. Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangan besarnya membuka kancing bajuku dan kemudian menyelusup kedalam dan meremas lembut toketku yang masih terbungkus bra. Ohh.., toketku ternyata tercakup seluruhnya dalam tangannya. Dan aku rasanya sudah tidak kuat menahan gejolak napsuku, padahal baru awal pemanasan.

Bibirnya mulai meneruskan jelajahannya, sambil melepaskan bajuku, leherku dikecup, dijilat kadang digigit lembut. Sambil tangannya terus meremas-remas toketku. Kemudian tangannya menjalar ke punggungku dan melepas kaitan bra ku sehingga toketku bebas dari penutup. Bibirnya terus menelusur di permukaan kulitku. Dan mulai pentil kiriku tersentuh

lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan. Kadang-kadang seolah seluruh toketku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli tapi nikmat, napsuku makin berkobar karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah selangkanganku. mem*kku yang pasti sudah basah sekali. Lama hal itu dilakukannya sampai akhirnya dia kemudian membuka ristsluiting celana ku dan menarik celanaku ke bawah, Tinggalah CD miniku ku yang tipis yang memperlihatkan jembutku yang lebat, saking lebatnya jembutku muncul di kiri kanan dan dibagian atas dari cd mini itu. Jembutku lebih terlihat jelas karena CD ku sudah basah karena cairan mem*kku yang sudah banjir. Dibelainya celah mem*kku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh itilku karena ketika dielus pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah mem*kku dengan leluasa. Bergetar semua rasanya tubuhku, kemudian CD ku yang sudah basah itu dilepaskannya. Aku mengangkat pantatku agar dia bisa melepas pembungkus tubuhku yang terakhir. Jarinya mulai sengaja memainkan itil-ku. Dan akhirnya jari besar itu masuk ke dalam mem*kku. Oh, nikmatnya, bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan akhirnya sampailah ke mem*kku. Kali ini diciumnya jembutku yang lebat dan aku rasakan bibir mem*kku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali mem*kku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang bibirnya dihisap, kadang itilku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara kedua bibir mem*kku sambil menghisap itilku. Dia benar benar mahir memainkan mem*kku. Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan itilku dengan mulutnya, kuremas-remas rambutnya. Dia terus mencumbu mem*kku, rasanya belum puas dia memainkan mem*kku hingga napsuku bangkit kembali dengan cepat.

“Pak, Ines sudah pengen di*****.” kataku memohon sambil kubuka pahaku lebih lebar. Dia pun bangkit, mengangkat badanku yang sudah lemes dan dibawanya ke ranjang. Aku dibaringkan di ranjang dan dia mulai membuka bajunya, kemudian celananya. Aku terkejut melihat kont*lnya yang besar dan panjang nongol dari bagian atas CDnya. Kemudian dia juga melepas CD nya. Sementara itu aku dengan berdebar terbaring menunggu dengan semakin berharap. kont*lnya yang besar dan panjang dan sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut. Aku merinding apakah muat kont*l segitu besarnya di mem*kku. Dan saat dia pelan-pelan menindihku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar mem*kku menunggu masuknya kont*l extra gede itu. Aku pejamkan mata. Dia mulai mendekapku sambil terus mencium bibirku, kurasakan bibir mem*kku mulai tersentuh ujung kont*lnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir mem*kku terdesak menyamping. Terdesak kont*l besar itu. Ohh, benar benar kurasakan penuh dan sesak liang mem*kku dimasuki kont*lnya. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Mili per mili. Pelan sekali terus masuk kont*lnya. Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus.. Akhirnya ujung kont*l itu menyentuh bagian dalam mem*kku, maka secara refleks kurapatkan pahaku, tapi betapa aku terkejut. Ternyata sangat mengganjal sekali rasanya, besar, keras dan panjang. Dia terus menciumi bibir dan leherku. Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas toketku. Tapi konsentrasi kenikmatanku tetap pada kont*l besar yang mulai dienjotkan halus dan pelan. Mungkin dia menyadarinya, supaya aku tidak kesakitan. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat yang belum pernah kualami. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan kont*l besar itu. Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa aku semakin hanyut. Maka makin gencar dia melumat bibirku, leherku dan remasan tangannya di toketku makin kuat. Dengan tusukan kont*lnya yang agak kuat dan dipepetnya itilku dengan menggoyang goyangnya, aku menggelepar, tubuhku mengejang, tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. mem*kku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang belum pernah kualami. Ohh, aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan. “Paaak, Ines nyampe paak”, Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku. Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku nyampe dalam waktu relatif singkat, namun terasa nyaman sekali, Dia membelai rambutku yang basah keringat. Kubuka mataku, Dia tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti hentinya toketku diremas-remas pelan.

Tiba tiba, serangan cepat bibirnya melumat bibirku kuat dan diteruskan ke leher serta tangannya meremas-remas toketku lebih kuat. Napsuku naik lagi dengan cepat, saat kembali dia mengenjotkan kont*lnya semakin cepat. Uhh, sekali lagi aku nyampe, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali aku berteriak lebih keras lagi. Dia terus mengenjotkan kont*lnya dan kali ini dia ikut menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram lenganku dan satunya menekan toketku. Aku makin meronta-ronta tak karuan. Puncak kenikmatan diikuti semburan peju yang kuat di dalam mem*kku, menyembur berulang kali. Oh, terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi mem*kku, hangat sekali dan terasa sekali peju yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat. Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya tetap meremas lembut toketku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku.

“Yang, kamu luar biasa, mem*kmu peret dan nikmat sekali”, pujinya sambil membelai dadaku. “Bapak juga hebat. Bisa membuat Ines nyampe beberapa kali, dan baru kali ini Ines bisa nyampe dan merasakan kont*l raksasa. Hihi..” “Jadi kamu suka dengan kont*lku?” godanya sambil menggerakkan kont*lnya dan membelai belai wajahku. “Ya pak, kont*l Bapak nikmat, besar , panjang dan keras banget” jawabku jujur. Dia memang sangat pandai memperlakukan wanita. Dia tidak langsung mencabut kont*lnya, tapi malah mengajak mengobrol sembari kont*lnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai rambutku dan paling suka membelai toketku. Aku merasakan pejunya yang bercampur dengan cairan mem*kku mengalir keluar. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, pelan-pelan kont*l yang telah menghantarkan aku ke awang awang itu dicabut sambil dia menciumku lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya. Dia kemudian memutar lagu classic sehingga tertidurlah aku dalam pelukannya, merasa nyaman dan benar-benar aku terpuaskan dan merasakan apa yang selama ini hanya kubayangkan saja.

Aku bangun masih dalam pelukannya. Katanya aku tidur nyenyak sekali, sambil membelai rambutku. Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Dibimbingnya aku ke kamar mandi, saat berjalan rasanya masih ada yang mengganjal mem*kku dan ternyata masih ada peju yang mengalir di pahaku, mungkin saking banyaknya dia mengecretkan pejunya di dalam mem*kku. Dalam bathtub yang berisi air hangat, aku duduk di atas pahanya. Dia mengusap-usap menyabuni punggungku, dan akupun menyabuni punggungnya. Dia memelukku sangat erat hingga dadanya menekan toketku. Sesekali aku menggeliatkan badanku sehingga pentilku bergesekan dengan dadanya yang berbulu dan dipenuhi busa sabun. Pentilku semakin mengeras. Pangkal pahaku yang terendam air hangat tersenggol2 kont*lnya. Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali. Aku di tariknya sehingga menempel lebih erat ke tubuhnya. Dia menyabuni punggungku. Sambil mengusap-usapkan busa sabun, tangannya terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air. Dia mengusap-usap pantatku dan diremasnya. kont*lnya pun mulai ngaceng ketika menyentuh mem*kku. Terasa bibir luar mem*kku bergesekan dengan kont*lnya. Dengan usapan lembut, tapak tangannya terus menyusuri pantatku. Dia mengusap beberapa kali hingga ujung jarinya menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan mem*kku. “Bapak nakal!” desahku sambil menggeliat mengangkat pinggulku. Walau tengkukku basah, aku merasa bulu roma di tengkukku meremang akibat nikmat dan geli yang mengalir dari mem*kku. Aku menggeliatkan pinggulku. Ia mengecup leherku berulang kali sambil menyentuh bagian bawah bibir mem*kku. Tak lama kemudian, tangannya semakin jauh menyusur hingga akhirnya kurasakan lipatan bibir luar mem*kku diusap-usap. Dia berulang kali mengecup leherku. Sesekali lidahnya menjilat, sesekali menggigit dengan gemas. ”Aarrgghh.. Sstt.. Sstt..” rintihku berulang kali. Lalu aku bangkit dari pangkuannya. Aku tak ingin nyampe hanya karena jari yang terasa kesat di mem*kku. Tapi ketika berdiri, kedua lututku terasa goyah. Dengan cepat dia pun bangkit berdiri dan segera membalikkan tubuhku. Dia tak ingin aku terjatuh. Dia menyangga punggungku dengan dadanya. Lalu diusapkannya kembali cairan sabun ke perutku. Dia menggerakkan tangannya keatas, meremas dengan lembut kedua toketku dan pentil ku dijepit2 dengan jempol dan telunjuknya. Pentil kiri dan kanan diremas bersamaan. Lalu dia mengusap semakin ke atas dan berhenti di leherku. “Pak, lama amat menyabuninya” rintihku sambil menggeliatkan pinggulku. Aku merasakan kont*lnya semakin keras dan besar. Hal itu dapat kurasakan karena kont*lnya makin dalam terselip di pantatku. Tangan kiriku segera meluncur ke bawah, lalu meremas biji pelernya dengan gemas. Dia menggerakkan telapak kanannya ke arah pangkal pahaku. Sesaat dia mengusap usap jembut lebatku, lalu mengusap mem*kku berulang kali. Jari tengahnya terselip di antara kedua bibir luar mem*kku. Dia mengusap berulang kali. Itilku pun menjadi sasaran usapannya. “Aarrgghh..!” rintihku ketika merasakan kont*lnya makin kuat menekan pantatku. Aku merasa lendir membanjiri mem*kku.Aku jongkok agar mem*kku terendam ke dalam air. Kubersihkan celah diantara bibir mem*kku dengan mengusapkan 2 jariku.

Ketika menengadah kulihat kont*lnya telah berada persis didepanku. kont*lnya telah ngaceng berat. “Pak, kuat banget sih bapak, baru aja ngecret di mem*k Ines sekarang sudah ngaceng lagi”, kataku sambil meremas kont*lnya, lalu kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala kont*lnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika aku menjilati kepala kont*lnya. Dia meraih bahuku karena tak sanggup lagi menahan napsunya. Setelah berdiri, kaki kiriku diangkat dan letakkan di pinggir bath tub. Aku dibuatnya menungging sambil memegang dinding di depanku dan dia menyelipkan kepala kont*lnya ke celah di antara bibir mem*kku. ”Argh, aarrgghh..,!” rintihku. Dia menarik kont*lnya perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Bibir luar mem*kku ikut terdorong bersama kont*lnya. Perlahan-lahan menarik kembali kont*lnya sambil berkata “Enak yang?” “”Enaak banget pak”, jawabku!” Dia menenjotkan kont*lnya dengan cepat sambil meremas bongkah pantat ku dan tangan satunya meremas toketku. “Aarrgghh..!” rintihku ketika kurasakan kont*lnya kembali menghunjam mem*kku. Aku terpaksa berjinjit karena kont*l itu terasa seolah membelah mem*kku karena besarnya. Terasa mem*kku sesek kemasukan kont*l besar dan panjang itu. Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia mengenjotkan kont*lnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal pahanya berbenturan dengan pantatku. “Aarrgghh.., aarrgghh..!Pak.., Ines nyampe..!” Aku lemas ketika nyampe lagi untuk kesekian kalinya.Rupanya dia juga tidak dapat menahan pejunya lebih lama lagi. “Aarrgghh.., Yang”, kata nya sambil menghunjamkan kont*lnya sedalam-dalamnya. “Pak.., sstt, sstt..” kataku karena berulangkali ketika merasa tembakan pejunya dimem*kku. “Aarrgghh.., Yang, enaknya!” bisiknya ditelingaku. “Pak.., sstt.., sstt..! Nikmat sekali ya di***** Bapak”, jawabku karena nikmatnya nyampe. Dia masih mencengkeram pantatku sementara kont*lnya masih nancep dimem*kku. Beberapa saat kami diam di tempat dengan kont*lnya yang masih menancap di mem*kku. Kemudian Dia membimbingku ke shower,menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat.

Setelah selesai dia keluar duluan, sedang aku masih menikmati shower. Selesai dengan rambut yang masih basah dan masih bertelanjang bulat, aku keluar dari kamar mandi. Ternyata Dia sudah menyiapkan makan siang berupa sandwich dan kentang goreng yang dibelinya tadi lengkap dengan soft drink dingin di meja dekat sofa. Aku dipersilakan minum dan makan sambil mengobrol, makan siang dan diiringi lagu lembut. Walaupun sudah makan malam, tapi dikerjain si bapak membuatku laper lagi, rupanya enersiku terkuras habis. Setelah aku makan, dia lalu memintaku duduk di pangkuannya. Aku menurut saja. Terasa kecil sekali tubuhku. Sambil mengobrol, aku dimanja dengan belaiannya. Diraihnya daguku, dan diciumnya bibirku dengan hangatnya, aku mengimbangi ciumannya. Dan selanjutnya kurasakan tangannya mulai meremas-remas lembut toketku, kemudian tangannya menelusuri antara dada dan pahaku. Nikmat sekali rasanya, tapi aku sadar bahwa sesuatu yang aku duduki terasa mulai agak mengeras. Ohh, langsung aku bangkit. Aku bersimpuh di depannya dan ternyata kont*lnya sudah mulai ngaceng, walau masih belum begitu mengeras. Kepala kont*lnya sudah mulai sedikit mencuat keluar dari kulupnya lalu ku raih, ku belai dan kulupnya kututupkan lagi. Aku suka melihatnya dan sebelum penuh ngacengnya langsung aku kulum kont*lnya. Aku memainkan kulup kont*l yang tebal dengan lidahku. Kutarik kulup ke ujung, membuat kepala kont*lnya tertutup kulupnya dan segera kukulum, kumainkan kulupnya dengan lidahku dan kuselipkan lidahku ke dalam kulupnya sambil lidahku berputar masuk di antara kulup dan kepala kont*lnya. Enak rasanya. Tapi hanya bisa sesaat, sebab dengan cepatnya kont*lnya makin membengkak dan dia mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh. “Pak hebat ya sudah ngaceng lagi, kita lanjut yuk pak”, kataku yang juga sudah terangsang. Rupanya dia makin tak tahan menerima rangsangan lidahku. Maka aku ditarik dan diajak ke tempat tidur. Dia menghidupkan lampu sorot di atas tempat tidur. Sebenarnya aku agak malu, tapi sudahlah, paling dia juga ingin melihat dengan jelas mem*kku. Dan ternyata benar, kakiku ditahannya sambil tersenyum, diteruskan dengan membuka kakiku dan dia langsung menelungkup di antara pahaku. “Aku suka melihat mem*k kamu yang” ujarnya sambil membelai bulu jembutku yang lebat. “Mengapa?” “Sebab jembutmu lebat dan cewek yang jembutnya lebat napsunya besar, kalau di***** jadi binal seperti kamu, juga tebal bibirnya”. Aku merasakan dia terus membelai jembutku dan bibir mem*kku. Kadang-kadang dicubit pelan, ditarik-tarik seperti mainan. Aku suka mem*kku dimainkan berlama-lama, aku terkadang melirik apa yang dilakukannya. Seterusnya dengan dua jarinya membuka bibir mem*kku, aku makin terangsang dan aku merasakan makin banyak keluar cairan dari mem*kku. Dia terus memainkan mem*kku seolah tak puas-puas memperhatikan mem*kku, kadang kadang disentuh sedikit itil-ku, membuat aku penasaran. Tak sadar pinggulku mulai menggeliat, menahan rasa penasaran. Maka saat aku mengangkat pinggulku, langsung disambut dengan bibirnya. Terasa dia menghisap lubang mem*kku yang sudah penuh cairan. Lidahnya ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk mem*kku, dan saat dihisapnya itil-ku dengan ujung lidahnya, cepat sekali menggelitik ujung itil-ku, benar benar aku tersentak. Terkejut kenikmatan, membuat aku tak sadar berteriak.. “Aauuhh!!”. Benar benar hebat dia merangsangku, dan aku sudah tak tahan lagi. “Ayo dong pak, Ines pingin di***** lagi” ujarku sambil menarik bantal.

Dia langsung menempatkan tubuhnya makin ke atas dan mengarahkan kont*l gedenya ke arah mem*kku. Aku masih sempat melirik saat dia memegang kont*lnya untuk diarahkan dan diselipkan di antara bibir mem*kku. Kembali aku berdebar karena berharap. Dan saat kepala kont*lnya telah menyentuh di antara bibir mem*kku, aku menahan nafas untuk menikmatinya. Dan dilepasnya dari pegangan saat kepala kont*lnya mulai menyelinap di antara bibir mem*kku dan menyelusup lubang mem*kku hingga aku berdebar nikmat. Pelan-pelan ditekannya dan dia mulai mencium bibirku lembut. Kali ini aku lebih dapat menikmatinya. Makin ke dalam.. Oh, nikmat sekali. Kurapatkan pahaku supaya kont*lnya tidak terlalu masuk ke dalam. Dia langsung menjepit kedua pahaku hingga terasa sekali kont*lnya menekan dinding mem*kku. kont*lnya semakin masuk. Belum semuanya masuk, Dia menarik kembali seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulku naik mencegahnya agar tidak lepas. Beberapa kali dilakukannya sampai akhirnya aku penasaran dan berteriak-teriak sendiri. Setelah dia puas menggodaku, tiba tiba dengan hentakan agak keras, dipercepat gerakan mengenjotnya hingga aku kewalahan. Dan dengan hentakan keras serta digoyang goyangkan, tangan satunya meremas toketku, bibirnya dahsyat menciumi leherku. Akhirnya aku mengelepar-gelepar. Dan sampailah aku kepuncak. Tak tahan aku berteriak, terus Dia menyerangku dengan dahsyatnya, rasanya tak habis-habisnya aku melewati puncak kenikmatan. Lama sekali. Tak kuat aku meneruskannya. Aku memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terkuras tenagaku dengan orgasme berkepanjangan. Akhirnya dia pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatnya. Aku terkulai lemas sekali, keringatku bercucuran. Hampir pingsan aku menerima kenikmatan yang berkepanjangan. Benar-benar aku tidak menyesal ng***** dengan dia, dia memang benar-benar hebat dan mahir dalam ng*****, dia dapat mengolah tubuhku menuju kenikmatan yang tiada tara.

Lamunanku lepas saat pahanya mulai kembali menjepit kedua pahaku dan dirapatkan, tubuhnya menindihku serta leherku kembali dicumbu. Kupeluk tubuhnya yang besar dan tangannya kembali meremas toketku. Pelan-pelan mulai dienjotkan kont*lnya. Kali ini aku ingin lebih menikmati seluruh rangsangan yang terjadi di seluruh bagian tubuhku. Tangannya terus menelusuri permukaan tubuhku. Dadanya yang berbulu merangsang dadaku setiap kali bergeseran mengenai pentilku. Dan kont*lnya dipompakan dengan sepenuh perasaan, lembut sekali, bibirnya menjelajah leher dan bibirku. Ohh, luar biasa. Lama kelamaan tubuhku yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Aku berusaha menggeliat, tapi tubuhku dipeluk cukup kuat, hanya tanganku yang mulai menggapai apa saja yang kudapat. Dia makin meningkatkan cumbuannya dan memompakan kont*lnya makin cepat. Gesekan di dinding mem*kku makin terasa. Dan kenikmatan makin memuncak. Maka kali ini leherku digigitnya agak kuat dan dimasukkan seluruh batang kont*lnya serta digoyang-goyang untuk meningkatkan rangsangan di itil-ku. Maka jebol lah bendungan, aku mencapai puncak kembali. Kali ini terasa lain, tidak liar seperti tadi. Puncak kenikmatan ini terasa nyaman dan romantis sekali, tapi tiba tiba dia dengan cepat mengenjot lagi. Kembali aku berteriak sekuatku menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, aku meronta sekenaku. Gila, batinku, dia benar-benar membuat aku kewalahan. Kugigit pundaknya saat aku dihujani dengan kenikmatan yang bertingkat-tingkat. Sesaat dia menurunkan gerakannya, tapi saat itu dibaliknya tubuhku hingga aku di atas tubuhnya. Aku terkulai di atas tubuhnya.

Dengan sisa tenagaku aku keluarkan kont*lnya dari mem*kku. Dan kuraih batang kont*lnya. Tanpa pikir panjang, kont*l yang masih berlumuran cairan mem*kku sendiri kukulum dan kukocok. Dan pinggulku diraihnya hingga akhirnya aku telungkup di atasnya lagi dengan posisi terbalik. Kembali mem*kku yang berlumuran cairan jadi mainannya, aku makin bersemangat mengulum dan menghisap sebagian kont*lnya. Dipeluknya pinggulku hingga sekali lagi aku orgasme. Dihisapnya itil-ku sambil ujung lidahnya menari cepat sekali. Tubuhku mengejang dan kujepit kepalanya dengan kedua pahaku dan kurapatkan pinggulku agar bibir mem*kku merapat ke bibirnya. Ingin aku berteriak tapi tak bisa karena mulutku penuh, dan tanpa sadar aku menggigit agak kuat kont*lnya dan kucengkeram kuat dengan tanganku saat aku masih menikmati orgasme. “Yang, aku mau ngecret yang, di dalam mem*kmu ya”, katanya sambil menelentangkan aku. “Ya,pak”, jawabku. Dia menaiki aku dan dengan satu hentakan keras, kont*lnya yang besar sudah kembali menyesaki mem*kku. Dia langsung mengenjot kont*lnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dalam beberapa enjotan saja tubuhnyapun mengejang. Pantat kuhentakkan ke atas dengan kuat sehingga kont*lnya nancap semuanya ke dalam mem*kku dan akhirnya crot .. crot ..crot, pejunya muncrat dalam beberapa kali semburan kuat. Herannya, ngecretnya yang ketiga masih saja pejunya keluar banyak, memang luar biasa stamina pak Kacab. Dia menelungkup diatasku sambil memelukku erat2. “Yang, nikmat sekali ng***** sama kamu, mem*k kamu kuat sekali cengkeramannya ke kont*lku”, bisiknya di telingaku. “Ya pak, Ines juga nikmat sekali, tentu saja cengkeraman mem*k Ines terasa kuat karena kont*l bapak kan gede banget. Rasanya sesek deh mem*k Ines kalau bapak neken kont*lnya masuk semua. Kalau ada kesempatan, Ines di***** lagi ya pak”, jawabku. “Ya sayang”, lalu bibirku diciumnya dengan mesra.

Aku tertidur dengan penuh rasa nikmat. Besoknya aku terbangun ketika matahari sudah tinggi, kita bebersih, makan pagi dan segera meninggalkan hotel tersebut. DIa mencarterkan aku taksi untuk pulang. Aku sudah menelpon kantor untuk minta ijin tidak masuk kantor dengan alasankurang sehat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan sisipkan komentar anda dibawah ini