Minggu, 11 April 2010

setengah baya

Sejak remaja, mungkin sejak aku duduk di kelas 3 SMP, aku punya keinginan yang sangat kuat untuk menikmati tubuh wanita. Namun waktu itu aku tidak punya keberanian untuk melakukan atau bahkan sekedar memulai pembicaraan, maklum pengalaman masih nol besar.

Ada beberapa tetanggaku yang sering menjadi fantasiku untuk melepaskan hasrat seksualku. Statusnya tidak menjadi masalah, tapi yang jelas seleraku memang perempuan yang usianya di atasku. Salah satunya adalah Hesti, seorang gadis yang usianya enam tahun di atasku. Rumahnya berselang lima rumah dari rumahku.

Kabar angin yang beredar mengatakan bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Kupikir mungkin saja, karena ia sangat sering keluar malam dengan temannya yang berdandan menor. Mungkin kalau istilah sekarang ia boleh disebut penggemar dugem.

Pada waktu itu di kampungku masih ada beberapa keluarga yang menggunakan kayu bakar untuk memasak. Kadang Hesti membantu tetangga sebelah untuk membelah kayu bakar. Ia paling sering mengenakan daster longgar, sehingga kalau sedang membungkuk membelah kayu bakar buah dadanya kelihatan menggantung seakan mau jatuh. Kalau sudah begitu aku mulai mendekat dan berlagak seolah ikut membantu merapikan kayu bakar. Namun begitu aku hanya berbicara dengannya seperlunya saja, tidak berani atau tidak kepikiran untuk menggoda lebih jauh.

Ketika aku duduk di SMA, Hesti pergi ke Jakarta dan akupun segera melupakannya. Sampai aku lulus kuliahpun boleh dibilang kami tidak pernah bertemu lagi. Paling kalau lebaran hanya ketemu di jalan sambil bersalaman.

*****

Aku mengambil cuti dan pulang kampung untuk menyelesaikan beberapa urusan. Tiga hari aku di kampung dan urusanpun selesai. Rasanya jadi asing juga di kampung. Teman sebaya sudah tidak ada lagi, semua pergi merantau. Anak-anak remaja yang ada sekarang aku tidak banyak mengenalnya karena dulu mereka masih kecil-kecil.

Aku naik bus AC yang akan berangkat ke Jakarta. Penumpang masih terlihat sepi, bus hanya terisi dua pertiganya saja. Mungkin karena bukan musim liburan. Aku duduk menyandar di jendela dan memperhatikan ke luar.

Tiba-tiba ada seorang perempuan yang meletakkan tas ke bagasi di atasku dibantu oleh kernet bus. Kuperhatikan sekilas tidak ada yang istimewa. Perempuan itu mengenakan celana hitam dengan kaus pink longgar. Jaketnya diikatkan di pinggangnya. Namun ketika ia mengatur tasnya di bagasi, otomatis dadanya kelihatan lebih membusung. Hmmh, mata nakalku mulai menikmati pemandangan ini.

"Maaf Pak, boleh saya yang duduk di dekat jendela?" tanya perempuan itu ramah.
"Oh.. Silakan saja. Saya nggak masalah duduk di mana saja kok," sahutku cepat sambil berdiri dan mempersilakannya duduk di dekat jendela.

Lima belas menit kemudian bus diberangkatkan.

"Kemana Mbak?" tanyaku mengawali pembicaraan.
"Ke Jakarta, Mas sendiri ke mana?"
"Sama, ke Jakarta juga. Jakartanya di mana Mbak?".
"Di Sawangan, Depok".

Lumayan jauh juga dari Pulogadung. Bus yang kami naiki hanya sampai di Pulogadung. Kuhitung-hitung kalau perjalanan lancar kami bisa sampai di Jakarta jam 02.00. Terlalu malam untuk seorang perempuan.

"Emang di sini tinggal di mana, Mbak?"

Ia menyebutkan nama kampungnya. Aku tercekat, lho itu kan kampungku juga. Dengan mencuri-curi kuperhatikan perempuan ini lebih teliti. Mukanya sih mirip Hesti, tetanggaku.

"Mas tinggal di mana?"

Kusebutkan sebuah nama kampung, asal saja. Aku belum ingin dikenalnya.

"Oh ya, saya Anto," kataku sambil mengulurkan tangan. Aku tidak menyembunyikan namaku, karena toh banyak orang lain yang namanya Anto.
"Hestini, boleh panggil Tini saja".

Akhirnya kupastikan bahwa perempuan di sampingku ini adalah Hesti tetanggaku.

"Mbak Hesti, eh sorry Tini. Kok sendirian aja?"

Ia mengamatiku sekilas, mungkin terkejut juga dipangil dengan nama Hesti.

"Iya, suami lagi sibuk, nggak bisa ambil cuti. Ini tadi habis nengok anak yang dititip sama neneknya".

Sekitar jam tujuh malam bus sampai di daerah perbatasan Tegal-Cirebon dan berhenti di sebuah rumah makan. Aku turun dan tujuan pertamaku ke toilet untuk buang air kecil. Kulihat Hesti juga sedang antre di toilet wanita. Kutunggu dia dan kuajak untuk makan. Kami makan sedikit saja untuk sekedar mengisi perut agar tidak masuk angin.

Tak lama kemudian bus pun segera berangkat kembali menuju ke Jakarta. Lampu di dalam bus dimatikan, tinggal lampu kecil di dekat toilet saja yang menyala redup. Hesti menggeliat, menggoyangkan badan dan mengenakan jaketnya.

"Dingin ya Mbak Hes.. Eh sorry, bagaimana kalau kupanggil Hesti saja".
"Terserah Mas saja.."

Kami berdiam diri beberapa saat.

"Sampai Pulogadung jam berapa ya Mas?"
"Kalau lancar jam satu atau jam dua dinihari sudah masuk".
"Aduhh, gimana ya. Terlalu malam kalau harus nyambung lagi ke Sawangan".
"Tunggu saja di terminal sampai agak terang barulah berangkat. Kalau masih gelap resiko lho Mbak," kataku menenangkan.

Penumpang yang lain sudah tertidur. Hesti menguap lebar dan menutup mulut dengan tangannya.

"Ngantuk?" tanyaku.
"He.. Eh," jawabnya singkat.
"Silakan tidur saja," kataku sambil menggeser tubuhku agar ia memperoleh tempat yang lebih lebar.

Ia pun kemudian tidur dengan kepala menempel di jendela. Karena guncangan-guncangan di kendaraan, maka kepalanya bergeser dan menyender di bahuku. Aku mulai berpikir dan mengingat masa lalu ketika kuintip buah dadanya dari balik dasternya yang longgar. Kelihatan tidurnya lelap sekali, mungkin kecapekan.

Tangannya yang tadinya disilangkan di depan dadanya mulai lepas dan telapak tangannya menyentuh pahaku. Aliran listrik di tubuhku yang tadinya lemah mulai menguat. Tangannya kuangkat pelan sehingga akhirnya kubuat menggayut di lenganku. Ia masih diam saja dan aku pura-pura juga tidur. Namun pikiran-pikiran lain terus menggangguku.

Hesti menggeliat dan membuka matanya.

"Hh.. Sampai di mana kita?"
"Baru masuk Sukamandi, tidur saja lagi".

Ia menggerakkan tangannya dan kemudian baru tersadar kalau tangannya dalam posisi memeluk lenganku.

"Sorry.. Nggak sengaja, habis tadi ketiduran. Tapi enak juga tidur sambil memeluk lengan".

Ia menarik lengannya. Aku hanya tersenyum saja.

"Boleh kok memeluk lenganku lagi kalau mau," kataku.
"Ihh maunya deh," katanya sambil mencubit pahaku. Namun kemudian tangannya disusupkan ke bawah lenganku dan kembali ia memeluk lenganku.
"Sebentar.. Sebentar, gini saja supaya lebih nyaman," kataku. Kulepaskan lengan kiriku dari pelukannya dan kulingkarkan ke belakang bahunya. Ia tersenyum dan mengusap pipiku dengan jarinya. Jaketnya dilepas dan diletakkan di pangkuannya.

Kini kepalanya menyandar di dadaku. Kuusap-usap bahunya dengan lembut. Ia mendesah lirih dan napasnya terdengar mulai berat dan tertahan. Aku tahu Hesti sudah merasa aman dan nyaman di pelukanku. Tangan kiriku mulai menyusup dari bawah lengan kirinya dan ujung jariku sudah menyentuh pangkal buah dadanya. Ia sedikit mengangkat tangan kirinya memberikan kesempatan kepadaku untuk berbuat lebih jauh lagi. Kepalanya agak mendongak sehingga napasnya hangat menyapu leherku.

Tangan kiriku mulai membuat gerakan berputar di pangkal buah dada kirinya dan terus menuju ke arah putingnya. Jaketnya digeser ke atas pahaku dan tangannya mulai mengusap-usap bagian dalam pahaku, kadang penisku juga diusap dan diremas dari luar celanaku. Dari Ciasem sampai masuk ke terminal Pulogadung kami terus melakukan rabaan dan usapan. Dinginnya AC di dalam bus sudah tidak terasa lagi.

Sebelum masuk ke Pulogadung aku sudah melepaskan pelukanku dan merapikan pakaian. Tak lama lampu dinyalakan dan bus segera masuk ke terminal. Turun dari bus kami disambut dengan hujan rintik-rintik. Kami berteduh di bawah shelter. Kupeluk lagi tubuh Hesti.

"Gimana Hes, kita mau tunggu di sini atau.."
"Ngapain hujan-hujanan di sini. Kita tuntaskan saja apa yang tadi sudah kita mulai sampai besok agak siangan," ia menukasku dan kemudian mencubit pinggangku. Kutatap matanya untuk meyakinkan diriku.
"Tidak usah malu, aku tahu kamu juga menginginkannya kan?" ia berbisik di telingaku.

Kami segera naik ke sebuah taksi dan meluncur ke bilangan Kampung Melayu untuk menyelesaikan urusan kami.

Tak lama kemudian kami sudah berada di kamar hotel. Mukaku terasa kotor dan dengan bercelana dalam saja aku masuk ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menggosok gigi. Tidak afdhal rasanya bercinta dengan mulut yang kurang bersih. Aku sudah berpikir mau mandi tetapi Hesti menyusulku masuk ke kamar mandi dan memelukku dari belakang. Tangannya mengusap dadaku dan kepalanya dan pipinya ditempelkan di punggungku. Sebentar kemudian ia melepaskan pelukannya.

"Cuci penismu dengan sabun sampai bersih dan pinjam sikatmu To," katanya.

Ha? Kalau dipikir pinjam meminjam sikat gigi tidak hygienis, namun sebentar lagi toh kami juga akan bertukar liur. Jadi apa bedanya? Kuberikan sikat gigiku dan iapun menggosok giginya. Kalau soal cuci penis, tentu saja itu sebuah ritual wajib. Aku keluar dari kamar mandi dan berbaring di ranjang. Tak lama Hestipun menyusulku dan berbaring di sebelahku.

Kupeluk dia dan dengan cepat kucium bibirnya. Iapun membalasku dengan penuh gairah. Kuremas dadanya dan kausnya kusingkapkan sampai ke atas buah dadanya. Kubuka seluruh pakaian Hesti dan kini tinggal pakaian dalam saja yang melekat di tubuh kami. Kupandangi sejenak wanita di sampingku ini. Kulitnya tidak begitu putih dengan dada yang sedang tapi masih terlihat kencang.

Dalam keremangan kamar kulihat Hesti menggerak-gerakkan bibirnya untuk menggodaku. Aku mulai mendekatkan bibirku pada bibirnya. Sedikit bau keringat di tubuh kami memancarkan daya rangsang tersediri.

Diterkamnya tubuhku dan ia naik di atas tubuhku. Kemudian dengan cepat kulumat bibir Hesti dan ia mulai terbawa permainan bibirku dan segera membalas lumatanku dengan penuh gairah. Kemudian tanganku mulai bermain di dadanya, menyusup di balik bra-nya. Buah dadanya masih kencang dan bulat, setelah itu langsung kuremas dan kupilin putingnya. Nafas kami mulai berkejaran.

"Eehh..,. Ouhh." Lehernya kukecup dan kujilat.

Tanganku segera bergerak ke punggungnya dan membuka kancing bra-nya. Dengan usapan lembut di bahunya, tanganku dengan pelan melepas tali branya. Buah dadanya yang bulat segera mencuat keluar. Putingnya kecil berwarna coklat muda dan agak keras.



Kudorong lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya. Kujelajahi seluruh bagian di mulutnya dan kemudian lidahku menari di langit-langit mulutnya. Hesti kemudian menggelitik lidahku dan menyedotnya kuat-kuat.

Kemudian ia yang mendorong lidahnya ke dalam rongga mulutku. Bibirnya tipis dan sangat lemas. Ia sangat mahir dalam berciuman. Lidah kami saling bergantian memilin dan menjelajahi mulut. Tangan kananku memijat dan memilin putingnya kemudian meremas gundukan daging payudaranya.

Kuangkat bahunya agar badannya agak ke atas. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kugigit kecil. Ia melenguh dan mengerang. Kepalanya terangkat-angkat dan tangannya meremas-remas bantal di bawah kepalaku.

"Ouhh.. Aacchh, Ayo Anto lagi.. Teruskan lagi.. Teruskan".

Kejantananku yang masih di dalam celana dalam mulai menggeliat. Puting dan payudaranya semakin keras. Kukulum semua gundukan daging payudara kirinya sehingga masuk ke dalam mulutku kemudian putingnya kumainkan dengan lidahku, kemudian mulutku beralih ke payudara kanannya. Napasnya terengah-engah menahan kenikmatan.

Kulepaskan hisapanku pada dadanya. Tangannya mengusap dada, menyusuri perut dan pinggang, kemudian menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus dan mengocok kejantananku. Mulutnya kemudian ikut bermain di dadaku, menjilati dan mengecup putingku. Kepalanya semakin ke bawah dan menjilati perut dan pahaku. Ditariknya celana dalamku ke bawah. Kini aku sudah dalam keadaan telanjang.

Hesti kembali menggerakkan kepalanya ke atas, bibirnya mengecup, menjilati leher dan menggigit kecil daun telingaku. Ia mendesis tepat di lubang telingaku sehingga badankupun jadi merinding. Napasnya dihembuskan dengan kuat. Dia mulai menjilati lubang telingaku. Aku merasakan geli dan sekaligus rangsangan yang kuat. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupeluk dan kuusap pinggangnya kuat-kuat.

Tanganku menarik celana dalamnya dan dengan bantuan pahanya yang bergerak naik maka dengan mudah kulepaskan celana dalamnya. Telunjuk tangan kiriku bermain di selangkangannya. Rambut kemaluannya jarang dan pendek. Kubuka bibir vaginanya dengan jari tengah dan ibu jari. Kubuat gerakan menggaruk di atas permukaannya. Setiap aku menggaruknya Hesti mengerang.

"Oouuhh.. Aauhh.. Ngngnggnghhk"

Kulepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulutnya kembali ke bawah, menjilati bulu dada, puting dan perutku. Kini tangannya yang bermain-main di kejantananku. Bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku. Tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak.

Hesti memutar tubuhnya dan meminta untuk posisi 69. Aku berada di bawah tubuhnya, sementara mulut kami sudah sibuk dengan pekerjaannya. Mulutku menjilati pangkal pahanya yang mengangkang lebar di atasku. Kujilat clitnya dan kujepit dengan bibirku. Sementara itu dengan penuh gairah Hesti menjilat, mengulum dan mengisap penisku.

Setelah mulut kami puas bermain di selangkangan, maka tubuhnya berputar sehingga kami berhadapan muka. Aku berguling sehingga kini Hesti mengangkang di bawahku. Tangannya bermain di bawah perutku. Tanganku meremas payudaranya dan memilin putingnya. Dengan bantuan tangannya kucoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya untuk membantu usahaku. Digesekkan kepala penisku pada bibir vaginanya. Setelah cukup banyak lendirnya ia berbisik "Masukkan To.. Dorong". Kudorong pantatku dengan pelan dan akhirnya batang meriamku bisa masuk dengan lancar ke dalam guanya.

Hesti memelukku dan menciumi daun telingaku. Aku merinding. Dadanya yang padat menekan dadaku. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya.

"Ouhh ayo To.. Aku.. Dorong leebih kuat.. Ayo dorong.."

Aku menurunkan pantatku dan segera penisku sudah tengelam penuh dalam lubangnya.

"To.. Enak sekali, aku.. Oukhh"

Ia memekik kecil, lalu kutekan kemaluanku sampai amblas. Tangannya mencengkeram punggungku. Tidak terdengar suara apapun dalam kamar selain deritan ranjang dan lenguhan kami. Kucabut kemaluanku, kutahan dan kukeraskan ototnya. Pelan-pelan kumasukkan kepalanya saja ke bibir gua yang lembab dan merah. Hesti terpejam menikmati permainanku pada bibir kemaluannya.

"Hggk..". Dia menjerit tertahan ketika tiba-tiba kusodokkan kemaluanku sampai mentok ke rahimnya.

Kumaju mundurkan dengan pelan setengah batang beberapa kali kemudian kumasukkan dengan kuat sampai semua batangku amblas. Hesti menggerakkan pinggulnya memutar dan mengimbangi irama naik turunku sehingga kami bisa sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kejantananku seperti dipelintir rasanya. Kusedot payudaranya dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Hesti seperti menahan sesuatu. Ia memukul-mukul punggungku dan menggigit dadaku dengan liar.

"Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. Anto.. Enak sekali.. Ooh"

Kini kakiku menjepit kakinya. Ternyata vaginanya nikmatnya memang luar biasa, meskipun agak becek namun gerakan memutarnya seperti menyedot penisku. Aku mulai menggenjot lagi. Hesti seperti seekor kuda liar yang tidak terkendali. Keringat membanjiri tubuh kami. Kupacu tubuh kuda betinaku untuk mendaki lereng kenikmatan. Kami saling meremas, memagut, dan mencium. Kubuka lagi kedua kakinya, kini betisnya melilit di betisku. Matanya merem melek. Aku siap untuk memuntahkan peluruku.

"Hesti, aku mau keluar.. Sebentar lagi Hesti.. Aku mau..".
"Kita sama-sama To, Ouououhh..". Hesti melenguh panjang.

Sesaat kemudian..

"Sekarang Hesti. Ayo sekarang.. Ouuhh.." Aku mengerang ketika peluruku muntah dari ujung rudalku.
"Anto.. Agghh" kakinya menjepit kakiku dan menarik kakiku sehingga kejantananku tertarik mau keluar.

Aku menahan agar posisi kemaluanku tetap dalam vaginanya. Matanya terbuka lebar, tangannya mencakar punggungku, mulutnya menggigit dadaku sampai merah. Kemaluan kami saling membalas berdenyut sampai beberapa detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaan menjadi sunyi dan tenang.

Setelah membersihkan badan tanpa mandi, kami tidur berpelukan tanpa busana, Menjelang jam delapan pagi aku terbangun. Setengah terkejut aku membuka mata di tempat yang masih asing, namun tak lama kemudian aku sudah sepenuhnya sadar di mana aku sekarang berada. Hesti masih terpejam di pelukanku. Karena gerakan tubuhku, ia membuka matanya dan menggeliat dan menguap.

"Hmmh. Oouuahh.. Jam berapa sekarang?" bisiknya.
"Jam delapan kurang dikit. Mau pulang sekarang?" tanyaku.
"Tanggung, entar aja sekalian kalau udah puas. Sampai di rumah langsung tidur lagi. Sarapan apa kita pagi ini?"
"Coba kutanya ke resepsionis, biar nanti diantar ke kamar saja sarapannya," kataku sambil meraih telepon untuk menghubungi resepsionis.

Hesti merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Dadanya menekan lenganku. Bibirnya mulai menciumi leherku dan mencari-cari bibirku.

"Sabar say.. Kita.." Kataku.

Belum habis kalimatku terdengar pintu kamar diketuk.

"Room service, sarapannya Pak!"

Aku bangkit dan berlilitkan selimut dan membuka pintu, room boy masuk dan meletakkan sarapan di atas meja. Aku masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Sambil menunggu bathtub terisi penuh, maka kami makan bersama-sama hanya berlilitkan selimut saja. Menunya sederhana saja, nasi goreng dengan daging ayam dan telur mata sapi. Rasanya nikmat sekali, karena perut memang sudah terasa lapar sejak tadi pagi.

Selesai makan kami berendam air hangat di dalam bathtub. Di dalam bathtub kami berciuman dan perlahan-lahan gairah kami berdua mulai bangkit lagi. Sambil bermain busa sabun kami saling meremas dan mengusap tubuh. Meskipun terendam air, penisku perlahan berdiri tegak. Napas kami mulai berkejaran di dalam dada.

Kusabuni payudaranya dan kuremas-remas, sementara ia menyabuni kejantananku dan mengocoknya. Setelah membilas dengan air, maka payudaranya kuisap-isap dan kupermainkan dengan lidahku. Hesti mendesah dan memelukku erat. Ia menciumi leherku. Kulepaskan isapan pada payudaranya dan Hesti pun ganti menyerang dadaku. Mencium dan menjilati putingku bergantian kiri dan kanan.

Mulutnya terus bergerak ke bawah, mengitari pusarku dan semakin ke bawah. Penisku yang kedinginan segera dikulum dan diisapnya. Kepala penisku dijilatinya dan kemudian kembali mengulumnya sampai habis. Buah zakarkupun tak luput dari serangan mulutnya. Sementara mulutnya mengisap buah zakar, maka tangannya memijit dan mengocok batang penisku. Aku meremas rambutnya sambil menahan kenikmatan yang diberikannya pada penisku.

Hesti menindih tubuhku. Dengan tetap berpelukan tanpa sepengetahuan Hesti kucabut sumbat bathtub. Permukaan air mulai menurun dan setelah tinggal sedikit Hesti baru sadar. Ia menatapku dan mengangguk. Aku menangkap kodenya untuk bercinta di dalam bath tub saja.

Perlahan lahan ia menurunkan pantatnya. Kepala penisku dijepit dengan jarinya, dan digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa lembab, hangat dan berair. Dia mengarahkan kejantananku agar masuk ke dalam vaginanya. Hesti merenggangkan kedua pahanya dan sedikit mengangkat pantatnya. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir dalamnya sampai penisku terasa keras sekali. Keadaan lubang vaginanya semakin basah. Hesti menurunkan lagi pantatnya dan penisku segera masuk ke dalam vaginanya.

"Ayolah Hesti, tekan lagi.. Masukin.." Hesti menggoyangkan pantatnya dan kubalas dengan mengencangkan otot perutku.
"Ouhh.. Anto nikmatnya.. Ouhh!" erangnya setengah berteriak.

Hesti bergerak naik turun. Aku mengimbanginya dengan gerakan pinggulku. Pantatnya dinaikkan hingga hanya kepala penisku saja yang menyusup di bibir vaginanya dan dengan cepat pantatnya diturunkan kembali sampai penisku menyentuh dinding rahimnya. Ia menciumku dengan liar kemudian dikecupnya leherku dan bibirnya terus ke bawah menggigit puting dan menarik bulu dadaku.

Kisah dengan Tetangga 1: Hesti - 3
Kategori : Setengah Baya
Hesti kemudian berjongkok dan pantatnya bergerak naik turun, memutar dan maju mundur seperti joki yang sedang memacu kudanya. Payudaranya bergoyang-goyang dan segera kuremas-remas. Aku bergerak menaikkan tubuhku sehingga kini posisiku duduk memangkunya. Payudaranya kupermainkan dengan tangan dan mulutku. Tangannya memegang pahaku, dadanya semakin tegak dan kepalanya mendongak. Tidak ada bagian tubuh atasnya yang kulewatkan. Gerakan pantatnya semakin dipercepat sampai tubuhnya seakan meliuk-liuk.

Aku bangkit berdiri dan kuangkat tubuhnya, tanpa melepaskan penisku dari vaginanya kugendong ke ranjang. Aku ingin menuntaskan di atas ranjang yang empuk. Ternyata sebelum mencapai ranjang penisku terlepas.

Kurebahkan tubuhnya di ats ranjang dengan kaki mengangkang. Aku menjilat pangkal pahanya dan kususuri betis hingga pahanya dan kemudian lidahku sudah menggelitik vaginanya yang kemerahan. Ia semakin menekan kepalaku ke selangkangannya dan meremas-remas rambutku. Sementara itu tanganku bekerja mengusap, meremas dan memilin payudaranya. Akhirnya ia sudah tidak sabar minta kusetubuhi.

"Anto cepat To.. Ayo aku sudah tidak tahan lagi. Masukin oohh.. Masukin!"

Aku naik ke atas tubuhnya dan mengarahkan penisku ke vaginanya. Dengan sedikit mengangkat kakinya, maka penisku dengan mudah amblas ke dalam vaginanya. Kupompa vaginanya, sementara bibir kami di atas juga saling berpaut. Tangannya memeluk punggungku sedangkan tanganku meremas payudaranya atau mengusap pinggulnya. Kami bergerak saling menimba kenikmatan agar gairah kami segera tuntas.

Ia memutar pinggulnya dan penisku tersedot sedemikian rupa sehingga kadang aku harus menghentikan gerakanku agar spermaku tidak cepat tumpah. Dinding vaginanya sama sekali tidak berdenyut, namun sedotan akibat gerakan memutar pinggulnya membuatku untuk cepat menyelesaikan babak ini.

Kukencangkan penisku dan kukocok vaginanya dengan cepat sampai terdengar bunyi paha beradu dan seperti tanah becek yang terinjak kaki. Semakin cepat kami bergerak, maka sedotan pada peniskupun semakin kuat sehingga akhirnya..

"Hesti.. Ohh Hesti.. Nikmat sekali..!"
"Ouuhh Anto, kamu benar-benar.. Ouhh..!"

Kami mengendorkan gerakan untuk sedikit menurunkan gairah. Setelah gairahku turun, kupacu lagi kuda binalku ini untuk segera mencapai finish.

"Anto.. Yacch.. Ayo sekarang keluarkan. Kita sama-sama..!" Ia menggigit lenganku. Kakinya membelit pinggangku segera kuhantam dengan keras vaginanya dengan penisku dan.. Croott.. Crott.. Crott... Ia pun mengejang, pantatnya naik menyambut hunjamanku dan ia merapatkan tubuhnya padaku. Menyemburlah spermaku di dalam vaginanya dan kamipun berpelukan lemas.

Setelah napas kami teratur, kami mengobrol tentang keadaan kota kami. Dari tadi malam identitas diriku berusaha kututupi, aku belum mau dikenalinya.

"Ayu sekarang di mana?" tanyaku.

Aku tercekat karena pertanyaan ini akan membuka rahasia diriku, namun sudah telanjur. Ayu adalah adiknya yang juga teman sekelasku. Ia memandangku keheranan.

"Kamu kenal Ayu?" tanyanya. Sudahlah, aku akan berterus terang siapa diriku ini sebenarnya.
"Ya, dan aku kenal almarhum Pak Setyo," kataku tersenyum. Pak Setyo adalah ayahnya yang sudah almarhum. Ia makin keheranan dan memandangku tajam menyelidik.
"Kamu.. Kamu.."
"Ya, aku Anto, tetanggamu di kampung. Sorry kalau aku dari tadi malam menutupi identitas diriku".

Ia menarik napas panjang dan menutup mukanya dengan bantal. Setelah beberapa saat ia kemudian menatapku dan menggelengkan kepalanya.

"Dari semula aku merasa ada yang aneh. Seakan-akan aku pernah mengenalmu, tapi aku lupa kapan dan di mana. Kenapa kamu merahasiakan dirimu?"
"Sekali lagi sorry, bukan maksudku berbuat jahat begini".

Tentu saja, mungkin kalau identitas diriku kubuka dari awal belum tentu aku dapat menikmati tubuhnya.

"Hh.. Ya sudah, sudah telanjur mau apa. Apa lagi permainanmu tadi dahsyat juga," akhirnya ia berkata dan mencubit lenganku kuat-kuat sampai meninggalkan bekas kemerahan.
"Kita pulang sekarang?" tanyaku.

Ia kelihatan ragu dan menatapku minta pertimbangan. Kutatap matanya dengan penuh percaya diri dan seolah untuk memberi tekanan untuk melanjutkan permainan ini sampai sore nanti.

"Baiklah, aku menyerah. Aku sudah telanjur kalah telak," katanya hambar.
"Nggak begitu, kadang kita perlu sedikit kejutan dalam hidup ini agar tidak monoton," kataku.

Menjelang tengah hari kuajak ia makan sate dan sup kambing. Ia hanya tersenyum dan menatapku menggoda.

"Mau nanduk nih?" sindirnya.
"Persiapan saja," kataku singkat.

Kuajak ia ke sebuah Department Store di dekat situ. Kubelikan ia sebuah baju tidur hijau muda tipis dan lingerie hitam transparan. Aku ingin ia memakainya nanti di kamar pada saat foreplay permainan berikutnya. Membayangkan hal demikian membuat aliran darahku semakin cepat.

Kami kembali ke hotel. Aku merebahkan tubuhku di ranjang tanpa melepas pakaianku. Hesti masih sibuk mematut-matut pakaian yang kubelikan.

"Sudah, pakai saja. Aku juga ingin menikmati tubuhmu dengan pakaian itu," kataku dengan sedikit tekanan.

Hesti masuk ke kamar mandi sambil membawa bungkusan pakaiannya. Aku memejamkan mataku dan berbaring miring membelakangi pintu kamar mandi. Tak lama kurasakan Hesti keluar dari kamar mandi. Aku sengaja tidak menengok ke arahnya meskipun hatiku penasaran ingin melihat tubuhnya di balik pakaian tidur dan lingerrie yang transparan.

"Anto.. To. Bagaimana menurutmu?" tanyanya.

Perlahan aku berbalik dan duduk di tepi ranjang dan kulihat ia makin menarik dengan pakaian seperti itu. Dengan pakaian seperti itu seolah-olah ia dalam keadaan telanjang bulat diselimuti kabut tipis. Belahan dadanya sangat rendah sehingga makin menonjolkan lekuk dadanya. Ia menggoyang-goyangkan badan dan membusungkan dadanya. Hesti duduk di pangkuanku dan tangannya merangkul leherku. Kepalanya disandarkan dan digesekkannya ke pipiku.

"To, aku merasa sangat seksi dan ada semacam gairah berbeda dengan gairah yang tadi," katanya. Kubelai pundaknya dan kuusap perlahan.

Ia tidak sabar lagi. Diciumnya pipiku dan tangannya tergesa-gesa membuka kancing bajuku.

"Ayo To kita berpacu lagi. Puasin aku lagi!" rintihnya sambil memejamkan matanya.

Mulutnya berhenti merintih waktu bibirku memagut bibirnya yang merekah. Lidahku menerobos ke mulutnya dan menggelitik lidahnya. Hesti menggeliat dan mulai membalas ciumanku dengan meliukkan lidahnya. Tanganku mulai menari di atas dadanya. Kuremas dadanya. Kurasakan payudaranya sudah mengeras. Jariku terus menjalar mulai dari dada, perut terus ke bawah hingga pangkal pahanya. Hesti makin menggeliat kegelian. Lidahku sudah beraksi di lubang telinganya dan gigiku menggigit daun telinganya.

Kugeser tubuhnya sehingga ia duduk di atas pahaku membelakangiku. Tanganku yang mendekap dadanya dipegangnya erat. Payudaranya terasa mengencang. Kucium rambutnya. Mulutku menggigit tengkuknya. Hesti kini benar-benar sudah takluk dalam pelukanku meskipun ia sudah mengetahui identitasku.

Badannya mulai menghangat dan detak jantungnya semakin cepat. Bibir dan hidungku makin lancar menyelusuri kepala dan lehernya. Hesti makin menggelinjang apalagi waktu tanganku meremas buah dadanya yang masih tertutup baju tidur itu dari belakang. Kuletakkan mukaku dibahunya dan kusapukan napasku di telinganya. Hesti menjerit kecil menahan geli dan rasa nikmat. Ia mempererat pegangan tangannya di tanganku.

Kuangkat tubuhnya berdiri tetap dalam pelukanku. Tangannya bergerak ke belakang dan meremas isi celanaku yang mulai memberontak. Aku merendahkan badan dan mulai mencium dan menggigit punggungnya. Ia mendongakkan kepalanya dan berdesis lirih tertahan. Gigi atas menggigit bibir bawahnya.

Aku menunduk di belakangnya dan meneruskan aksi tanganku ke betisnya, sementara bibirku masih bergerilya di sekitar pinggul dan bongkahan pantatnya. Ia merentangkan kedua kakinya dan tubuhnya bergetar. Kucium pahanya dan kuberikan gigitan semut. Ia makin meliukkan badannya, namun suaranya tidak terdengar. Hanya napasnya yang mulai memburu.

Pada saat ia sedang menggeliat, kuhentikan ciumanku di lututnya dan aku berdiri di hadapannya. Kuusap pantat dan pinggulnya. Kembali ia berdesis pelan. Tubuhnya memang padat dan kencang. Lekukan pinggangnya indah, dan buah dadanya nampak bulat segar dengan puting tegak menantang berwarna coklat kemerahan.

Dengan cepat langsung kusapukan bibirku ke lehernya dan kutarik pelan-pelan ke bawah sambil menciumi dan menjilati leher mulusnya. Hesti semakin merepatkan tubuhnya ke dadaku, sehingga dadanya yang padat menekan keras dadaku. Bau tubuhnya dengan sedikit aroma parfum makin menambah nafsuku. Ia menggerinjal dan mulutnya mulai menggigit kancing bajuku satu persatu.

Dengan sebuah tarikan pelan ia melepas bajuku. Diusap-usapnya dadaku dan kemudian putingku dimainkan dengan jarinya. Kucium bibirnya, ia membalas dengan lembut. Lumatanku mulai berubah menjadi lumatan ganas. Ia melepaskan ciumanku. Ia menatap mataku dan berbisik..

"Ayo To.. Kita masih punya waktu sampai sore. Aku ingin kita bermain dengan pelan tetapi bergairah!"

Kubuka kancing baju tidurnya. Kini tangannya membuka celana panjangku. Kini kami tinggal mengenalan pakaian dalam saja. Bra dan celana dalamnya berwarna hitam berpadu dengan kulitnya yang sawo matang. Bra-nya yang transparan tidak cukup memuat buah dadanya sehingga dapat kulihat lingkaran kemerahan di sekitar putingnya. Celana dalamnya menampilkan bayangan 'padang rumput hitam' di bawah perutnya.

"Eehhngng.." Ia mendesah ketika lehernya kujilati. Kulirik bayangan kami di cermin lemari kamar.

Hesti mendorongku ke ranjang dan menindih tubuhku. Tanganku bergerak punggungnya membuka pengait bra-nya. Kususuri bahunya dan kulepas tali bra-nya bergantian. Kini dadanya terbuka polos di hadapanku. Buah dadanya besar dan kencang menggantung di atasku. Putingnya berwarna coklat kemerahan dan sangat keras. Digesek-gesekkannya putingnya di atas dadaku.

Bibirnya lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Hesti mendorong lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku kemudian memainkan lidahku dengan menggelitik dan memilinnya. Aku hanya sekedar mengimbangi. Akan kubiarkan Hesti yang memegang kendali permainan. Sesekali ganti lidahku yang mendorong lidahnya. Tangan kananku memilin puting serta meremas payudaranya.

Hesti menggeserkan tubuhnya ke arah bagian atas tubuhku sehingga payudaranya tepat berada di depan mukaku. Segera kulumat payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kujilati.

"Aacchh, Ayo Anto.. Lagi.. Teruskan Anto.. Teruskan". Ia mulai menaikkan volume suaranya..

Kemaluanku semakin mengeras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku kuhisap pelan namun dalam, putingnya kujilat dan kumainkan dengan lidahku. Dadanya bergerak kembang kempis dengan cepat, detak jantungnya juga meningkat, pertanda nafsunya mulai naik. Napasnya berat dan terputus-putus.

Tangannya menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus, meremas dan mengocoknya dengan lembut. Pantatku kunaikkan dan dengan sekali tarikan, maka celana dalamku sudah terlepas. Kini aku sudah dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun.

Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya kemudian menggigit daun telingaku. Napasnya dihembuskannya ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai menjilati putingku dan tangannya mengusap bulu dadaku sampai ke pinggangku. Aku semakin terbuai. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupegang pinggangnya erat-erat.

Tangannya kemudian bergerak membuka celana dalamnya sendiri dan melemparkannya begitu saja. Tangan kiriku kubawa ke celah antara dua pahanya. Kulihat ke bawah rambut kemaluannya tidaklah lebat dan dipotong pendek. Sementara ibu jariku mengusap dan membuka bibir vaginanya, maka jari tengahku masuk sekitar satu ruas ke dalam lubang guanya. Kuusap dan kutekan bagian depan dinding vaginanya dan jariku sudah menemukan sebuah tonjolan daging seperti kacang. Setiap kali aku memberikan tekanan dan kemudian mengusapnya dia mendesis.

Ia melepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulut bergerak ke bawah, menjilati perutku. Tangannya masih mempermainkan penisku, bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku, semakin ke bawah. Ia memandang sebentar kepala penisku yang lebih besar dari batangnya dan kemudian mengecup batang penisku. Namun ia tidak mengulumnya, hanya mengecup dan menggesekkan hidungnya pada batang penis dan dua buah bola yang menggantung di bawahnya. Aku hanya menahan napasku setiap ia mengecupnya.

Hesti kembali bergerak ke atas, tangannya masih memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak. Kugulingkan badannya sehingga aku berada di atasnya. Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia mendesis perlahan dengan suara di dalam hidungnya..

"Sshh.. Sshh.. Ngghh.."

Perlahan-lahan kuturunkan pantatku sambil memutar-mutarkannya. Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa masih kering, tidak lembab seperti tadi. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya. Ketika sudah menyentuh lubang guanya, maka kutekan pantatku perlahan. Kurasakan penisku seperti membentur tembok lunak.

Hesti merenggangkan kedua pahanya dan pantatnya diangkat sedikit. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir luarnya sampai terasa keras sekali dan kutekan lagi, namun masih belum bisa menembusnya. Aku juga heran kenapa sekarang justru setelah kusetubuhi dua kali vaginanya menjadi kering dan peret. Hesti merintih dan memohon agar aku segera memasukkannya sampai amblas.

"Ayolah Anto tekan.. Dorong sekarang. Ayo.. Please.. Pleasse..!!"

Kucoba sekali lagi. Kembali tangannya mengarahkan ke lubang guanya dan kutekan, meleset dan hampir batang penisku tertekuk. Ia menggumam dan menarik napas dan melepaskannya dengan kuat, gemas. Didorongnya tubuhku ke samping. Dikocoknya sebentar untuk menambah ketegangan penisku. Kepalanya yang sudah kemerahan nampak semakin merah dan berkilat.

Ia merebahkan diri lagi dan kutindih sambil berciuman. Kucoba untuk memasukkannya lagi, masih dengan bantuan tangannya, tetapi ternyata masih agak sulit. Akhirnya kukencangkan otot diantara buah zakar dan anus, dan kali ini.. Blleessh. Usahaku berhasil, setengah batang penisku sudah tertelan dalam vaginanya.

"Ouhh.. Hesti," desahku setengah berteriak.

Aku bergerak naik turun. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku karena vaginanya sangat kering dan sempit. Kadang gerakan pantatku kubuat naik turun dan memutar sambil menunggu posisi dan waktu yang tepat. Hesti mengimbangiku dengan gerakan memutar pada pinggulnya. Ketika kurasakan gerakanku sudah lancar dan mulai ada sedikit lendir yang membasahi vaginanya maka kupercepat gerakanku. Namun Hesti menahan pantatku, kemudian mengatur gerakan pantatku dalam tempo sangat pelan. Untuk meningkatkan kenikmatan maka meskipun pelan namun setiap gerakan pantatku selalu penuh dan bertenaga. Akibatnya maka keringatpun mulai menitik di kulitku.

"Anto.., Ouhh.. Nikmat.. Oouuhh. Kamu memang betul-betul perkasa" desisnya sambil menciumi leherku.

Kuputar kaki kirinya hampir melewati kepalaku. Tetapi ia menahan tanganku.

"Aku mau nungging!" bisikku.

Dilepaskannya tanganku dan kini aku sudah dalam posisi menindih tubuhnya yang tengkurap. Perlahan kugerakkan pantatku naik turun. Beberapa saat kemudian kupeluk perut dan pinggulnya dan kuangkat naik. Tubuhnya dalam posisi nungging dan akupun segera menggenjot dari belakang. Hesti menggerakkan pantatnya maju mundur mengimbangi ayunan pantatku. Kupegang bongkahan pantatnya untuk menjaga irama dan kecepatan ayunanku.

"Antoo oohh.. Uuhh. Lebih cepat lagi saayy" ia setengah menjerit.

Kupercepat ayunan pantatku. Kutarik rambutnya ke belakang sampai kepalanya menengadah. Kurapatkan badanku dan dari belakang kucium leher kemudian bibirnya. Kepalanya miring menyambut ciumanku. Tanganku meremas dan mengusap buah dadan dan putingnya.

Kucabut penisku dan kugulingkan badannya, dan segera kumasukkan penisku kembali ke dalam vaginanya. Kami kembali dalam posisi konvensional. Beberapa saat kemudian kedua kakinya kurapatkan dan kujepit dengan kedua kakiku. Penisku hampir-hampir tidak bisa bergerak dalam posisi ini. Dalam posisi ini vaginanya terasa sangat sempit menjepit penisku.

Kugulingkan tubuhnya lagi sampai ia menindihku. Akan kubiarkan ia mencapai puncak dalam posisi di atasku. Kakinya keluar dari jepitan kakiku dan kembali dia yang menjepit pahaku. Dalam posisi ini gerakan naik turunnya menjadi bebas. Kembali aku dalam posisi pasif, hanya mengimbangi dengan gerakan melawan gerakan pinggul dan pantatnya. Tangannya menekan dadaku. Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Kepalanya terangkat dan tanganku menarik rambutnya kebelakang sehingga kepalanya semakin terangkat. Setelah kujilat dan kukecup lehernya, maka kepalanya turun kembali dan bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Ia mengatur gerakannya dengan tempo pelan namun sangat terasa. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku terbenam dalam-dalam sampai kurasakan menyentuh dinding rahimnya. Ketika penisku menyentuh rahimnya Hesti semakin menekan pantatnya sehingga tubuh kamipun semakin merapat.

Ia menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakkan pantatnya maju mundur sambil menekan ke bawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sesuatu kuat namun lunak. Semakin lama-semakin cepat ia mengerakkan pantatnya, namun tidak kasar atau menghentak-hentak. Darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang mendesir-desir.

"Ouhh.. Sshh.. Akhh!"

Desisannya pun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri permainan. Aku menghentikan gerakanku untuk mengurangi rangsangan yang ada karena desiran-desiran di mulut penisku makin kencang. Aku tidak mau kalah.

Aku sebenarnya ingin menyelesaikannya dengan posisiku di atas sehingga aku bisa menghunjamkan kemaluanku dalam-dalam. Namun kali ini aku mengalah, biarlah ia yang mengejang dan menekankan pantatnya kuat-kuat.

Setelah beberapa saat kurasakan rangsangan itu menurun. Kini penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot antara buah zakar dan anusku seolah-olah menahan kencing. Kulihat reaksinya. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya berkejap-kejap dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Akupun merasa tak tahan lagi dan rasanya akan segera menembakkan peluru terakhirku untuk menyelesaikan pertempuran. Akhirnya beberapa detik kemudian..

"Anto.. Sekarang say.. Sekarang.. Aakkhh.. Hhuuhh!" Hesti memekik kecil.

Pantatnya menekan kuat sekali di atas pahaku. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Aku menahan tekanan pantatnya dengan menaikkan pinggulku. Bibirnya menciumiku dengan pagutan-pagutan ganas dan diakhiri dengan gigitan pada dadaku. Desiran yang sangat kuat mengalir lewat lubang penisku. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kutekankan kepalanya di dadaku. Napasnya bergemuruh kemudian disusul napas putus-putus dan setelah tarikan napas panjang ia terkulai lemas di atas tubuhku.

Denyutan demi denyutan dari kemaluan kami masing-masing kemudian melemah. Spermaku yang masuk dalam vaginanya sebagian tertumpah keluar lagi di atas pahaku. Ia berguling ke sampingku sambil tangan dan mukanya tetap berada di leherku. Kuberikan kecupan ringan pada bibir, dan usapan pada pipinya.

"Terima kasih To. Kamu sungguh luar biasa, begitu nikmat dan indah. Perkasa dan sekaligus romantis. Thanks". Katanya lembut.

Kami masih berpelukan sampai keringat kami mengering. Kembali kami tertidur beberapa saat. Begitu terbangun kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku bangkit, masuk ke kamar mandi dan mandi di bawah guyuran shower. Setelah mandi dan hendak mengenakan pakaian, Hesti menahan tanganku yang sudah memegang celana dalam.

"Kita tidur disini lagi malam ini, please. Besok siang kita check out dan kamu bisa berangkat ke kantor dari sini saja. Aku.. Masih ingin lagi.." katanya dengan tersipu-sipu.

Kuikuti saja kemauannya, toh cutiku belum lagi habis. Malam itu setelah makan malam sampai besok siangnya kami tidak keluar kamar dan tidak sempat mengenakan pakaian lagi. Kuikuti permainannya sampai ia merasa tidak mampu lagi mengangkat tubuhnya.

Keesokan siangnya kuantar ia sampai Blok M dan ia naik taksi ke Sawangan.

When will we meet again, Hesti?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan sisipkan komentar anda dibawah ini