Minggu, 18 April 2010

yang pertama

Sejak remaja, mungkin sejak aku duduk di kelas 3 SMP, aku punya keinginan yang sangat kuat untuk menikmati tubuh wanita. Namun waktu itu aku tidak punya keberanian untuk melakukan atau bahkan sekedar memulai pembicaraan, maklum pengalaman masih nol besar.

Ada beberapa tetanggaku yang sering menjadi fantasiku untuk melepaskan hasrat seksualku. Statusnya tidak menjadi masalah, tapi yang jelas seleraku memang perempuan yang usianya di atasku. Salah satunya adalah Hesti, seorang gadis yang usianya enam tahun di atasku. Rumahnya berselang lima rumah dari rumahku.

Kabar angin yang beredar mengatakan bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Kupikir mungkin saja, karena ia sangat sering keluar malam dengan temannya yang berdandan menor. Mungkin kalau istilah sekarang ia boleh disebut penggemar dugem.

Pada waktu itu di kampungku masih ada beberapa keluarga yang menggunakan kayu bakar untuk memasak. Kadang Hesti membantu tetangga sebelah untuk membelah kayu bakar. Ia paling sering mengenakan daster longgar, sehingga kalau sedang membungkuk membelah kayu bakar buah dadanya kelihatan menggantung seakan mau jatuh. Kalau sudah begitu aku mulai mendekat dan berlagak seolah ikut membantu merapikan kayu bakar. Namun begitu aku hanya berbicara dengannya seperlunya saja, tidak berani atau tidak kepikiran untuk menggoda lebih jauh.

Ketika aku duduk di SMA, Hesti pergi ke Jakarta dan akupun segera melupakannya. Sampai aku lulus kuliahpun boleh dibilang kami tidak pernah bertemu lagi. Paling kalau lebaran hanya ketemu di jalan sambil bersalaman.

*****

Aku mengambil cuti dan pulang kampung untuk menyelesaikan beberapa urusan. Tiga hari aku di kampung dan urusanpun selesai. Rasanya jadi asing juga di kampung. Teman sebaya sudah tidak ada lagi, semua pergi merantau. Anak-anak remaja yang ada sekarang aku tidak banyak mengenalnya karena dulu mereka masih kecil-kecil.

Aku naik bus AC yang akan berangkat ke Jakarta. Penumpang masih terlihat sepi, bus hanya terisi dua pertiganya saja. Mungkin karena bukan musim liburan. Aku duduk menyandar di jendela dan memperhatikan ke luar.

Tiba-tiba ada seorang perempuan yang meletakkan tas ke bagasi di atasku dibantu oleh kernet bus. Kuperhatikan sekilas tidak ada yang istimewa. Perempuan itu mengenakan celana hitam dengan kaus pink longgar. Jaketnya diikatkan di pinggangnya. Namun ketika ia mengatur tasnya di bagasi, otomatis dadanya kelihatan lebih membusung. Hmmh, mata nakalku mulai menikmati pemandangan ini.

"Maaf Pak, boleh saya yang duduk di dekat jendela?" tanya perempuan itu ramah.
"Oh.. Silakan saja. Saya nggak masalah duduk di mana saja kok," sahutku cepat sambil berdiri dan mempersilakannya duduk di dekat jendela.

Lima belas menit kemudian bus diberangkatkan.

"Kemana Mbak?" tanyaku mengawali pembicaraan.
"Ke Jakarta, Mas sendiri ke mana?"
"Sama, ke Jakarta juga. Jakartanya di mana Mbak?".
"Di Sawangan, Depok".

Lumayan jauh juga dari Pulogadung. Bus yang kami naiki hanya sampai di Pulogadung. Kuhitung-hitung kalau perjalanan lancar kami bisa sampai di Jakarta jam 02.00. Terlalu malam untuk seorang perempuan.

"Emang di sini tinggal di mana, Mbak?"

Ia menyebutkan nama kampungnya. Aku tercekat, lho itu kan kampungku juga. Dengan mencuri-curi kuperhatikan perempuan ini lebih teliti. Mukanya sih mirip Hesti, tetanggaku.

"Mas tinggal di mana?"

Kusebutkan sebuah nama kampung, asal saja. Aku belum ingin dikenalnya.

"Oh ya, saya Anto," kataku sambil mengulurkan tangan. Aku tidak menyembunyikan namaku, karena toh banyak orang lain yang namanya Anto.
"Hestini, boleh panggil Tini saja".

Akhirnya kupastikan bahwa perempuan di sampingku ini adalah Hesti tetanggaku.

"Mbak Hesti, eh sorry Tini. Kok sendirian aja?"

Ia mengamatiku sekilas, mungkin terkejut juga dipangil dengan nama Hesti.

"Iya, suami lagi sibuk, nggak bisa ambil cuti. Ini tadi habis nengok anak yang dititip sama neneknya".

Sekitar jam tujuh malam bus sampai di daerah perbatasan Tegal-Cirebon dan berhenti di sebuah rumah makan. Aku turun dan tujuan pertamaku ke toilet untuk buang air kecil. Kulihat Hesti juga sedang antre di toilet wanita. Kutunggu dia dan kuajak untuk makan. Kami makan sedikit saja untuk sekedar mengisi perut agar tidak masuk angin.

Tak lama kemudian bus pun segera berangkat kembali menuju ke Jakarta. Lampu di dalam bus dimatikan, tinggal lampu kecil di dekat toilet saja yang menyala redup. Hesti menggeliat, menggoyangkan badan dan mengenakan jaketnya.

"Dingin ya Mbak Hes.. Eh sorry, bagaimana kalau kupanggil Hesti saja".
"Terserah Mas saja.."

Kami berdiam diri beberapa saat.

"Sampai Pulogadung jam berapa ya Mas?"
"Kalau lancar jam satu atau jam dua dinihari sudah masuk".
"Aduhh, gimana ya. Terlalu malam kalau harus nyambung lagi ke Sawangan".
"Tunggu saja di terminal sampai agak terang barulah berangkat. Kalau masih gelap resiko lho Mbak," kataku menenangkan.

Penumpang yang lain sudah tertidur. Hesti menguap lebar dan menutup mulut dengan tangannya.

"Ngantuk?" tanyaku.
"He.. Eh," jawabnya singkat.
"Silakan tidur saja," kataku sambil menggeser tubuhku agar ia memperoleh tempat yang lebih lebar.

Ia pun kemudian tidur dengan kepala menempel di jendela. Karena guncangan-guncangan di kendaraan, maka kepalanya bergeser dan menyender di bahuku. Aku mulai berpikir dan mengingat masa lalu ketika kuintip buah dadanya dari balik dasternya yang longgar. Kelihatan tidurnya lelap sekali, mungkin kecapekan.

Tangannya yang tadinya disilangkan di depan dadanya mulai lepas dan telapak tangannya menyentuh pahaku. Aliran listrik di tubuhku yang tadinya lemah mulai menguat. Tangannya kuangkat pelan sehingga akhirnya kubuat menggayut di lenganku. Ia masih diam saja dan aku pura-pura juga tidur. Namun pikiran-pikiran lain terus menggangguku.

Hesti menggeliat dan membuka matanya.

"Hh.. Sampai di mana kita?"
"Baru masuk Sukamandi, tidur saja lagi".

Ia menggerakkan tangannya dan kemudian baru tersadar kalau tangannya dalam posisi memeluk lenganku.

"Sorry.. Nggak sengaja, habis tadi ketiduran. Tapi enak juga tidur sambil memeluk lengan".

Ia menarik lengannya. Aku hanya tersenyum saja.

"Boleh kok memeluk lenganku lagi kalau mau," kataku.
"Ihh maunya deh," katanya sambil mencubit pahaku. Namun kemudian tangannya disusupkan ke bawah lenganku dan kembali ia memeluk lenganku.
"Sebentar.. Sebentar, gini saja supaya lebih nyaman," kataku. Kulepaskan lengan kiriku dari pelukannya dan kulingkarkan ke belakang bahunya. Ia tersenyum dan mengusap pipiku dengan jarinya. Jaketnya dilepas dan diletakkan di pangkuannya.

Kini kepalanya menyandar di dadaku. Kuusap-usap bahunya dengan lembut. Ia mendesah lirih dan napasnya terdengar mulai berat dan tertahan. Aku tahu Hesti sudah merasa aman dan nyaman di pelukanku. Tangan kiriku mulai menyusup dari bawah lengan kirinya dan ujung jariku sudah menyentuh pangkal buah dadanya. Ia sedikit mengangkat tangan kirinya memberikan kesempatan kepadaku untuk berbuat lebih jauh lagi. Kepalanya agak mendongak sehingga napasnya hangat menyapu leherku.

Tangan kiriku mulai membuat gerakan berputar di pangkal buah dada kirinya dan terus menuju ke arah putingnya. Jaketnya digeser ke atas pahaku dan tangannya mulai mengusap-usap bagian dalam pahaku, kadang penisku juga diusap dan diremas dari luar celanaku. Dari Ciasem sampai masuk ke terminal Pulogadung kami terus melakukan rabaan dan usapan. Dinginnya AC di dalam bus sudah tidak terasa lagi.

Sebelum masuk ke Pulogadung aku sudah melepaskan pelukanku dan merapikan pakaian. Tak lama lampu dinyalakan dan bus segera masuk ke terminal. Turun dari bus kami disambut dengan hujan rintik-rintik. Kami berteduh di bawah shelter. Kupeluk lagi tubuh Hesti.

"Gimana Hes, kita mau tunggu di sini atau.."
"Ngapain hujan-hujanan di sini. Kita tuntaskan saja apa yang tadi sudah kita mulai sampai besok agak siangan," ia menukasku dan kemudian mencubit pinggangku. Kutatap matanya untuk meyakinkan diriku.
"Tidak usah malu, aku tahu kamu juga menginginkannya kan?" ia berbisik di telingaku.

Kami segera naik ke sebuah taksi dan meluncur ke bilangan Kampung Melayu untuk menyelesaikan urusan kami.

Tak lama kemudian kami sudah berada di kamar hotel. Mukaku terasa kotor dan dengan bercelana dalam saja aku masuk ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menggosok gigi. Tidak afdhal rasanya bercinta dengan mulut yang kurang bersih. Aku sudah berpikir mau mandi tetapi Hesti menyusulku masuk ke kamar mandi dan memelukku dari belakang. Tangannya mengusap dadaku dan kepalanya dan pipinya ditempelkan di punggungku. Sebentar kemudian ia melepaskan pelukannya.

"Cuci penismu dengan sabun sampai bersih dan pinjam sikatmu To," katanya.

Ha? Kalau dipikir pinjam meminjam sikat gigi tidak hygienis, namun sebentar lagi toh kami juga akan bertukar liur. Jadi apa bedanya? Kuberikan sikat gigiku dan iapun menggosok giginya. Kalau soal cuci penis, tentu saja itu sebuah ritual wajib. Aku keluar dari kamar mandi dan berbaring di ranjang. Tak lama Hestipun menyusulku dan berbaring di sebelahku.

Kupeluk dia dan dengan cepat kucium bibirnya. Iapun membalasku dengan penuh gairah. Kuremas dadanya dan kausnya kusingkapkan sampai ke atas buah dadanya. Kubuka seluruh pakaian Hesti dan kini tinggal pakaian dalam saja yang melekat di tubuh kami. Kupandangi sejenak wanita di sampingku ini. Kulitnya tidak begitu putih dengan dada yang sedang tapi masih terlihat kencang.

Dalam keremangan kamar kulihat Hesti menggerak-gerakkan bibirnya untuk menggodaku. Aku mulai mendekatkan bibirku pada bibirnya. Sedikit bau keringat di tubuh kami memancarkan daya rangsang tersediri.

Diterkamnya tubuhku dan ia naik di atas tubuhku. Kemudian dengan cepat kulumat bibir Hesti dan ia mulai terbawa permainan bibirku dan segera membalas lumatanku dengan penuh gairah. Kemudian tanganku mulai bermain di dadanya, menyusup di balik bra-nya. Buah dadanya masih kencang dan bulat, setelah itu langsung kuremas dan kupilin putingnya. Nafas kami mulai berkejaran.

"Eehh..,. Ouhh." Lehernya kukecup dan kujilat.

Tanganku segera bergerak ke punggungnya dan membuka kancing bra-nya. Dengan usapan lembut di bahunya, tanganku dengan pelan melepas tali branya. Buah dadanya yang bulat segera mencuat keluar. Putingnya kecil berwarna coklat muda dan agak keras.
Kudorong lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya. Kujelajahi seluruh bagian di mulutnya dan kemudian lidahku menari di langit-langit mulutnya. Hesti kemudian menggelitik lidahku dan menyedotnya kuat-kuat.

Kemudian ia yang mendorong lidahnya ke dalam rongga mulutku. Bibirnya tipis dan sangat lemas. Ia sangat mahir dalam berciuman. Lidah kami saling bergantian memilin dan menjelajahi mulut. Tangan kananku memijat dan memilin putingnya kemudian meremas gundukan daging payudaranya.

Kuangkat bahunya agar badannya agak ke atas. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kugigit kecil. Ia melenguh dan mengerang. Kepalanya terangkat-angkat dan tangannya meremas-remas bantal di bawah kepalaku.

"Ouhh.. Aacchh, Ayo Anto lagi.. Teruskan lagi.. Teruskan".

Kejantananku yang masih di dalam celana dalam mulai menggeliat. Puting dan payudaranya semakin keras. Kukulum semua gundukan daging payudara kirinya sehingga masuk ke dalam mulutku kemudian putingnya kumainkan dengan lidahku, kemudian mulutku beralih ke payudara kanannya. Napasnya terengah-engah menahan kenikmatan.

Kulepaskan hisapanku pada dadanya. Tangannya mengusap dada, menyusuri perut dan pinggang, kemudian menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus dan mengocok kejantananku. Mulutnya kemudian ikut bermain di dadaku, menjilati dan mengecup putingku. Kepalanya semakin ke bawah dan menjilati perut dan pahaku. Ditariknya celana dalamku ke bawah. Kini aku sudah dalam keadaan telanjang.

Hesti kembali menggerakkan kepalanya ke atas, bibirnya mengecup, menjilati leher dan menggigit kecil daun telingaku. Ia mendesis tepat di lubang telingaku sehingga badankupun jadi merinding. Napasnya dihembuskan dengan kuat. Dia mulai menjilati lubang telingaku. Aku merasakan geli dan sekaligus rangsangan yang kuat. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupeluk dan kuusap pinggangnya kuat-kuat.

Tanganku menarik celana dalamnya dan dengan bantuan pahanya yang bergerak naik maka dengan mudah kulepaskan celana dalamnya. Telunjuk tangan kiriku bermain di selangkangannya. Rambut kemaluannya jarang dan pendek. Kubuka bibir vaginanya dengan jari tengah dan ibu jari. Kubuat gerakan menggaruk di atas permukaannya. Setiap aku menggaruknya Hesti mengerang.

"Oouuhh.. Aauhh.. Ngngnggnghhk"

Kulepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulutnya kembali ke bawah, menjilati bulu dada, puting dan perutku. Kini tangannya yang bermain-main di kejantananku. Bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku. Tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak.

Hesti memutar tubuhnya dan meminta untuk posisi 69. Aku berada di bawah tubuhnya, sementara mulut kami sudah sibuk dengan pekerjaannya. Mulutku menjilati pangkal pahanya yang mengangkang lebar di atasku. Kujilat clitnya dan kujepit dengan bibirku. Sementara itu dengan penuh gairah Hesti menjilat, mengulum dan mengisap penisku.

Setelah mulut kami puas bermain di selangkangan, maka tubuhnya berputar sehingga kami berhadapan muka. Aku berguling sehingga kini Hesti mengangkang di bawahku. Tangannya bermain di bawah perutku. Tanganku meremas payudaranya dan memilin putingnya. Dengan bantuan tangannya kucoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya untuk membantu usahaku. Digesekkan kepala penisku pada bibir vaginanya. Setelah cukup banyak lendirnya ia berbisik "Masukkan To.. Dorong". Kudorong pantatku dengan pelan dan akhirnya batang meriamku bisa masuk dengan lancar ke dalam guanya.

Hesti memelukku dan menciumi daun telingaku. Aku merinding. Dadanya yang padat menekan dadaku. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya.

"Ouhh ayo To.. Aku.. Dorong leebih kuat.. Ayo dorong.."

Aku menurunkan pantatku dan segera penisku sudah tengelam penuh dalam lubangnya.

"To.. Enak sekali, aku.. Oukhh"

Ia memekik kecil, lalu kutekan kemaluanku sampai amblas. Tangannya mencengkeram punggungku. Tidak terdengar suara apapun dalam kamar selain deritan ranjang dan lenguhan kami. Kucabut kemaluanku, kutahan dan kukeraskan ototnya. Pelan-pelan kumasukkan kepalanya saja ke bibir gua yang lembab dan merah. Hesti terpejam menikmati permainanku pada bibir kemaluannya.

"Hggk..". Dia menjerit tertahan ketika tiba-tiba kusodokkan kemaluanku sampai mentok ke rahimnya.

Kumaju mundurkan dengan pelan setengah batang beberapa kali kemudian kumasukkan dengan kuat sampai semua batangku amblas. Hesti menggerakkan pinggulnya memutar dan mengimbangi irama naik turunku sehingga kami bisa sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kejantananku seperti dipelintir rasanya. Kusedot payudaranya dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Hesti seperti menahan sesuatu. Ia memukul-mukul punggungku dan menggigit dadaku dengan liar.

"Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. Anto.. Enak sekali.. Ooh"

Kini kakiku menjepit kakinya. Ternyata vaginanya nikmatnya memang luar biasa, meskipun agak becek namun gerakan memutarnya seperti menyedot penisku. Aku mulai menggenjot lagi. Hesti seperti seekor kuda liar yang tidak terkendali. Keringat membanjiri tubuh kami. Kupacu tubuh kuda betinaku untuk mendaki lereng kenikmatan. Kami saling meremas, memagut, dan mencium. Kubuka lagi kedua kakinya, kini betisnya melilit di betisku. Matanya merem melek. Aku siap untuk memuntahkan peluruku.

"Hesti, aku mau keluar.. Sebentar lagi Hesti.. Aku mau..".
"Kita sama-sama To, Ouououhh..". Hesti melenguh panjang.

Sesaat kemudian..

"Sekarang Hesti. Ayo sekarang.. Ouuhh.." Aku mengerang ketika peluruku muntah dari ujung rudalku.
"Anto.. Agghh" kakinya menjepit kakiku dan menarik kakiku sehingga kejantananku tertarik mau keluar.

Aku menahan agar posisi kemaluanku tetap dalam vaginanya. Matanya terbuka lebar, tangannya mencakar punggungku, mulutnya menggigit dadaku sampai merah. Kemaluan kami saling membalas berdenyut sampai beberapa detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaan menjadi sunyi dan tenang.

Setelah membersihkan badan tanpa mandi, kami tidur berpelukan tanpa busana, Menjelang jam delapan pagi aku terbangun. Setengah terkejut aku membuka mata di tempat yang masih asing, namun tak lama kemudian aku sudah sepenuhnya sadar di mana aku sekarang berada. Hesti masih terpejam di pelukanku. Karena gerakan tubuhku, ia membuka matanya dan menggeliat dan menguap.

"Hmmh. Oouuahh.. Jam berapa sekarang?" bisiknya.
"Jam delapan kurang dikit. Mau pulang sekarang?" tanyaku.
"Tanggung, entar aja sekalian kalau udah puas. Sampai di rumah langsung tidur lagi. Sarapan apa kita pagi ini?"
"Coba kutanya ke resepsionis, biar nanti diantar ke kamar saja sarapannya," kataku sambil meraih telepon untuk menghubungi resepsionis.

Hesti merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Dadanya menekan lenganku. Bibirnya mulai menciumi leherku dan mencari-cari bibirku.

"Sabar say.. Kita.." Kataku.

Belum habis kalimatku terdengar pintu kamar diketuk.

"Room service, sarapannya Pak!"

Aku bangkit dan berlilitkan selimut dan membuka pintu, room boy masuk dan meletakkan sarapan di atas meja. Aku masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Sambil menunggu bathtub terisi penuh, maka kami makan bersama-sama hanya berlilitkan selimut saja. Menunya sederhana saja, nasi goreng dengan daging ayam dan telur mata sapi. Rasanya nikmat sekali, karena perut memang sudah terasa lapar sejak tadi pagi.

Selesai makan kami berendam air hangat di dalam bathtub. Di dalam bathtub kami berciuman dan perlahan-lahan gairah kami berdua mulai bangkit lagi. Sambil bermain busa sabun kami saling meremas dan mengusap tubuh. Meskipun terendam air, penisku perlahan berdiri tegak. Napas kami mulai berkejaran di dalam dada.

Kusabuni payudaranya dan kuremas-remas, sementara ia menyabuni kejantananku dan mengocoknya. Setelah membilas dengan air, maka payudaranya kuisap-isap dan kupermainkan dengan lidahku. Hesti mendesah dan memelukku erat. Ia menciumi leherku. Kulepaskan isapan pada payudaranya dan Hesti pun ganti menyerang dadaku. Mencium dan menjilati putingku bergantian kiri dan kanan.

Mulutnya terus bergerak ke bawah, mengitari pusarku dan semakin ke bawah. Penisku yang kedinginan segera dikulum dan diisapnya. Kepala penisku dijilatinya dan kemudian kembali mengulumnya sampai habis. Buah zakarkupun tak luput dari serangan mulutnya. Sementara mulutnya mengisap buah zakar, maka tangannya memijit dan mengocok batang penisku. Aku meremas rambutnya sambil menahan kenikmatan yang diberikannya pada penisku.

Hesti menindih tubuhku. Dengan tetap berpelukan tanpa sepengetahuan Hesti kucabut sumbat bathtub. Permukaan air mulai menurun dan setelah tinggal sedikit Hesti baru sadar. Ia menatapku dan mengangguk. Aku menangkap kodenya untuk bercinta di dalam bath tub saja.

Perlahan lahan ia menurunkan pantatnya. Kepala penisku dijepit dengan jarinya, dan digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa lembab, hangat dan berair. Dia mengarahkan kejantananku agar masuk ke dalam vaginanya. Hesti merenggangkan kedua pahanya dan sedikit mengangkat pantatnya. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir dalamnya sampai penisku terasa keras sekali. Keadaan lubang vaginanya semakin basah. Hesti menurunkan lagi pantatnya dan penisku segera masuk ke dalam vaginanya.

"Ayolah Hesti, tekan lagi.. Masukin.." Hesti menggoyangkan pantatnya dan kubalas dengan mengencangkan otot perutku.
"Ouhh.. Anto nikmatnya.. Ouhh!" erangnya setengah berteriak.

Hesti bergerak naik turun. Aku mengimbanginya dengan gerakan pinggulku. Pantatnya dinaikkan hingga hanya kepala penisku saja yang menyusup di bibir vaginanya dan dengan cepat pantatnya diturunkan kembali sampai penisku menyentuh dinding rahimnya. Ia menciumku dengan liar kemudian dikecupnya leherku dan bibirnya terus ke bawah menggigit puting dan menarik bulu dadaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan sisipkan komentar anda dibawah ini