Sabtu, 17 April 2010

nikmatnya sarah dan adiknya anita II

Irwan duduk ditepi ranjang kamar Anita sambil merenungi keberuntungan yang bertubi tubi mendatanginya.
Kelelahan disekujur tubuhnya terasa sekali hari ini. Satu hari yang sangat menguras tenaga.
Dengan simpulan senyum dipipinya, Irwan menghisap rokoknya dan merebahkan tubuhnya disamping Anita yang telah lelap terbuai dalam mimpinya.
Perlahan lahan mata Irwan mulai sayu dan semakin dalam semakin menutup hingga akhirnya tidur dengan sisa tenaga dalam tubuhnya.

Fajar menyingsing meninggi di balik jendela kamar Anita... tak terasa waktu begitu cepat berganti.
Seseuatu yang basah namun hangat menyentuh daerah sensitifnya. Menjilat, mengulup terus menerus...

“Mungkin ini hanya sebuah bonus dari mimpiku.” Kata Irwan dalam hatinya. Meski Irwan sedikit menyadari, namun rasa yang sekarang ia rasakan bagaikan sebuah mimpi saja.

Dengan berat mata Irwan mencoba membuka matanya dan menangkap sesosok wanita yang berada tepat dibawahnya dan sedang bermain dengan batang kemaluaannya yang masih lemas karena pertempuran semalam.
Samar samar penglihatan Irwan sedikit mulai pulih, namun Irwan merasa tubuhnya masih begitu lemas terkuras tenaganya. Melirik ke sebelah kanan ternyata Anita yang semula tidur disampingnya kemarin malam telah tiada, ia mencoba melirik jam dinding yang tergantung tak jauh dari jangkauan matanya.
Ternyata Anita sudah berangkat kuliah pagi pagi sebelum Irwan bangun. Anita memang sengaja tidak membangunkan Irwan karena takut menganggu tidurnya yang nyenyak itu. Namun sebelum Anita meninggalkan Irwan didalam kamarnya, Anita kembali menikmati batang kemaluan Irwan sebelum akhirnya ia meninggalkannya tertidur pulas di ranjang yang kemarin bersama Irwan memadu kasih.

“Gila sudah jam 10 siang...” ujar Irwan dalam hatinya.
Teringat kembali kepada sosok wanita yang sedang menikmati batang kemaluannya.
“Siapa dia... Sarah? Tidak mungkin... atau Anita? Tapi Anita berambut panjang lurus... sedangkan saat ini seorang wanita dengan rambut pendek seperti style Demmi moore dengan warna rambut yang merah bata seperti warna rambut Sarah.” Tanya Irwan kepada dirinya sendiri...

Ternyata wanita itu tak lain adalah Ibu Sarah yang selama 4 tahun menjanda dan tak menutup kemungkinan membutuhkan seks juga layak anak anaknya. Sarah dan Anita.

“Oh sudah bangun yah...” . “Maaf yah... tante berbuat seperti ini saat kamu sedang tidur lelap seperti bayi. Habis kamu tertidur dengan telanjang tanpa sehelai baju pun dan adik kamu ini membuat tante ingin merasakan kembali sesuatu yang pernah tante dapatkan waktu dengan papanya Sarah.” Ujar ibunya Sarah setelah menyadari kebangunannya Irwan tadi karena ulahnya.
Maria adalah seorang janda denga umur 30 tahun. Menjanda karena kematian suaminya 4 tahun yang silam. Selama 4 tahun itu Maria hanya dapat menahan segala letupan birahi yang terkadang datang dan tak tersalurkan sebagaimana mestinya.
Maria dengan postur tubuh yang masih kenjang. Itu semua karena Maria merupakan salah satu guru senam erobik disalah satu gym kebugaran yang berada di bilangan Jakarta Selatan.
Maria memiliki sepasang buah dada yang tak begitu besar seperti anak anaknya, namun segala latihan remasan Maria setiap akan mandi. Buah dadanya semakin padat dan membusung keluar hingga membentuk sebuah belahan diantara himpitan bra 34 C yang ia kenakan.
Melihat putih kulitnya dan bentuk lekuk tubuh yang begitu bersih. Hmmmm... laki laki manapun tak ingin menyia yiakan wanita secantik Maria. Tubuh aduhai pantat bulat dengan pingang langsing. Bibir merah merekah dengan lesung pipinya. Terkadang di kompleknya saja Maria sempat membuat tergila gila oleh para suami tetangganya.
Melihat lenggokkan jalannya saja mampu membangunkan kejantanan yang baru tertidur, apalagi kalau melihatnya seperti ini. Sedang mengulup batangan laki laki. Unbelieved.

“Maaf yah buat kamu jadi bangun lagi... habis itunya bikin tante gemes liatnya. Mengoda sekali gitu.”

“Hmmm... kalau tante suka. Irwan juga mau cicipin rasanya tante...”

“Aduh terima kasih yah... kamu mau memberi tante kepuasan.” Ujar Maria yang langsung mengapai batang kemaluan Irwan untuk kembali dimasukkan ke dalam mulutnya.

“Uuuhh... tan. Sungguh nikmatnya mulut tante ini.” Erang Irwan sambil menekan kepala Maria semakin terpendam didalam selangkangannya.

Persenggamahan ini berlangsung tidak begitu lama kurang lebih 1 jam Irwan menyetubuhi Maria dengan berbagai variasi seks. Erangan demi erangan bergema disana... hingga tak sungkan sungkan Irwan menerobos anus Maria berkali kali. Jeritan teriakan silih berganti, merubah keheningan kamar menjadi teriakan mereka. Bagai anjing yang melolong silih berganti bila malam hari.

“Tan... Irwan mau sampai... Irwan keluarin didalam saja yah... uuuhh... ssshh.” Pinta Irwan sambil mengerang.

“Hmmm... buntingin tante saja Wan. kont*l kamu memang perkasa. Keluarin didalam rahim tante saja. Uuuuhhh.... god damn... its soo real baby. Come on fu*k me... fu*k me... uuuuhh.” Erang Maria yang semakin berkata ngawur mengiyakan permintaan Irwan itu.

“Oooohh....” erang Irwan yang dibarengi dengan dekapan Maria yang mencengkram pundak Irwan diatasnya. “Crooot...Crooot...” keluar juga sperma Irwan untuk yang sesekian kalinya

Setelah memuaskan nafsu seorang janda berusia 30 tahun. Maria. Irwan bergesas menyegarkan badannya dengan membilas segala keringat keringat yang keluar dari tubuhnya.
Bergegas Irwan mengenahkan pakaiannya dan berangkat menuju kantornya dengan mengunakan mobil Jaguarnya yang ternyata Maria gunakan untuk pulang. Namun Sarah ternyata tak ikut pulang. Ia harus tetap tinggal dirumah sakit untuk menjaga pamannya yang sedang dalam keadaan krisis itu karena kecelakaan lalu lintas.

******

“Pak Irwan... sepertinya kita diikuti dari belakang pak. Dua polwan itu terus mengutit kita sedari tadi pak.” Kata seorang kaki tangan Irwan yang ternyata membantu Irwan selama ini menyeludupkan narkotika dari berbagai negara dengan berkedokkan perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor.

“Tenang saja... Hmmm sepertinya mereka cantik cantik juga yah...” sahut Irwan sambil melihat kearah spion mobilnya.

“Kita jebang mereka Ton... kita bawa mereka kesebuah kawasan yang sepi. Biar mereka merasa kebinggungan dengan ulah kita... hahahaha...” kata Irwan kepada Tonny sahabat karib sekaligus kaki tangannya.

Jauh dari sana, beberapa kilometer. Disebuah kantor kepolisian divisi bagian Narkotika.

“Rusa betina... rusa betina... disini Rusa jantan memanggil. Sekarang laporkan perkembangan kalian. Dimana lokasi kalian sekarang agar kami dapat memantau perkembangan pengintaian kalian dari sini.” Ujar kapten Blaze yang mengetuai penyelidikan itu.

Selain itu kapten Blaze atau juga suka disebut dengan Blazing juga diperbantukan oleh kedua sahabatnya yaitu letnan 1 Crayon dan letnan 2 Hsun. Kapten Blaze juga mendapat dukungan sepenuhnya oleh komisaris kepolisian ditempatnya yang merupakan sahabat karibnya juga. Lexius.
Kapten Blaze merupakan tripikal pria yang tinggi tegap dengan paras yang mungkin membuat wanita mabuk tempayan bila menolehnya. Blaze berasal dari keluarga kepolisian dan turun menurun.
Letnan 1 Crayon laki laki dengan face muka yang mencirikan seorang laki laki yang cool dengan segala penampilannya, tak ingin kalah dengan sahabatnya Blaze. Dalam segala hal mereka pasti bertanding untuk mendapatkannya. Begitu juga soal wanita.
Sedangkan Letnan 2 Hsun. Hsun merupakan tripikal yang tak ingin mengusik urusan orang lain. Lebih berdiam diri, tak banyak berbicara namun banyak bertindak. Terkadang kesan diam ini membuat sebagian wanita menjadi tergila gila olehnya.

“Kepada pusat. Disini rusa betina melapor..... ccccckckckkckckc.” Kata Tamara yang ternyata tiba tiba radio penghubung terputus karena terganggu oleh sesuatu yang terdapat didaerah yang agak terpencil itu.

Karena terus memperhatikan kendaraan Jaguar yang ada didepan mereka. Polwan Tamara dan Polwan Naffa akhirnya kehilangan kontak dengan pusat kepolisian dan mereka tersesat di sebuah pabrik gula yang sudah berusia puluhan tahun tak berproduksi lagi.
Dalam kebingungan Naffa terus memutar mutar tombol frekwensi terus menerus berharap dapat kembali terhubung oleh atasan mereka. Tamara bertanya tanya “mengapa mereka bisa tiba disini dan kemana sekarang mobil Jaguar sialan tersebut.”
Berjarak beberapa meter disekeliling mobil mereka berdua. Muncul bersamaan sejumlah orang orang yang tak mereka kenal dan yang pasti merupakan anak buah Irwan yang menjadi otak mafia ini.
Diantara barisan itu keluar 2 orang dengan tinggi badan yang sama namun salah satunya memiliki tubuh yang sangat kekar dan berurat lebih kekar dibandingkan yang satunya. Samar samar penglihatan Tamara dan Naffa dapat menangkap kehadiran 2 pria yang bertepuk tangan dan tertawa senang karena dapat menjebak mereka disini.
Tak lain dan tak bukan adalah Rambo kaki tangan Irwan yang memiliki badan yang lebih kekar dibandingkan dengan Irwan.
Di hadapannya segerombolan orang itu semakin lama semakin mendekat ke arah mereka. Dan kemudian terdengar suara yang bercampur tawa seorang laki laki yang agak mengejek.

“Hahahahaha... tak semudah itu kalian bisa menangkapku... tak semudah itu bidadari cantikku...” seru Irwan sambil tertawa dan melirk ke dalam wanita yang ada di mobil itu.

“Jangan macam macam... kami sudah memberitahukan keberadaan kami ke pusat. Jadi mungkin sesaat lagi, kalian semua akan saya penjara kan dalam satu sel.” Gertak Naffa sambil menodongkan pistol dengan khas kepolisian Indonesia itu.

“Hahahaha... dalam keadaan terdesak anda juga masih saja sok hebat. Saya beritahu yah. Disini tak akan ada satu sinyal apapun yang dapat menembus wilayah ini. Telphone seluler sekali pun.” Bentak Irwan menjelaskan kebodohan mereka yang mengertaknya.

“Sekarang lebih baik kalian menyerah, lemparkan pistol kalian masing masing keluar dan keluar dari mobil tersebut. Sebab bila tidak, maka... kalian tahu sendiri. Setiap peluru yang terdapat dalam senjata anak buah saya mungkin akan segera bersarang di dalam tubuh anda. Mungkin saja hari ini hari terakhir kalian melihat matahari terbit.” Ancam Irwan dengan berdiri sambil mengarahkan senjata semi otomatisnya ke arah Naffa dan Tamara di dalam mobil itu.

Naffa maupun Tamara tak goyah begitu saja di gentak oleh mereka. Namun mereka terpaksa melemparkan pistolnya dan menghambur keluar dari mobilnya.
Dengan kedua tangan di angkat. Tamara dan Naffa perlahan melangkah keluar dari mobil Honda Jazz nya.

Tamara merupakan wanita dengan postur badan tinggi langsing yang berisi. Tamara merupakan seorang anggota polwan yang bergabung sejak tahun 1997 dan bercita cita menangkap pengedar narkoba di Jakarta setelah mendapatkan saudaranya meninggal karena over dosis karena kecanduan narkotika.
Tamara merupakan tripikal wanita yang didamba dambakan oleh setiap laki laki. Hingga tak heran Kapten Blade pun sempat jatuh hati kepada Tamara sang wanita pujaan di pusat kepolisian Jakarta.
Tamara memiliki segala hal yang di dambakan setiap wanita. Kulit yang kuning langsat dengan paras jerman – portugis, rambut bergelombang panjang berwarna merah yang slalu ia sanggul hingga menampakkan rambut halus yang ada di belakang leher jenjangnya.
Buah dada yang menawarkan segala rasa kepada laki laki yang menatapnya. Dengan ukuran 36 C mampu membius mata laki laki yang memandangnya, tak menutup kemungkinan Letnan Crayon suka tersandung bila berjalan disamping polwan Tamara ini.
Bongkahan pantat yang tidak begitu besar namun bila diperhatikan dengan seksama saat berjalan... mmmhhh. Rasanya laki laki yang memandangnya akan segera pulang dan mandi kucing dengan istrinya masing masing. Setiap hentakan goyangan pantatnya yang di padu dengan pinggul seksi itu, semua mata akan memandang dan mungkin semua tangan istri akan mendarat di setiap pipi suami mereka masing masing.

Naffa. Seorang wanita yang memiliki tubuh sintal padat. Tinggi badannya sekitar 167 cm dengan perpaduan dada yang membusung berukuran 34 B, bak gitar spanyol teman seprofesi Naffa menyebutnya. Berambut hitam berombak sebahu.
Naffa merupakan campuran ras Jawa – Afganistan. Naffa dilahirkan di Afganistan dan kemudian di besarkan dengan adat yang kental dengan adat Jawa. Naffa memiliki paras ayu khas orang Jawa, meski masih jelas terlihat sisi wanita indo. Pantat yang bulat menungging adalah salah satu anggota tubuh yang ia kagumi, tak heran bila ia dan Tamara mendapat sebuah julukan Polwan terseksi di kantor pusat Kepolisian Jakarta, meski ia sadar jauh disana pasti ada yang lebih mengairahkan dibandingkan dirinya. Setidak tidaknya ia berterima asih kepada Tuhan atas dikaruniai tubuh yang indah ini.

Naffa dan Tamara sebelumnya memiliki profesi jauh lebih beruntung di bandingkan menjadi seorang Polwan. Dengan gaji yang minim serta tugas yang berat harus mereka laksanakan setiap saat. Sebelumnya naffa dan Tamara merupakan pabrik figur terkenal dilayar kaca, hampir seluruh lapisan masyarakat pasti mengenal wajah canti mereka di layar televisi. Entah mengapa mereka akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia kepolisian seperti saat ini. Mungkin ini semua merupakan takdir mereka.

Dengan cekatan 2 diantara 10 anak buah Irwan bergegas merampas pistol yang di lemparkan Naffa dan Tamara. Menyingkirkannya lebih jauh dari jangkauan mereka berdua.
Suasana semakin gelap ditengah tembok beton dalam pabrik gula yang lama telah tutup. Naffa dan Tamara semakin putus asa dan bertanya bagaimana dengan nasib mereka ditangan Irwan dan Rambo serta ke 10 anak buahnya.
Harapan semakin sirna untuk mereka gapai... perlahan matahari tengelam berganti.
Dalam ruangan yang bergema, terdengar 4 helai rantai turun dan melilit di setiap pergelangan tangan mereka. Kaki tangan mereka terikat dan ditarik dari arah yang berlawanan. Dengan posisi tubuh berbentuk X Naffa dan Tamara putus asa dan berpasrah terhadap aksi selanjutnya yang akan menimpa mereka berdua.

Tonny/ Rambo melirik ke kanan dan ke kiri memberikan sebuah aba aba kepada anak buahnya untuk meninggalkan ruangan itu dan berjaga jaga di depan pintu gerbang. Dengan jentikan jari Tonny dalam sekejap mereka mengerti akan isyarat tersebut dan pergi.
Kini hanya tinggal Irwan sang ketua mafia, Tonny kaki tangan Irwan yang terkenal dengan sebutan Rambo. Serta kedua polwan cantik yang berada di hadapannya yang seakan akan berharap suatu mujizat datang untuk menolong mereka lepas dari genggaman musuh mereka ini.
Tonny merupakan tripikal pria yang kasar dan sadis. Tak segan segan ia melukai dan membunuh lawannya bila memang diperintahkan oleh Irwan.

“Wah, Tonn... sepertinya hari ini kita akan pesta nih. 2 polwan cantik yang sebelumnya artis papan atas. Sudah lama aku ingin merasakan kehangatan tubuh gadis ini dengan gratis.” .”Bagaimana menurutmu Tonn... apakah kamu suka dengan salah satu polwan ini.”

“Mhhhh... saya ingin tahu erangannya seberapa kerasnya. Bila saat sesuatu dibawah ini menembus selangkangannya. Hahahaha.” Ujar Tonny sambil menghampiri Naffa dan mengelus selangkangannya yang masih tertutup celana panjang coklat polisi.

Mendengar kata kata itu. Naffa merasa dilecehkan dan memaki maki Tonny serta meludahi wajah Tonny dengan tatapan yag tajam mendendam.

“Kurang Ajar. Jangan kalian sama kan kami dengan wanita wanita murahan yang bisa dengan gampang kamu beli dengan uang harammu. BIADAB... TERKUTUK KALIAN BERDUA...” umpan Naffa yang memaki maki Tonny dengan amarah yang meledak ledak.

“hahahaha... dalam keadaan terikat dan tak berdaya saja mereka masih sok berkuasa... aku ingin tahu. Nanti apa kamu akan menyumpahi aku lagi setelah kau rasakan kejantanan ku ini.” Bentak Tonny sambil merogoh keluarkan batang kemaluannya yang besar berurat itu ke arah Naffa dihadapannya.

“Hahaha... kalau begitu kita mulai saja Tonn... Kelihatannya wanita yang satu ini sudah menginggindan belaian tangan kita hingga di setiap sela sela tubuhnya.” Ujar Irwan menjamah buah dada Tamara dan meremas remas kedua buah dada itu dengan kedua tangannya yang liar menyusup di balik seragam kepolisian.
Dengan beringas Irwan melucuti setiap baju yang menempel di tubuh Tamara. Satu persatu dirobeknya dengan paksa, hingga hanya tersisa segitiga berwarna hitam yang melindungi belahan daging yang berada diantara selangkangannya.
Jilatan lidah Irwan yang beroperasi di kanan dan kiri buah dada Tamara, terkadang diselinggi oleh gigitan halus pada puting susu gadis keturunan Jerman-Spanyol ini. Tak tersisa se inci kulit tubuh Tamara yang terlewati oleh jilatan Irwan.
Perlahan lahan tangan Irwan turun melewati perut yang datar Tamara dan terus hingga menyusup bagaikan cacing yang mencari sesuatu di dalam celana dalam berenda Tamara. Elusan demi elusan Tamara Rasakan. Berusaha mengatup mulutnya dan menahan suara yang takut ia keluarkan. Sebuah rasa yang tak bisa Tamara pungkiri, bahwa Tamara mulai terbuai dengan jari kasar Irwan yang bermain di sela bibir vaginanya. Tak terasa Tamarapun menikmati perlakuan yang menimpa dirinya. Bagaimana kuatnya ia menahan hasrat ini, maka semakin besar pula hasrat itu mendobrak pertahanannya. Ia hanya seorang wanita biasa yang masih memiliki hasrat bersetubuh dengan lawan jenisnya. Apalagi selama 1 tahun ini Tamara tak merasakan belaian laki laki setelah kasus penceraiannya dengan mantan suaminya Rafi, salah satu pengusaha sukses di Jakarta.

“Hahahaha... dasar wanita munafik. Ternyata kamu menginginkannya juga. Ternyata kamu menikmatinya juga.” Seru Irwan sambil menunjukkan lendir bening yang menempel di jari jari Irwan kepada Tamara.

Tamara hanya tertunduk malu tanpa dapat mengangkat kepalanya menatap wajah Irwan karena malu telah terangsang atas perlakuan yang Irwan perbuat pada dirinya.

“Sekarang kalau kamu masih ingin melihat matahati esok pagi dan masih ingin melihat anak mu bermain. Turuti perintah saya... dan saya jamin keselamatan kalian berdua. MENGERTI...” seru Irwan kepada mereka berdua dan membentak Tamara sambil menjenggut rambut panjangnya kebawah hingga terlihat wajah Tamara yang meneteskan air mata malu.

Perlahan Tamara mengangguk dan menyetujui perjanjian itu.

“Sluuup... Sluuup...” jilatan lidah Tonny menyapu bibir vagina Naffa dengan cepat.

“Hahahaha... lihat Wan... lihat yang satu ini. Perhatikan wajahnya. Wajah yang sebelumnya begitu menakutkan.... hahaha... sekaranng tetunduk juga dan tak jauh berbeda dengan para pelacur pelacur pinggir jalan di kawasan Blok M sana.” Tawa Tonny bangga berhasil membuat Naffa merasa tertaklukkan olehnya.
Dilepaskannya kedua rantai yang membelenggu kedua tangan Naffa oleh Tonny. Namun Tonny juga tak ingin mengambil resiko kehilangan mainannya karena kecerobohannya. Diambilnya seutas tali tambang dan kembali dililitkan ke perlenganan tangan Naffa.
Dengan mengacungkan batang kemaluaannya di hadapan Naffa yang menungging di hadapannya. Dengan kasarnya Tonny memaksa Naffa untuk membuka mulut mungilnya dan memasukkan batang kemaluannya itu kedalam mulut Naffa.

“Plak...” sebuah tamparan yang keras mendarat di pipi kiri Naffa yang menolak perintah Tonny, dan... “Plak...” sekali lagi tamparan mengenai pipi kanan Naffa hingga mengeluarkan darah disela bibir Naffa.

“Jangan membuat saya kehilangan kesabaran saya dengan membunuhmu disini... turuti kemauan saya atau kau akan merasakan belati memberikan cacat seumur hidup di kedua pipimu yang mulus ini.” Ancam Tonny sambil mengeluarkan belati yang berada di sela pinggangnya.

Merasa tak berdaya lagi. Naffa akhirnya membuka kedua belah bibirnya perlahan di depan batang kemaluan Tonny yang mengacung yang siap masuk kedalam mulutnya. Naffa menyadari untuk apa ia besih keras menentang disaat keadaannya yang tak berdaya ini. Hanya dapat meneteskan air mata tanpa dapat melakukan perlawanan sama sekali.

Dengan kasar Tonny memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut mungil Naffa. Buas sebuas binatang yang haus akan darah menerjam setiap mangsa dihadapannya.
Sodokan demi sodokan Tonny menghantam mulut Naffa tanpa sedikitpun memberikan Naffa kesempatan untuk mengatur nafas. Dengan memegang kepala naffa, Tonny terus memperkosa mulut polwan tersebut. Setiap hentakan yang di hujam oleh Tonny didalam mulutnya terasa sekali hingga masuk ke tenggorokannya. Memang Naffa tak dapat pungkiri betapa besar dan panjangnya kemaluaan Tonny saat ia pertama kali melihatnya.
setelah merasa puas bermain dengan mulutnya. Tonny melirik sebuah bongkahan yang terjepit diantara pantat Naffa yang bulat mengiurkan. Berjalan membelakangi Naffa yang masih menunggi. Tonny menarik kedua belah pantat bulat Naffa berlawanan.

Erangan demi erangan kini tak malu lagi Tamara keluarkan lewat mulutnya. Meski sempat ia tahan tahan, namun nyatanya kini ia terbuai dengan kejantanan Irwan yang sekarang sedang menyetubuhinya.

“mmmhhh... ssshhh...”
“Bagus... terus. Terus jangan kamu tahan nafsu yang ada dalam dirimu...” ujar Irwan yang memapah tubuh Tamara diatas pinggangnya layaknya mengendong seorang anak kecil.
Suara bergema memenuhi bangunan pabrik tua itu mnejadi begitu ramai oleh sahutan sahutan nafsu yang silih berganti.

“Tonn...” panggil Irwan. “sepertinya aku ingin merasakan keperwanan seoranng polwan yang sekaligus seorang artis seperti Naffa.” Seru irwan sambil mencabut batang kemaluannya dari dalam liang vagina Tamara yang memang sudah menjanda dengan anak satu itu.

“Oh... dengan senang hati Wan... bila kamu mau merasakannya juga kayaknya sih memang masih perawan nih. mem*knya masih rapat Wan.” Ujar Tonny mengiyakan maksud Irwan untuk berganti pasangan.

Dielus elusnya bibir kemaluang Naffa dengan jari jari Irwan membelah atas ke bawah.

“Please jangan ambil Keperawanan saya... saya mohon. Hanya itu yang dapat saya jaga selama ini. Jangan... please...” pinta Naffa dengan mengiba iba untuk di kasihani.

“Kurang aja... dalam saat ini kau masih saja mencoba tawar menawar... kamu pikir sekarang kamu berada dimana... diam dan rasakan saja kont*l ku ini merasakan darah keperawanannmu yang segar ini.” Bentak Irwan sambil menampar kedua belah pantat Naffa hingga memerah.

Digenggamnya batang kemaluan oleh tangannya sebelah kiri dan perlahan lahan di gesek gesek kepala kemaluannya di bibir vagina Naffa yang gemuk montok tanpa bulu sama sekali.
Terasa sebuah sensasi yang lebih nikmat dibandingkan ketika ia menyetubuhi Tamara tadi. Perlahan di tekan kepala kemaluannya membelah bibir yang merapat itu hingga tercuak membuka dan didorong perlahan terus dan terus hingga bibir kemaluan Naffa ikut mengempes masuk kedalam karena besarnya kemaluan Irwan. Naffa hanya dapat berdiam dan pasrah keperawannnya akan terenggut oleh pria asing bukan kekasihnya. Di tempat kumuh ini bukan di malam pertama di atas ranjang pengantin seperti idamannya selama ini. Hanya mengigit bibir Naffa menahan rasa sakit yang begitu amat ia rasakan saat sebuah benda besar panjang berotot memaksa memasuki liang kewanitaannya.

“Aaaakkkkkhhhhhh....” menjerit Naffa sambil mendahakkan kepalanya keatas serta menetes darah keperawanannya di sela sela bibir kemaluannya yang diterjam oleh batang kemaluan Irwan ke dalam liang kewanitaannya, menganjal terhimpit sesak oleh kemaluan Naffa yang perawan itu.

Irwan mendiamkan sejenak kemaluaannya didalam vagina Naffa. Memberikan waktu sesaat untuk vagina Naffa untuk menerima kehadiran miliknya ini.
Remasan remasan Irwan rasakan... otot otot vagina Naffa berkerja memberikan perlawanan meremas dan menghisap kemaluan Irwan.
“Sungguh nikmatnya mem*kmu sayang... uuuhh. Ternyata mem*k mu lebih mengingginkan kehadiran kont*l ku didalam mem*k mu dibandingkan dengan mu.” Ujar Irwan yang merasakan kemenangan sekali lagi berpihak kepadanya.

“BAJINGAN KAMU IRWAN. SUNGGUH KOTOR PERBUATANMU...” umpat Naffa disela sela kemarahanya yang tertahan.

“Hahahaha... silahkan kamu berteriak. Toh... tak ada orang yang akan menolong kalian disini. Dan saya yakin sesaat lagi engkau akan merasakan sensasi kenikmatan yang sebenarnya kamu inginkan dari pertama kali. Tak usah mendusta. Katakan saja bahwa engkau juga mengingginkan perlakuan ini.”

Disisi lain Tamara ternyata sedang berdoggie style dengan Tonny yang menyetubuhinya dari belakang.
Tamara tak semunafik Naffa. Tak malu malu Tamara menuntut kemaluan Tonny untuk memasuki liang kewanitaannya.
Desahan desahan Tamara yang begitu kencang dibarengi oleh liukkan tubuh yang merangsang, membuat Tonny semakin gila menyetubuhi kemaluan Tamara dari belakang. Hentakan hentakan yang dibuat Tonny sungguh membuai Tamara menikmati pemerkosaan ini. Kini Tamara layaknya wanita pemuas nafsu laki laki... terlihat dari caranya. Begitu menikmati setiap perlakuan Tonny terhadap dirinya.

“Uuuhh.... uuuhhhh...” erang Tamara yang semakin liar.
“Katakan dengan jujur siapa yang kamu dambakan saat ini. Ayo katakan yang keras.” Bentak Tonny yang sudah semakin bernafsu melihat Tamara telah menuruti perintahnya.
“kont*l mu... ooohhhh.... sssshhh. Please push... push... more hard baby.” . “God damn... its too big... yeah... uuuhhh.... I like your dick Tonny. Please give me more.... uuuuuhhh....” erang Tamara dalam bahasa Inggris yang membuat Tonny semakin bernafsu lagi.

Ditariknya perlahan batang kemaluan irwan dan tertahan setengah lalu kembali ditusukkan dedalm lagi. Berkali kali hingga Naffa pun bukan hanya menangis namun perlahan suara itu lebih mirip bila dikatakan dengan desahan. Irwan memang pintar memainkan peranannya sebagai permerkosa. Ia dapat membalikkan keinginan seorang wanita yang menolak disetubuhi hingga meminta sebaliknya.
Setiap saat Irwan pura pura akan mengeluarkan seluruh batang kemaluaannya dari dalam vagina Naffa. Dengan cepat Naffa mendorong bokongnya ke belakang menahan batang kemaluan Irwan agar tetap di dalam vaginanya.
Tersirat senyum kemenangan di paras Irwan. Merasa bangga membuat Naffa menjadi tergila gila terhadap perlakuannya.

“Apakah kamu menginginkan lebih dari rasa yang sekarang. Atau kamu lebih memilih menghentikan permainan ini sampai disini saja. Lihat disana.” Tanya Irwan kepada Naffa yang menderu nafasnya karena nafsu. “Lihat patnermu... perhatikan dengan seksama... begitu nikmatnya ia meresapi perlakuan Tonny terhadap dirinya. Apakah kamu tak menginginkan seperti yang dirasakan oleh Tamara. Patner kerjamu.” Bisik Irwan dengan posisi dadanya menempel di atas punggung Naffa.

“Kalau kamu tak menjawab. Maka... yah sudah lah... aku pun telah enggan dan bosan dengan kepura puraan mu...” ujar Irwan memancing sambil menarik seluruh batang kemaluannya keluar dari vagina Naffa.

“Please... jangan perlakukan aku seperti ini. Tolong jangan tinggalkan aku merana disaat seperti ini... please.” Pinta Naffa dengan suara agak mengecil karena malu meminta Irwan untuk melanjutkan pemerkosaan yang sebenarnya tak ia inginkan. Namun di balik dirinya yang liar, ia sangat mendambakan perlakuan seperti ini terhadap dirinya.

“Hahahaha... akhirnya kau dapat mengemis juga meminta belas kasihan kepadaku...”. tawa Irwan meledak ledak merasa senang mendengar ucapan Naffa tadi.

“Sekarang... merangkak lah kesini. Dan tunjukkan bahwa kamu memang benar benar membutuhkan kont*l ku ini untuk kesekian kalinya memasuki mem*kmu itu... tapi bila kau macam macam... maka akupun tak sungkan sungkan menghabisi nyawamu disini dan membuang mayat mu di antara rongsokkan mesin mesin tua disekeliling mu hingga tak ada satu orangpun akan tahu dimana jasad mu berada.” Perintah Irwan sambil duduk di atas bangku kayu jati didepan Naffa yang merangkak, serta mengancam Naffa bila ia mencoba melawan saat Irwan melepaskan seluruh belenggu rantai yang tadi mengikat tangan dan kakinya.

Dengan perlahan Naffa merangkah mendekati irwan yang duduk di depannya. Menurutinya agar melakukan oral terhadap batang kemaluan Irwan yang mengacung gagah ke atas.
Sekitar 10 menit Irwan membiarkan Naffa menikmati batang kemaluannya keluar masuk.
Hingga Irwan akhirnya Irwan menarik tubuh Naffa dan mengangkan kedua pahanya tepat diatas batangannya. Perlahan Naffa menurunkan bokongnya hingga memendamkan seluruh batang kemaluan Irwan kedalam vaginanya.

“Aaaahhhh...” desah Naffa disela vaginannya kembali terganjal penuh oleh batang kemaluan Irwan.
“Bagimana sekarang... sakit...” tanya Irwan kini dengan lembut seperti bertanya kepada kekasihnya Sarah yang sekaligus sekretaris barunya.

Namun Naffa hanya mengelengkan kepalanya dan merangkulkan kedua belah tangannya di leher Irwan.
Naffa pun dengan berirama menaik turunkan pantatnya berirama dengan desahan yang keluar dari mulutnya. Semakin lama semakin cepat... saling bersahutan dengan desahan Tamara di sebelah sisinya yang sedang di setubuhi oleh Tonny.

Lain dari Naffa. Tamara kini memilih posisi women on top. Dengan posisi seperti ini ia dapat menikmati persetubuhan ini dengan fantasi seksnya.
Goyangan pinggul Tamara yang berada di atas Tonny begitu liar. Memaksa batang kemaluan Tonny mengadu adu seluruh dinding vaginanya.
Tonny dapat menikmati sensasi yang dibuat oleh Tamara sambil meremas buah dadanya dan sesekali menarik puting susu tamara yang mengacung keras memerah karena perlakuan Tonny.

“uuuhh... Tonn. Aku... uuuuhhh. Aku tak kuat lagi aku mau keluar.... ooohhhh.... aaaakkkkhhh.” Erangan Tamara yang mencapai puncaknya yang berakhir dengan lengkingan panjang mengakhiri kenikmatan yang ia rasakan.

Melihat Tamara telah terjatuh lemas di atas dadanya. Tonny segera mempercepat sodokan sodokan batangnya kedalam vagina Tamara berkali kali semakin genjar.
Sesaat kemudian Tonny akhirnya merasakan kedutan kedutan hebat di pangkal kemaluaannya dan sesegera menarik keluar dan memndamkan batang kemaluannya kembali ke dalam mulut Tamara yang diakhiri oleh muncratnya sperma Tonny berkali kali didalam mulut Tamara. Ditahannya mulut Tamara agar tetap tertutup rapat dan memaksa Tamara menelan habis spermanya ada didalam mulut Tamara, polwan cantik yang sekaligus wanita dambaan laki laki yang menontonnya di layar lebar.
Merasa spermanya telah habis tertelan maka Tonny merasa bangga melihat wanita secantik Tamara menikmati spermanya tanpa banyak perlawanan yang dilakukan.

“Bagaimana.. nikmatkan. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan kembali kepadku dan kembali meminta aku untuk menyetubuhimu seperti ini. Namun bedanya nanti kamu akan dengan suka rela bukan seperti sekarang ini. Hahahaha....” ujar Tonny melihat tatapan mata Tamara yang sayu setelah lelah didetubuhi olehnya.

“Trus... lebih cepat lagi... katakan kamu adalah pelacur ku... dan kamu dangan mendambakan batang kemaluan ini semenjak kamu melihat ku... katakan.” Perintah Irwan menyuruh Naffa meniru perkataan kotornya sambil berkali kali menampar pantat naffa yang putih bulat itu naik turun naik turun menghampiri kemaluannya berkali kali.

“Iya... saya adalah pelacur kotor yang sangat mengingginkan batang kemaluanmu setiap saat... ah.. ah.. ah..” ulang Naffa meniru meski tak sama.

Tak lama kemudian Naffa pun mencapai puncaknya dengan gerakan makin memburu... semakin cepat dai sebelumnya.

“Aku sampai... oh....aku sammmmppaiiii.... aaaaakkkkhhhh.” Erang Naffa melipatkan kedua belah tangannya kencang di pundak Irwan dan melipatkan kedua pahanya mengunci di pinggang Irwan.

Selang beberapa saat Irwan menyusul memuncratkan spermanya.
Naffa yang merasa akan ada sesuatu memenuhi rahimnya. Dengan sedikit tenaga Naffa mencoba berdiri mencabut kemaluan Irwan yang masih didalam vaginanya. Karena ia sadar, ia tak ingin memiliki seorang anak dari hubungan yang tak seharusnya terjadi.
Sia sia Naffa mencoba memberontak. Bagaimanapun juga tenaga Irwan yang menahan pinggulnya untuk tetap pada posisinya, memaksa rahim Naffa untuk menerima seprotan sperma hangat memenuhi seluruh ruang yang adal didalam vaginanya.

Dengan kesenangan Irwan dan Tonny meninggalkan Naffa bersama Tamara tergeletak tak berdaya kehabisan tenaga.
Tawa mereka berdua memecahkan seisi bangunan tua itu. Mereka keluar dan memerintahkan 10 anak buahnya untuk bergantian menikmati tubuh Naffa dan Tamara yang telah lemas itu.
Bagaikan menemukan emas dalam genggaman masing masing. Ke 10 dari mereka masuk dan kembali mengauli Tamara dan Naffa yang masih lemas tak berdaya didalm sana.

Pemerkosaan itu berakhir hingga siang hari sekitar jam 10 siang. Silih berganti mereka kembali disetubuhi berkali kali oleh 10 anak buah Irwan.
Hampir selama 20 jam Naffa dan Tamara mendapat perlakuan biadad dari anak buah Irwan. Berbagai ukuran, sili berganti memasuki vagina mereka, dan berkali kali vagina mereka dipaksa menerima sperma dari 10 anak buah Irwan.

Sekitar jam 12 tengah hari mereka ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Tubuh yang sebelumnya di dambakan oleh setiap rekan dikepolisian kini, penh dengan luka luka hasil perlakuan kasar anak buah Irwan.
Untunglah Naffa dan Tamara masih bisa diselamatkan nyawanya dan memberikan kesaksian atas perlakuan yang mereka terima selama 20 jam lebih di dalam bangunan pabrik gula tua yag telah tak berproduksi lagi. Meskipun mereka malu menceritakan ini semua, namun demi membalas dendam yang membara kepada Irwan dan Tonny serta antek anteknya. Mereka segal kejadian itu secara jujur.

“Biadad sungguh biadad perlakuan mereka terhadap anggota kita, ini berarti peperangan akan segera dimulai... darah dibalas dengan darah...” seru kapten Blaze kepada letnan 1 Crayon dan letnan 2 Hsun.

Mereka berjanji akan membalas segala perbuatan yang telah mencoreng kepolisian pusat.

Blaze, Crayon dan hsun mengatur segala siasat untuk menangkap Irwan bersama komplotannya dan menghukum mati Irwan dan Tonny.
Namun sebelumnya tentu dengan persetujuan komisaris Lexius yang memberikan perintah secara bijaksana dan gagah berani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan sisipkan komentar anda dibawah ini