Kamis, 15 April 2010

office story ...yani

Jalanku sampai aku bekerja di perusahaan tempatku bekerja sekarang tidaklah mudah. Aku harus melalui pendidikan yang keras melalui penderitaan hidup sampai akhirnya aku dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat S2.

Petualanganku sebenarnya diawali sebelum aku masuk ke perusahaan ini. Aku jatuh cinta pada seorang gadis yang tinggal di pulau Sumatera. Sayangnya dia memanfaatkan cintaku dan mempermainkan perasaanku. Aku baru mengetahui hal ini setelah aku putus dengannya. Aku sangat kecewa karena aku pernah mempertaruhkan nyawaku untuk mendatanginya dengan mengendarai sepeda motorku. Sebuah perjalanan berisiko tinggi melintasi jalur Lintas Timur Sumatera untuk sampai ke tempatnya. Ketika aku sampai di depan rumahnya, ia malah menolakku mentah-mentah. Akupun lalu pulang kembali ke Jakarta dan memutuskan untuk melanjutkan kembali hidupku tanpa dirinya, meskipun suatu saat di masa depan aku akan bertemu lagi dengannya. Bagian ini akan kuceritakan nanti.

Kembali ke Jakarta, akupun berhasil menyelesaikan studiku dan diterima di perusahaan konsultan tempatku bekerja sekarang. Bermodal kemampuan meyakinkan orang, latar belakang pendidikan, dan penampilan yang lumayan, karirku pun melesat dalam waktu singkat. Aku sering ditempatkan pada client yang berada di luar Jakarta, dan dalam waktu yang singkat aku telah menjelajahi Indonesia.

Sayangnya, meskipun karirku baik dan penampilanku tidak dapat dibilang jelek, aku belum menemukan tambatan hati juga. Beberapa wanita yang kudekati selalu hanya mengincar uangku saja. Akhirnya kuputuskan untuk fokus pada karirku dan melupakan sementara keinginanku untuk menambatkan hati.

Ternyata inilah yang membuka jalanku pada petualangan cinta yang kujalani sekarang ini.

Aku masih ingat saat itu pertama terjadi. Ketika itu kami berada pada akhir tahun fiskal dan akupun baru kembali dari penugasan pada sebuah bank nasional yang cukup ternama. Penugasan berlangsung cukup lama dan akupun banyak tertinggal berita di kantor. Pagi pertamaku kembali di kantor, aku berpapasan dengan seorang wanita yang sangat menarik. Wanita itu berkulit putih dengan tinggi kurang lebih 160 cm. Berhidung mancung dan bermata agak sayu. Payudaranya terlihat menantang dibalik blazer abu-abu yang dikenakannya.Kukira-kira ukurannya 34B. Ia melirik ke arahku sesaat lalu membuang kembali pandangannya ke tempat lain sambil tersenyum. Bibir tipisnya sangat indah terlihat saat ia tersenyum. Aku pun lalu bertanya-tanya, siapakah dirinya? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.

Yani, itu namanya. Akhirnya kudapatkan juga info itu dari temanku. Ia baru bekerja dua minggu di tempatku. Pantas saja aku belum pernah melihatnya. Akupun bersemangat mencari info baru tentang dirinya. Akhirnya kudapatkan info tambahan setelah ia menerimaku sebagai temannya di facebook. Tapi hatiku hancur saat itu juga. Yani ternyata telah bersuami dan mempunyai 2 orang anak. Yang mengagumkan adalah badannya tetap terawat dan tidak terlihat seperti telah dua kali melahirkan. Patah hati, akupun memutuskan untuk kembali fokus pada perkerjaan dan karirku.

Sampai kesempatan itupun datang.

Aku mendapat penugasan untuk mengatasi masalah client perusahaan yang berlokasi di Surabaya. Dalam penugasan itu aku mendapat seorang staff. Dan staff yang kudapatkan adalah Yani, si cantik yang telah mencuri perhatianku.

Akhirnya hari keberangkatan kamipun tiba. Sepanjang perjalanan menuju bandara kami membahas tentang client yang kami akan hadapi karena kebetulan aku pernah ditugaskan di client tersebut. Beberapa kali kami bercanda ringan untuk meringankan suasana. Setibanya di Surabaya kami langsung dijemput oleh client kami dan dibawa ke hotel.

Aku tidak tahu apakah aku harus berbahagia atau sebaliknya. Hanya ada satu kamar yang tersedia di hotel karena client kami tidak memperkirakan bahwa kedua konsultan yang dikirim adalah lawan jenis. Aku sempat menawarkan diri untuk tinggal di kos temanku agar Yani dapat tinggal di hotel tetapi kemudian Yani menolaknya. "Kamu kan bisa tidur di sofa. Lagian, aku tidak berani kalau sendirian", kata Yani. Karena memang hotel sedang penuh dan aku juga agak malas mencari hotel lain, akhirnya kuterima saja tawaran Yani. Malam itu tidak ada yang terjadi karena aku juga sedang capai sekali. Sehabis mandi aku langsung tidur di sofa meninggalkan Yani yang sedang menelepon keluarganya sendirian.

Pagi harinya aku terbangun saat matahari mulai memasukki kamar hotel kami. Aku terkejut karena ritsleting celanaku terbuka dan aku juga tidak lagi mengenakan kaosku. Aku menjadi lebih terkejut lagi menemukan Yani yang sedang tertidur hanya mengenakan bra dan celana dalam warna merah. Cahaya matahari yang lembut menyentuh kulitnya membuat wajahnya semakin cantik saat ia terlelap. Akupun tidak langsung bersiap-siap melainkan menghabiskan waktu memandangi wajahnya terlebih dahulu. "Kapan kau bisa jadi milikku Yani", gumamku dalam hati. Ditengah-tengah keasyikanku memandanginya, aku bertanya-tanya, "Apa yang terjadi semalam ya sampai aku sendiri tidak ingat".

Akhirnya aku pun mandi dan bersiap-siap untuk ke tempat client karena waktu yang diberikan perusahaan terbatas. Setelah aku siap, aku menutupi badan Yani dengan selimut, lalu membangunkannya. Hal ini kulakukan karena aku tidak ingin Yani melihatku sebagai orang yang kurang ajar. Lagian, meskipun ia 3 tahun lebih tua dariku, aku adalah atasannya di kantor. "Yan, bangun Yan. Satu jam lagi kita sudah akan dijemput oleh client kita", kataku. "Eh Ricky, sorry, aku keenakan tidur nih hehehe", katanya sambil mengedip nakal. Ingin kucium bibir indahnya saat itu juga, tetapi aku teringat akan tanggung jawab yang harus kita kerjakan hari ini. "Ayo buruan siap- siap, aku tunggu di tempat breakfast ya", kataku pada Yani. "Iya nanti aku nyusul. Jangan dihabiskan ya makanannya", Yani menjawab. "Ok Yan tenang aja. Kalau habis nanti aku beliin yang lain kok hehehe", jawabku. Akhirnya akupun turun dan memakan sarapan pagiku. Tidak lama Yani yang sudah mandi dan berdandan cantik sekali turun dan bergabung denganku. "Yan, kamu mau ketemu client atau mau nge-date sama aku sih? Cantik sekali kamu", godaku. "Ah kamu ini bisa saja. Aku kan cuma mau terlihat baik di depan client kita", Yani lalu menimpaliku. Pagi itu iya terlihat sangat cantik dengan blazer warna cream dipadu dengan rok sepaha warna cokelat tua dan menggunakan kemben hitam. Rambutnya ombaknya diikat pony tail dan parfumnya membuatku ingin mengendus lehernya. Hanya satu kata yang pantas buatnya, cantik.

Sepanjang hari kami menghabiskan waktu di tempat client untuk membantu mereka menyelesaikan masalah terkait risiko teknologi yang mereka hadapi. Kami berdua cukup puas karena pekerjaan dapat selesai hari itu juga meskipun membuat kami berdua harus agak lembur. Sepulang dari kantor client, kami mampir untuk makan. Karena sudah lama tidak makan kambing, aku pun memesan tongseng kambing. Yani lalu memesan makanan yang sama. Kami makan sambil mengobrol. "Kamu kan ganteng Ky, kenapa belum punya pasangan?" tanya Yani padaku. "Ah aku biasa saja kok. Siapa juga yang mau sama aku? Kebanyakan cewek cuma mau uangku saja." timpalku. "Bener lho kamu ganteng. Aku yakin banyak kok yang suka sama kamu. Apalagi...eh ga jadi deh hehehe", kata Yani sambil tersenyum menggoda. "Halah kamu bikin aku jadi malu aja. Aku ga mau sama yang lain soalnya kamu udah punya suami sih..aku kan jadi patah hati..hehehe", candaku. Diluar dugaan, Yani malah menimpali aku. "Memang kamu suka sama aku?", tanya Yani dengan wajah penuh harap. "Ya kamu itu cantik Yan. Baik juga. Kamu juga sexy. Ya tipe pasangan ideal lah. Cuma ya itu kan. Biasanya yang kaya kamu itu udah ada yang ngembat hehehe", aku menjawab. Sebenarnya jawabanku tadi adalah jawaban jujur. Tapi aku tidak berharap banyak karena aku tahu Yani telah bersuami. Akupun lalu menundukkan kepalaku. Saat aku kembali melihat ke arahnya, Yani mendadak mengarahkan pandangannya ke arah lain. Melihat reaksinya yang seperti sedang salah tingkah, akupun mencoba bertanya, "Yan, tadi yang kamu ga jadi bilang apa?". Yani terdiam untuk waktu yang cukup lama lalu ia menjawab, "Sebenarnya Ky, aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama ketemu kamu di kantor. Tapi ya berhubung aku punya suami dan 2 anak, aku ga bisa bikin apa-apa". Aku terdiam mendengarnya. Yani lalu melanjutkan, "Sebenarnya tadi malam, aku ga tahan Ky ngeliat kamu. Jadi waku kamu tidur, celana kamu aku buka lalu aku mengoral kamu sambil masturbasi. Punyamu keras dan besar, aku jadi sangat terangsang tapi aku ga mau kalau kamu ternyata ga ada rasa apa-apa ke aku selain nafsu aja". "Pantas saja", pikirku. Aku lalu berkata, "Yan, aku suka sama kamu tapi aku ga mau ngerusak rumah tangga orang. Aku juga jatuh cinta sama kamu dari pertama aku liat kamu, tapi begitu aku tau kamu udah berkeluarga, aku patah hati gila-gilaan dan mulai lari ke kerjaan lagi, seperti biasa." Yani dan aku sama-sama terdiam. Akhirnya kuputuskan untuk membayar dan kembali ke hotel tempat kami menginap.

Sampai di hotel, kupersilakan Yani untuk mandi terlebih dahulu karena aku masih harus me-review kerjaannya dan mengirimkan laporan akhirnya ke kantor pusat. Kira-kira setengah jam, Yani keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang dililitkan ke badannya. Karena sudah butek dengan kerjaanku, akupun lalu mandi biar aku merasa lebih segar. Aku terkejut saat aku selesai mandi karena Yani telah menungguku di depan pintu kamar mandi, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh indahnya. Payudaranya yang besar dan berputing merah kecoklatan terpampang jelas di hadapan mataku. Lekuk tubuhnya yang indah juga menantangku untuk menjelajahinya. "Aku sayang kamu Ky! Hal ini ga akan merusak rumah tangga aku. Aku hanya ingin merasakan belaian kamu, sekali saja! Malam ini aku punya kamu Ky. Kamu boleh minta apa saja.". Akupun lalu tercengang mendengarnya tapi kemudian Yani mencium bibirku dengan lembut, hangat dan nikmat sekali rasanya. Kontan saja aku langsung membalas ciumannya. Lidah kami saling berkait dan kupeluk mesra Yani malam itu. Yani lalu menghentikan ciumannya dan langsung menciumi leherku, turun ke putingku. Ia menjilati, menghisap, dan menggigit kecil putingku yang membuat kemaluanku membesar di bawah sana. Melihat hal itu, Yani lalu mengelusnya dan mengocoknya pelan. Akupun lalu keenakan dengan kocokannya. Lalu, Yani berlutut dan mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Yani mengulumnya dengan lembut lalu semakin lama semakin kencang sedotannya dan selalu dilakukan seolah-olah Yani dapat membaca pikiranku. Setelah kira-kira 10 menit dioral oleh Yani, aku merasa ada dorongan yang akan keluar dari dalam diriku. Tak sanggup lagi menahannya, aku pun lalu ejakulasi di mulutnya. Yani menyedot habis spermaku dan menelannya. Ia lalu menjilati kemaluanku sampai bersih.

Sekarang giliranku, akupun lalu membaringkan Yani di sofa tempatku tidur. Kumulai dengan menciumi dan menjilati leher jenjangnya hingga Yani mengeliat kegelian. Tak lupa aku melakukannya sambil mengelus-elus payudaranya yang besar. Puas dengan lehernya, akupun langsung turun ke putingnya yang sudah menegang akibat elusanku tadi. Nafas Yani pun sudah semakin berat tanda ia sedang terangsang berat. Kujilat-jilat lembut lingkaran di sekeliling putingnya lalu kujilat putingnya yang sudah tegang itu. Saat kuhisap lembut putingnya, Yani pun menggelinjang keenakan dan mulai mengeluarkan suara-suara eksotis dari mulutnya, "aaahhh....uuuhhhh....aaaahhh! Teruussss...ssayang...teruss...oh yeah!..." Mendengarnya, akupun semakin bersemangat. Bergantian kujilat dan kuhisap puting susunya.

Akupun lalu turun ke pusarnya lalu menciumi dan menjilatinya. Tidak lama lalu aku pun turun ke lembah kenikmatan Yani. Hutan yang menutupinya telah dicukur, sepertinya baru dilakukan sehingga terlihat jelas bentuk indah vagina Yani. Kupandangi sejenak lalu mulai kusentuh perlahan dengan jariku. Terlihat vaginanya telah basah dan clitorisnya menonjol tanda ia terangsang. "Sssshhh...Memangnya vaginaku barang museum ya ampe dipelototin gitu? Ngapain bengong Ky, ayo dong lanjutin lagi...aku juga mau ngerasain keluar kaya kamu tadi...ayo sayang...", kata Yani melihat kelakuanku memandangi vaginanya. "Oh maaf Yan, habis bentuknya indah banget. Aku baru pertama kali ngeliat, sebelumnya aku belum pernah sampai sejauh ini", jawabku. "Oooh jadi aku dapet perjaka kamu ni? Waduh jadi ga enak kamu pertama kali ga sama perawan...ya udah dilanjut dong Ky", jawabnya. Tanpa menjawab aku langsung menjilati clitorisnya yang menonjol, kujilat habis dengan seluruh lidahku. "Ooooh yeahhhhh!! Terus sayang..jilat disitu terus...oh yeah kamu pintar Ky...ayo terus Ky", Yani meracau keenakan. Akupun mulai memasukkan jari tengahku ke lubang kenikmatannya dan kumainkan. Aku mengocoknya, awalnya agak pelan, lalu lama-lama tambah cepat. Yani mulai merem melek dan mengeluarkan suara-suara eksotis dari bibirnya tanda keenakan. Sambil menjilat clitorisnya dan memainkan jariku, kurasakan ada bagian yang menonjol di bagian dalam vaginanya. Kuelus dan agak kupencet dengan jari tengahku dan Yani langsung berteriak, "yessss!! yesss!!" Tampaknya aku menemukan G-spot Yani. Kupencet terus sambil memainkan jilatanku pada clitorisnya. Tak lama pinggang Yani bergetar hebat dan tangannya menarik kepalaku lalu dibenamkan di belahan vaginanya. "Aaaaaaaaaaaaaahhhhhh.....Ricky sayaaaaaaaang....aa...aaa...aaaaku.. ke...ke....lu....aaaaaaaarrr.... aaaaaaaaaaaaahhhhhh", Yani berteriak lalu badannya menegang menahan kenikmatannya..terasa sekali oleh jariku bagaimana cairan kenikmatannya menyemprot bagian dalam vaginanya. Kutarik jariku keluar dan kujilati. Rasanya agak asin dan akhirnya aku merasakan nikmatnya cairan vagina seorang wanita untuk pertama kalinya.

Kujilati seluruh bibir vaginanya lalu kubuka lebar-lebar paha Yani. Kemaluanku sudah kembali menegang dan keras lagi. Yani melihatnya dan mengelusnya. "Pelan-pelan ya Ky, punya kamu jauh lebih besar dari suamiku soalnya. Aku takut sakit kalau buru-buru.", kata Yani. Aku mengangguk dan Yani mengarahkan senjataku ke lubang kenikmatannya yang sudah memerah. Karena ini merupakan pengalaman pertamaku, aku menjadi agak canggung. Kutekan pelan-pelan senjata pusakaku terhadap lubang kenikmatannya. "Aaaaaahhhh...besar banget...pelan-pelan sayang.....oh god enak banget...terusin sayang..." akhirnya kutekan senjataku sampai amblas seluruhnya...rasanya amat nikmat, senjataku seperti diurut-urut oleh dinding vagina Yani. "Aaaaaaaaaaaaaahhhhh.....goooooooooooooddd!! Enak banget punyamu Ky.", Yani menjerit keenakan. Perlahan-lahan akupun mulai menggoyangkan pantatku. Awalnya agak pelan tetapi pasti, lama-kelamaan semakin cepat sehingga menimbulkan bunyi plok..plok..plok.. akibat peraduan pangkal pahaku dengan Yani. "Ow yesss....!!! God...enak banget...knapa aku ga nikah sama kamu si Ky?...terus sayang...terus...harder..haaaarderrr!!!", Yani semakin keenakan. Kira-kira 10 menit aku melakukannya lalu mulai kurasakan pinggul Yani bergetar. "Ooooh sayang aku mau keluar...aaaaaaaaahhhh!! aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh....aku keluar lagi sayang...kamu perkasa sekali...aaahhhh", Yani keluar dan kurasakan senjataku disirami oleh cairan cinta Yani. Pijatan yang kurasakan juga menguat. "Terima kasih sayang. Aku ada di surga dunia sekarang."

"Ayo dong kamu juga keluar", pinta Yani. "Aku mau bikin kamu keluar lagi dulu, kalau bisa sampai kamu lemas, baru aku mau keluar", jawabku. "Hmm..kayanya asik tuh..hehehe mau dong", jawab Yani manja. "Sekarang aku di atas ya Ky" Yani langsung mendorongku ke tempat tidur dan mengambil posisi di atasku. Yani memasukkan penisku ke vaginanya dan menekannya ke bawah sampai seluruhnya tertekan oleh vaginanya. "Oh my god Ky, enak banget...sampe mentok nih...oh yeah....", Yani berkata sambil mulai menggoyangkan pantatnya naik turun. Posisi ini nikmat sekali karena benar-benar terasa pijatan vagina Yani pada penisku. Selain itu payudaranya juga tergantung bebas sehingga bisa kuremas-remas dan sekali-sekali kuhisap. Setelah kira-kira 15 menit, Yani mulai bergetar lagi dan akhirnya mencapai orgasmenya yang kedua dengan jeritan panjang. "Aduh Ky kamu hebat sekali si aku sudah keluar lagi tapi kamu belum ni...kapan dong Ky?", tanya Yani manja.

"Yan, kamu udah pernah anal belum?", tanyaku. "Kamu mau anal Ky? Aku belum pernah soalnya suamiku ga mau. Padahal aku penasaran sekali pengen nyoba. Sering liat di video BF sih. Yuk kita coba. Kan tadi aku bilang kamu boleh minta apa aja. I'm yours baby...", yani menjawab. Yani lalu merubah posisinya menjadi nungging. Dan sesuai yang pernah kubaca di internet, aku lalu meludahi lubang anusnya agar berpelumas karena katanya anal akan sakit sekali jika tanpa pelumas. Perlahan kujilati Anusnya yang wangi sampai Yani bergelinjang kegelian. Tiba-tiba aku berinisiatif memasukkan salah satu jariku dahulu untuk membuka jalan. Saat kumasukkan, Yani mendesah keenakan. "Aaaah enak sayang...terusin..", desahnya. Melihat reaksinya, kukocok jariku dalam lubang anusnya sampai Yani merem-melek keenakan dan mengeluarkan suara-suara erotis. "Ayo sayang coba masukkin..aku udah mau ngerasain nih..", pinta Yani. Aku lalu mengambil posisi dan mulai memasang kondom yang diberikan Yani karena Yani takut kotor bila tak memakai kondom. Saat penisku sudah siap, aku pun melakukan penetrasi anal. Pelan-pelan kumasukkan penisku karena memang anus Yani sangat sempit, jauh lebih sempit dari vaginanya. Yani pun kesakitan. "Aaaaaah sakit sayang..sakit sekali", rintihnya. Aku tak peduli lagi, kudorong penisku sampai amblas seluruhnya di anus Yani. Sensasi yagn kurasakan luar biasa karena penisku serasa disedot-sedot ke dalam, padahal aku belum mulai menggoyangkan badanku. Setelah beberapa saat nampaknya Yani mulai bisa menikmatinya. "Ayo sayang digoyang, tapi pelan- pelan ya", pinta Yani. Tanpa menjawab aku langsung menggoyangkan pantatku maju mundur. Rasanya luar biasa nikmat dan aku yakin Yani juga merasakan hal yang sama jika dilihat dari teriakan dan gerakannya yang semakin liar. Kuremas san sesekali ku-spank pantat Yani yang montok dan sexy itu. Setelah kira-kira 10 menit Yani mulai bergetar hebat lagi lalu menegang...orgasmenya terjadi lagi. Setelahnya Yani terkulai lemas di tempat tidur dengan posisi pantat masih terangkat dan penisku masih ada di anusnya.

Aku lalu mencopot penisku dan melepas kondomnya. Aku mengangkat pantatnya dan sepertinya Yani tau keinginanku untuk melakukan doggie style. Aku memasukkan penisku ke vaginanya yang sudah sangat becek dan mulai menggenjotnya dari belakang. Yani sudah tidak dapat berkata banyak, ia sudah larut dalam nikmatnya permainan cintaku. Kira-kira 10 menit kulakukan posisi itu, kurasakan ada yang mau keluar. "Aaaahhh...Yan aku mau keluar....ke...kel...keluarin dimana ni?", tanyaku. "Di dalem aja Ky, kalau jadi kan aku jadi punya anak dari kamu. Aku mau punya anakmu Ky, aku mau", jawab Yani sambil masih keenakan. Kutekan penisku dalam-dalam ke vagina Yani dan keluarlah spermaku ke dalam rahim Yani. Ternyata pada saat yang bersamaan, Yani juga keluar lagi untuk kesekian kalinya. "Yan, aku keluar Yan...aaaaaaaaaaaaaahhhh....enak banget Yan....", teriakku tertahan. "Aaaaaaah!!! aku juga Ky...my god enak banget Ky", jawabnya. Aku tak tahu berapa banyak spermaku yang tertumpah di rahim Yani. Kita berdua lalu berciuman dan tertidur pulas sambil berpelukan sampai pagi menjelang.

Paginya kita mandi bareng dan langsung sarapan. Setelah itu kita menuju ke bandara karena kita harus balik ke Jakarta. Di perjalanan kita membuat komitmen untuk tidak melakukannya lagi karena Yani sudah bersuami. Aku juga memintanya untuk memberitahuku jika sekiranya ia hamil. Saat kembali ke kantor kami tetap akrab meskipun menjaga jarak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan sisipkan komentar anda dibawah ini