Minggu, 18 April 2010

mamaku pengalaman pertamaku

Cerita berikut adalah tidak ada kaitannya dengan nama, tempat ataupun lokasi, kalau ada kesamaan adalah kebetulan semata.
Namaku Irwan, usiaku kini 21 tahun, tinggi sekitar 175 cm, badanku cukup athletis, karena aku rajin berolahraga. Untuk wajah menurut teman - temanku sih cukup oke. Aku baru saja masuk di salah satu universitas swasta terkenal di kota Jakarta. Aku akan membagi kisah – kisah panasku kepada para pembaca sekalian. Semua pengalaman Seksku yang kulakukan bersama mamaku, kakakku, tanteku dan juga wanita – wanita lainnya. Mulai dari remaja lugu sampai menjadi mahir, berkat bimbingan mamaku tercinta. Sebelum itu aku akan ceritakan sedikit tentang keluargaku. Pada dasarnya Keluargaku boleh dibilang berkecukupan, hal ini selain karena kemampuan bisnis mama yang baik, juga orang tua mama memberikan jatah warisan yang besar kepada anak – anaknya. Jadi untuk urusan keuangan, tidak ada masalah berarti bagi kami sekeluarga.
Mamaku, Susan, kini 41 tahun, keturunan Jawa dan ada masih darah Belanda dari pihak ayahnya ( Warisan kompeni dulu ), menikah di usia muda, dengan papa yang berbeda usia 12 tahunan, karena dijodohkan, dalam hal ini karena adanya hubungan bisnis antara orangtua mama dan papa, kini janda, bercerai dengan papaku, saat aku berusia 12 tahun. Kakakku Erni, 2 tahun lebih tua dariku, paling disayang sama oma dan opaku, waktu kakak naik ke kelas 2 SMA diminta oleh oma dan opa untuk melanjutkan di kota Bandung yang menjadi kediaman mereka. Kuliahnya pun juga di kota tersebut. Kalau lagi rajin seminggu sekali dia pulang, tapi kalau tidak amaka aku dan mama yang ke sana. Adapun mama bercerai dengan papaku, Bambang, seorang pengusaha yang sukses dan memiliki banyak Perusahaan dan bidang bisnis, karena papaku menikahi simpanannya. Mama tidak sudi dimadu Menurutku papaku itu amat sangat bodoh, meninggalkan wanita secantik dan seseksi mamaku. Aku amat membenci papaku, tidak pernah terlintas untuk memaafkannya. Sewaktu bercerai, papa memberikan rumah mewah dua lantai kepada kami, juga memberikan uang cerai yang amat besar pada mama. Untuk urusan biaya pendidikan, papa akan menanggung semua biaya yang diperlukan. Mama kemudian menggunakan uang tersebut ditambah uang yang mama miliki untuk mendirikan Perusahaan sendiri. Bergerak di bidang jasa, pelayaran, trading dan eksport – import.
Kami kini hidup bertiga saja, untuk urusan rumah tangga, mama memutuskan untuk tidak memakai tenaga pembantu, katanya buat apa, toh tidak terlalu banyak kegiatan yang dilakukan kami bertiga, rumah juga tidak terlalu kotor, untuk urusan mencuci dan setrika, untuk cuci dan setrika mama menggaji mbak yang tinggal di dekat komplek kami, sudah kerja tahunan dengan kami, mama mempercayakan kunci rumah juga padanya, tidak harus datang setiap hari. Untuk makan, bisa membeli di luar atau mama yang akan memasak. Setelah bercerai, mama mencurahkan semua hidupnya untuk kami anak – anaknya, juga untuk mengurus Perusahaan yang dikelolanya. Ternyata otak bisnis mamaku juga oke, dalam waktu singkat Perusahaannya berkembang pesat dan memiliki beberapa anak Perusahaan di dalam dan luar kota. Papaku yang brengsek itu juga suka datang menjenguk anak – anaknya, tapi bagiku tidak ada yang special dan berkesan, ya Cuma formalitas saja.
Kami bertiga hidup saling menyayangi, aku mencintai dan menyayangi mama dan kakakku, maklum ini mungkin karena aku merasa sebagai satu - satunya lelaki di rumah. Kehidupan sehari – hari berjalan biasa saja. Saat di rumah, mama tidak terlalu memperhatikan busana, kalau sudah pulang kerja atau saat santai, biasanya pakai daster atau baju tidur yang seksi dan mini. Mama tidak merasa canggung, biasa saja baginya. Kalau sedang ganti baju juga mama sering tidak menutup pintu kamarnya. Mungkin karena dia pikir toh di rumah hanya ada kami saja, dan akukan juga anaknya. Aku sih senang – senang saja dan tidak merasa aneh, maklum saat itu aku masih lugu. Kadang – kadang juga aku sering tidur di kamar mamaku, tentu saja saat itu tidak ada pikiran yang macam – macam. Mamaku sendiri sangat rajin merawat dirinya, kalau kita lihat, usianya seakan – akan masih seperti wanita yang berusia 25 tahunan saja, nggak kelihatan kalau anaknya sudah gadis dan perjaka. Mama rajin melakukan yoga dan senam, juga berenang. Kebetulan di halaman belakang rumah kami dibangun kolam yang tidak terlalu besar, dikelilingi tembok yang lumayan tinggi serta jauh dari tetangga. Mamaku sendiri memiliki wajah yang cantik, rada – rada berwajah indo, rambut panjang, tingginya sekitar 170 cm, bentuk tubuh yang menawan, perut yang masih rata, terutama dadanya yang sangat besar, yang kemudian aku tahu ternyata berukuran 38. Teman – teman yang main ke rumah mengatakan mamaku sangat seksi dan mempesona. Kakakku Erni, juga sama, mewarisi kecantikan mama, sama – sama berdada besar, walaupun tidak sebesar mama, tapi masih akan berkembang. Sepertinya wanita di keluarga mama memang memiliki dada yang besar dan aduhai, adik dan kakak mama juga sama.
Singkat cerita, 3 tahun sudah berlalu sejak perceraian sialan tersebut, waktu itu usiaku 15 tahun hampir 16, baru kelas 1 SMA, saat di mana memasuki masa tegangan tinggi dalam masa puberku. Libido remaja yang gampang naik dan mulai mau tahu lebih jauh mengenai wanita. Aku mulai sering mengakses situs – situs porno di kamarku, membaca majalah dan buku – buku porno, menonton film – film porno yang amat mudah dibeli. Apalagi kini kak Erni jarang di rumah, karena bersekolah di kota B, yah makin seringlah aku sendirian di rumah. Sering saat sedang berkumpul dengan teman – temanku, aku mendengar pengalaman mereka saat melepas keperjakaan, terus terang aku juga penasaran dan ingin sekali melakukan hal yang mereka ceritakan. Secara keuangan aku bisa dan mampu membayar wanita penghibur, bahkan teman – temanku juga menjanjikan akan membayarkan kalau aku mau, tapi aku tidak mau, karena aku takut dan juga ngeri resikonya melakukan dengan wanita penghibur.
Jujur saja, kalau sedang membuka situs porno atau menonton BF, aku paling senang melihat wanita yang sudah dewasa, memiliki dada besar , dan memiliki bulu kemaluan yang lebat, apalagi kalau memiliki bulu ketek, ugh....bisa gila aku membayangkannya.
Aku juga mulai menyadari bahwa aku terpesona dan amat menginginkan mamaku, sudah melewati batas sayang anak ke mamanya, sudah bercampur dengan perasaan erotis yang menyenangkan. Bukannya kakakku tidak cantik dan mempesona, tapi bagiku mama adalah sosok wanita yang sempurna, sudah matang. Wanita dewasa yang kecantikan dan lekuk tubuhnya memancarkan sensasi sensual tersendiri.
Perlahan tapi pasti, gairah dan hasrat di diriku semakin berkobar, aku yang dulu memandang mamaku sebagaimana mestinya, kini mulai melihat mamaku dari sudut pandang seorang pria. Kini aku sering mencuri – curi kesempatan saat mama sedang ganti baju, pura – pura duduk membaca dekat mama kalau mamaku sedang yoga, senam atau berenang. Kini aku mulai sering mengkhayalkan tubuh mama saat aku sedang bermartubasi. Selain itu aku mempunyai kegiatan baru yaitu mengintip mamaku yang sedang mandi, sebenarnya tidak bisa dibilang mengintip sih, kamar mandi mamaku itu terletak di dalam kamarnya, cukup besar ukurannya, karena di dalamnya ada bath tub, standing shower, dan wastafel serta kaca rias yang terpisah, dan saat mama mandi pintunya jarang dikunci, Cuma sedikit ditutup saja, sehingga aku cukup melihat dari celah pintu yang terbuka. Tidak puas, suatu hari timbul ideku untuk merekamnya, maka aku siapkan kamera dan dengan hati – hati merekamnya. Wah, hasil rekamannya sungguh amat indah, dan memperlancar masturbasiku. Tapi itu belum cukup, aku masih menyimpan hasrat untuk merasakan dan menyentuh secara langsung, dan dalam hal ini aku amat terobsesi dengan mamaku. Aku harus mencari cara dan kesempatan untuk memiliki mamaku seutuhnya. Kesempatanku amat besar, karena di rumah ini hanya ada aku dan mamaku, tinggal bagaimana aku mencari caranya.
Kalau aku pikirkan secara mendalam, setelah bercerai, mamaku mencurahkan hidupnya untuk bekerja dan kami anak – anaknya. Seingatku mama tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain, berangkat dan pulang kerjapun selalu tepat waktu. Kalaupun ada urusan kerja di luar kota,sebisa mungkin mengajak kami. Hari liburpun dihabiskan bersama kami anak – anaknya. Apa mamaku tidak punya hasrat seks lagi ? Kalau melihat umurnya rasanya tidak mungkin. Rasanya aku harus mencoba mencari tahu hal ini.
Biasanya kalau sudah selesai makan malam, aku dan mama menonton TV. Saat sedang nonton TV, biasanya aku sering menaruh kepalaku di kedua paha mama. Malam itu mama memakai baju tidur mini tanpa lengan berwarna putih, dengan belahan dada yang rendah, sehingga makin menonjolkan tetek mama yang besar tersebut, seakan tidak mampu menampung tetek yang besar tersebut. Ugh...ribet deh jadinya aku. Gairahku benar – benar membara, tongkolkupun sudah nyut – nyutan. Gelisah banget rasanya. Kami menonton tanpa bersuara. Akupun memulai percakapan.
”Ma, boleh nggak Irwan nanya sesuatu...?” kataku, sambil membalikkan kepalaku dan badanku, kini kepalaku menatap ke arah perut mama.
”Nanya apa...?”
”Jangan marah ya Ma,” kataku lagi
”Apaan sih, kok serius amat sih Wan,” kata mamaku.
”Nggak, kan mama sudah lama hidup sendiri, apa nggak mau kawin lagi ma..?” kataku.
”Ah kamu ini ada – ada saja. Nggak lah, kan mama sudah bahagia ada kamu dan kakakmu. Memang kenapa kamu tanya hal itu, mau punya papa baru ya..??” canda mamaku.
”Enggak sih, Cuma Irwan ingin nanya saja kok ma.”
Tiba – tiba aku mendapat ide untuk mencoba mencari kebutuhan seks mamaku.
”Ma, jangan marah ya, memangnya mama nggak kesepian..? Mama kan masih muda, masih punya kebutuhan biologis,” kataku hati – hati. Kurasakan mamaku sedikit menegang dan terdiam sejenak.
”Wan, kok nanyanya begitu sih, maksud kamu apa,” suara mama sedikit naik.
”Irwan kan sudah gede ma, sudah mendapat pelajaran di sekolah, jadi Irwan tahulah soal kebutuhan pria dan wanita akan hal itu. Dan Irwan mau mama tahu, kalau Irwan juga menghargai semua keinginan ma. Mungkin dulu Irwan belum paham, tapi sekarang saat sudah tahu, Irwan jadi memikirkan mama, kan mama juga punya hidup.” jawabku sekenanya.
”Wan...Wan, yang kamu pelajari itu memang benar, tapi ada juga yang namanya perasaan dan hati nak, hidup tidak hanya dari teori pelajaran saja, tapi juga dari pengalaman.” jawab mamaku.
”Maksudnya apa ma..?” tanyaku bingung.
”Sebagai wanita mama juga ada kebutuhan yang kamu katakan. Tapi mama juga tidak mau kecewa lagi Wan. Cukup sudah pengalaman pahit dari papamu itu. Bagi mama apa yang mama jalani dan juga memiliki kamu dan kak Erni, sekarang ini sudah cukup dan membahagiakan mama. Dan soal masalah kebutuhan biologis mama, mama rasa bukan masalah kamu, dan masih ada kesibukan dan cara lain untuk mengatasinya” jawab mamaku.
Suasana jadi sedikit canggung, lama kami terdiam, hanya terdengar suara dari TV saja.
”Ma, maafin Irwan yah sudah menanyakan hal yang membuat mama marah dan sedih.”
”Nggak apa – apa kok Wan. Mama senang karena Irwan perhatian sama mama.”
Kembali kami terdiam, mama mengelus – ngelus kepalaku. Aku juga diam saja, tetap dalam posisi kepala menghadap ke tubuh mama. Saat itu aku sedang berpikir, berarti mamaku sebenarnya memiliki kebutuhan seks. Tinggal bagaimana aku menciptakan situasi dan kesempatannya. Toh saat ini cuma ada aku dan mama, kak Erni tidak di rumah. Akupun memulai rencanaku.
Aku segera menaikkan kepalaku ke dada mamaku. Pura – pura bermanja – manja.
”Eh, kamu ngapain Wan...?” tanya mamaku kaget.
”Irwan sayang mama, boleh nggak Irwan nenen sama mama.”
”Ah, kamu ada – ada saja, kan kamu sudah besar nak,” mamaku tertawa.
”Iya, tapi boleh kan Irwan nenen lagi kayak anak kecil,”pintaku manja.
”Nggak ah...konyol deh kamu,”mamaku tertawa.
”Boleh ya ma, kan selama ini nggak pernah,”kataku sambil berusaha mencium puting mama.
”Jangan ah Wan,” kata mamaku berusaha dengan halus menggeser kepalaku, tapi aku terus saja bermanja – manja, akhirnya mamakupun tertawa dan berkata, ”Yah sudah deh, kali ini saja ya, tumben kamu kolokan kayak gini Wan.”
Yes, rencanaku mulai berhasil, mamapun segera menurunkan satu tali baju tidur di bahunya, terpampanglah satu tetek mama yang besar,padat dan masih kencang itu. Putih dengan puting yang juga besar. Lingkaran di sekitar pentilnya dan pentilnya berwarna coklat kemerahan. Aku benar – benar terdiam dan terpesona, walau sering mengintip, tapi berbeda sekali karena kali ini aku melihat secara langsung dari jarak dekat. tongkolku benar – benar mengeras sekali.
”Lho kok bengong, tadi katanya mau nenen,” tegur mamaku.
”Ngg, iya...iya ma, habisnya tetek mama besar banget, masih kenceng lagi,”kataku lagi.
”Ah kamu bisa aja memuji mama yang sudah berumur ini,” mamaku tertawa.
”Benar ma, benar – benar bagus dan mempesona,”jawabku jujur. Tanganku menyentuh tetek tersebut, sungguh nyaman rasanya, kenyal dan keras, sambil mendekatkan mulutku ke puting mama. Lama aku mengemut puting mamaku, sementara mamaku tetap menonton TV. Tangan mama mengelus – ngelus kepalaku, rasanya seperti anak kecil saja saat itu. Aku menghisap – hisap puting mama sambil sekali – kali memainkan lidahku. Puting itu kini benar – benar sudah membesar dan mengeras. Kurasakan mama mulai gelisah, tapi aku tetap melakukannya perlahan – lahan, aku tidak mau tergesa – gesa dan membuat mamaku curiga. Kini tanganku yang satu mulai meremas tetek mama yang satu lagi, aku meremas dan mengenggamnya tanpa melepasnya lagi. Lalu mama pun menurunkan tali baju tidurnya yang satu lagi, kini benar – benar bertelanjang dada. ”Wan, nenen yang sebelah sini juga,” kata mamaku sambil tetap menonton TV. Akupun segera memindahkan mulutku ke tetek mama yang satu lagi. Aku melakukannya tetap seperti tadi, perlahan –lahan dan berusaha senatural mungkin, walau tongkolku sudah berdenyut – denyut, tapi aku tetap sabar. ”Ugh...,”terdengar suara mamaku pelan, duduknya pun mulai gelisah, nafasnya mulai berat. Aku tetap diam saja, seolah – olah tidak tahu. Hanya kali ini aku mulai memainkan – mainkan lidahku dengan lebih cepat di puting mama. ”Ah...,” kali ini elusan mama di kepalaku mulai berubah menjadi sedikit menjambak pelan rambutku.
Akupun menghentikan kegiatan nenen tersebut, dan langsung mengubah posisiku menjadi posisi duduk, di sampingku mama duduk dengan dada telanjang, kedua teteknya yang besar benar – benar menantang, dengan puting yang dalam kondisi mengeras. Ugh...sabar dikit kataku dalam hati.
”Sudah dulu ma nenennya,” kataku santai. Sekilas aku merasa melihat raut muka mama sedikit kecewa, namun mama bisa mengontrolnya dengan baik.
”Benar nih, memangnya sudah kenyang nenennya, Wan, katanya mau kayak anak kecil,” mama mencoba menetralkan dirinya dengan bercanda.
”Iya, tapi nanti – nanti boleh lagi ya ma, Irwan senang deh bisa nenen kayak dulu.”
”Iya, iya, boleh kok, mama juga seperti mengingat kamu waktu kecil dulu” kata mamaku lagi.
Sebenarnya aku sengaja berhenti, yang penting aku sudah mendapat jalan masuk untuk melaksanakan niatku. Aku pun terdiam dan menonton TV. Mama juga menonton TV, tapi entah lupa atau disengaja, tali baju tidurnya tidak segera ia naikkan, jadilah pemandangan tetek mama yang indah terpampang jelas di sampingku. Aku pura – pura saja seperti tidak ada apa – apa. tongkolku benar – benar keras sekali saat itu, karena mataku terus melirik tetek mama.
”Ma, Irwan sudah ngantuk nih, tidur duluan ya. Irwan boleh tidur di kamar mama kan ?” tanyaku.
”Ya sudah, sana kamu duluan, iyalah boleh, biasanya juga sering tidur dikamar mama,” jawab mama.
Akupun segera bangun, dan langsung menuju kamar mama, sambil berjalan ke sana, aku tersenyum karena sebentar lagi nampaknya rencanaku akan segera berhasil. Sesampainya di kamar mama, aku segera membaringkan diri, sambil pura pura tidur, tongkolku sudah lumayan tenang kini. Tidak berapa lama mama masuk ke dalam kamar, mama ke kamar mandi sebentar, lalu naik ke tempat tidur, mengecup pipiku, mengira aku sudah tidur. Ada sekitar setengah jam aku pura –pura tidur, aku juga tidak terlalu yakin kalau mama sudah tidur pulas, tapi aku sudah menetapkan hati, Inilah saatnya, sekarang atau tidak sama sekali, tidak boleh mundur lagi. Kulihat mata mama masih terpejam. Rencanaku, kalau aku pura – pura nenen lagi, paling mama berpikir karena aku lagi kolokan.
Akupun mulai mendekatkan kepalaku ke arah mama yang sedang menghadap aku. Mula – mula aku menghisap tetek mama tanpa menurunkan tali baju tidur mama. Mama diam saja,tidak ada larangan. Tangankupun mulai berani menurunkan kedua tali baju tidur mama. Mama diam saja, tidak ada larangan. Kini aku menghisap tetek mama dengan bebasnya, tanganku yang satu mulai meremas – remas dan memainkan puting tetek mama. Mama masih terpejam, tapi kurasakan tubuhnya mulai menggeliat.
”Ugh..Ooohh..,”terdengar mama mendesah pelan. Aku makin bersemangat dan bergairah mendengarnya. Mulutkupun mulai berpindah – pindah dari puting satu ke puting lainnya. Ada sekitar 10 menit aku memainkan tetek mamaku, dengan kondisi mama tetap terpejam. Tapi aku yakin mama belum tidur. Nampaknya mama menikmatinya. Akupun makin berani dan tangankupun mulai bergerak ke bawah baju tidur mama, ke arah selangkangan mama. Saat tanganku mendarat di atas celana dalamnya, tiba – tiba tangan mama memegang tanganku, dan menepisnya dengan halus. Kini matanya tidak terpejam lagi. Mama kini dalam posisi duduk di atas tempat tidur.
”Cukup Wan, jangan lebih dari itu. Mama tahu dan mengerti kamu sudah besar, sudah masuk usia remaja, mama juga paham kamu bilang mau nenen ke mama sebenarnya karena kamu mulai ingin tahu tubuh wanita.” kata mama.
”Mama tidak keberatan kamu bermain – main dengan tetek mama, tapi jangan lebih dari itu ya Wan,”kata mama lagi.
”Tapi ma, kenapa harus begitu, mama jahat, kenapa mama seperti itu,” aku berargumen.
”Wan, aku ini mamamu, tidak boleh kita melakukan hal yang seperti kamu inginkan itu,”kata mama lagi.
”Mama bohong, sebenarnya mama menikmati kan. Sebenarnya mama juga inginkan,”aku terus menyerang pertahanan mamaku.
”Memang, tetapi hanya sampai batas itu, tidak bisa lebih jauh lagi,” jawab mama tenang.
”Irwan sayang mama, dan mama harus tahu itu, Irwan mau melindungi mama, tidak mau mama kecewa, juga mau mama menjadi yang pertama bagi Irwan, mama tidak akan kecewa atau disakiti lagi, karena Irwan menyayangi dan tidak akan pernah mau menyakiti hati mama.”
Hening sesaat, nampaknya mama terguncang mendengar kata – kataku, mama terdiam dan menundukkan kepalanya, kulihat mama meneteskan air matanya. Aku terkejut dan segera bangkit, aku peluk mamaku.
”Ma, mama marah yah...?”
”Tidak sayang, mama tidak marah, justru mama bahagia, karena Irwan menyayangi dan amat perhatian sama mama. Benar – benar tidak mau mama kecewa lagi.”
Lalu mama juga memelukku, lama kami saling bepelukkan, kemudian mama berkata kembali, ”Mama senang dan sekaligus bingung, karena kamu memilih mama sebagai yang pertama dalam hidupmu. Seharusnya kamu memilih gadis lain Wan.”
”Ma, bagi Irwan, mamalah yang terbaik, mamalah yang harus memiliki Irwan pertama kali, tidak ada penyesalan, bahkan Irwan akan merasa bahagia ma.”
Mama masih terdiam dan tetap memelukku, sudah tidak menangis lagi, tangannya membelai lembut kepalaku. Aku diam saja, membiarkan mama bermain dengan pikirannya. Lalu mama berkata kembali
”Sebenarnya kita tidak boleh melakukan hal ini, aku mamamu dan kamu anakku. Garis itu tidak boleh dilanggar...”
”Tapi ma...,”aku memprotes, tetapi diam kembali karena mama segera memotong kalimatku
”Toh yang melakukannya adalah kita, tak ada orang lain yang dirugikan, tak ada orang lain yang disakiti, semua resiko dan tanggung jawab adalah milik kita.”
”Jujur saja, mama juga wanita yang punya kebutuhan seks, tapi mama takut menjalin hubungan lagi karena mama tidak mau mama dan anak – anak mama kecewa kembali. Kala kamu mau tahu saat hasrat mama muncul dan tak tertahankan, mama menggunakan vibrator dan masturbasi, toh yang namanya gairah akan hilang, kalau sudah orgasme. Tak perlu menjalin hubungan kalau hanya untuk mengatasi hal itu.”
”Tapi tadi saat kamu minta nenen, dan memainkan puting mama, mama mulai merasakan api gairah yang ada di dalam mama, kembali menyala, walau awalnya ragu, namun mama yakin, dengan kamu mama tidak akan kecewa dan sakit, kita sama – sama menyalurkan hasrat terpendam kita.”
”Mama sadar mama tidak bisa dan trauma dengan pria lain, tapi mama tahu kalau dengan Irwan, mama tidak akan sakit, karena Irwan menyayangi mama. Juga lebih baik mama yang mengajari dan memuaskan keingintahuan seks kamu daripada kamu harus melakukannya dengan perempuan penghibur.”
Mama melepaskan pelukannya, lalu berdiri dan melepaskan baju tidurnya. Kini hanya bercelana dalam saja. Lalu mama berbaring.
”Wan, ingat ini hanya menjadi rahasia kita berdua, kamu boleh memiliki mama kapanpun, namun jangan sampai kakakmu tahu.”
”Kini kamu lakukan yang kamu inginkan ke mama, jangan takut mama akan membimbing dan mengajarimu. Nanti kamu sendiri yang harus membuka celana dalam mama. Puaskan mama dan dirimu.”
”Lakukan dengan santai saja Wan. Mama mau pengalaman pertama kamu ini menjadi pengalaman yang berkesan dan indah dalam hidupmu.”

kakak iparku dan pengertiannya

Tak terasa sudah hampir setahun lebih aku menjalani hari – hari menyenangkan bersama mama. Saat itu usiaku sudah mau 17 tahun, sudah naik kelas 2 SMA. Untuk masalah pelajaran, aku termasuk dalam kategori pandai, walau jarang belajar tapi nilai – nilaiku selalu baik, mungkin karena aku memiliki kemampuan mengingat yang kuat. Meski lumayan sering bolos namun tidak menjadi masalah, karena sekolahku tidak terlalu ketat, dan juga nilaiku yang baik membuat bolosku tidak terlalu menjadi masalah bagi sekolah. Namun untuk antisipasi mama kusuruh bertemu kepala sekolah, kusuruh mama ngebokis sedikit, mama bilang kalau aku kadang tidak masuk harap dimaklumi, karena kondisi fisikku kurang baik, jadi suka sakit tiba – tiba. Dan kepala sekolahpun dapat memahami, karena yang memberikan keterangan adalah orangtua muri sendiri. Dari segi kehidupan Sekskupun aku sudah semakin pintar. Selain dengan mama, aku pernah melakukan hubungan Seks dengan 2 orang teman sekolahku, yang kutahu bukanlah tipe wanita yang melakukan seks untuk bayaran. Murni karena suka sama suka saja, nggak ada paksaan atau ikatan, saling menikmati saja. Aku nggak pernah merasa harus mulai sibuk cari cewek atau pacaran, bagiku keberadaan mama sudah cukup dan jauh lebih berarti. Mama sendiri kini semakin sukses dengan bisnisnya, Perusahaannya kini semakin berkembang dan diperhitungkan eksistensinya dalam dunia bisnis. Mama juga terlihat lebih cantik dan bahagia dengan keadaan yang kami jalani.
Mama sendiri tetap sering mengingatkan aku, bahwa aku bebas mencari pacar, namun aku harus bertanggung jawab. Mama nggak mau aku main dengan pelacur. Mama juga bilang kalau mencari wanita carilah yang membuatku nyaman dan merasa bahagia. Mama bilang mama nggak bisa mengontrol aku setiap waktu, mama juga nggak bakal tahu kalau aku berbohong, jadi mama menasehati, kalaupun aku melakukan hubungan seks dengan siapapun nantinya yang menjadi pacarku, aku harus bersikap gentle dan bertanggung jawab, jangan hanya mau enaknya saja, semua resiko harus diterima dan dipertanggungjawabkan. Mama akan marah kalau aku misalnya lari dari tanggung jawab bila menghamili orang. Mama merasa perlu mengutarakan hal ini karena mama bilang, bohonglah kalau aku yang sudah kenal seks ini bisa melakukan pacaran tanpa harus melibatkan seks. Jadi mama merasa berkewajiban memberiku nasehat.
Namun aku yang sedang merasakan bahagia dan kenikmatan hubungan dangan mamaku, tidak terlalu peduli, bahkan aku merasa tidak niat cari pacar, mama sudah cukup. Aku bilang ke mama, bahwa saat ini mama adalah mamaku dan juga istriku. Tidak peduli mama setuju atau tidak, mama adalah juga istriku. Aku selalu berkeras akan hal itu, karena bagiku memang seperti itu, aku bahagia sama mama,dan menganggap mama adalah segalanya bagiku. Namun aku tidak pernah mau memanggil nama mamaku, Susan, bagiku panggilanku saat bercakap, saat sedang berstubuh adalah Mama. Aku merasakan sensasi tersendiri dengan satu kata itu : Mama. Mama sendiri akhirnya mengiyakan keinginanku yang keras itu.
”Iya saat ini mama juga adalah istrimu dalam kehidupanmu, namun hanya sampai kamu menemukan istri yang sebenarnya ya Wan. Dan jangan protes lagi, atau mama akan marah.... ” Senang hatiku mendengarnya, mama setuju menjadi istriku. Walau hanya kami saja yang tahu, itu sudah lebih ari cukup bagiku.
Kakakku Erni sendiri saat itu 19 tahun dan baru saja kuliah jurusan Psikologi. Sering nggak tentu datang ke rumahnya, lebih banyak di kota B di rumah opa omaku. Kakakku ini amat sayang padaku, juga pada mamaku. Orangnya sendiri supel, terbuka. Kakak amat memanjakan aku, juga paling senang becanda sama aku. Hubungan kami sangat dekat dan akrab. Biasanya kalau kakak datang, kami bertiga pergi makan keluar, terus jalan – jalan ke mall, cafe atau nonton bioskop. Tentu saja aku dan mama harus menahan diri dan berhati – hati kalau ada kakak, untungnya kakak tahu kalau dari dulu kadang – kadang suka tidur di kamar mama, jadi tak akan curiga kalau aku di sana, paling berpikir aku masih kolokan, namun secara umumnya sih jatahku berkurang. Kalau untuk fisiknya, kakakku juga cantik, berambut panjang, tinggi juga hampir 170 cm, bodinya seksi, dadanya juga besar. Jujur saja, aku tidak terlalu memiliki niat atau hasrat melakukan hubungan seks pada kakakku ini. Kalau untuk urusan seksi, iyalah, sama seperti mama, kakak juga nggak terlalu memperhatikan busana kalau di rumah, di depan aku juga tidak canggung untuk memakai daster atau baju tidur yang mini, juga kalau berenang tidak canggung memakai bikini. Bohong kalau aku bilang tongkolku tidak tegang kalau sedang melihat kakak berbikini, tapi itu kan wajar saja, aku kan lelaki normal. Tapi untuk melakukan hubungan seks, rasanya aku nggak terlalu memikirkannya, karena aku sudah bahagia dan cenderung menyukai melakukannya dengan mama yang kuanggap sudah matang dan sedang dalam kondisi tubuh sempurna sebagai wanita. Aku benar - benar lebih suka melakukan dengan mama. Semua hasratku bisa tersalurkan bersama mama. Kalau sama mama aku benar – benar tidak bisa mengontrol hasratku, tapi kalau sama kak Erni, entah kenapa aku masih bisa menahan diri sengaceng – ngacengnya tongkolku. Tapi kadang jalan kehidupan memang tidak dapat ditebak, akhirnya aku juga melakukannya dengan kak Erni. Prosesnya agak sedikit aneh dan tidak terduga olehku dan akan kukisahkan di sini.
Pagi itu aku libur sekolah, biasa katanya ada rapat guru, mama sudah berangkat ke kantornya. Suntuk benar campur capek sisa menggarap mama tadi malam. Si Mbak yang biasa nyuci kayaknya datang hari ini dan lagi nyuci di belakang, mungkin tadi sudah ketemu mama. Aku lalu sarapan sambil membaca koran olahraga. Nggak lama kemudian aku nyalain TV, nonton acara musik. Sejam kemudian si Mbak pamit pulang. Bosan juga, mau internetan malas...terus aku ingat ada kaset PS3 yang belum aku coba, segera aku ke kamar, ngambil PS3 dan kasetnya, main di ruang keluarga saja deh. Lumayan juga, game balapan mobil jedar jeder ini bisa bikin hati senang. Tidak terasa sudah siang.
”Hei...!” tiba – tiba terdengar suara jeritan ceria dan tangan yang menutup mataku. Terasa ada empuk – empuk tetek menempel di bahuku.
”Aduh kak Erni ngagetin saja nih.”
”Kok nggak sekolah Wan ?”
”Libur. Kakak juga tumben datang nggak kasih kabar ?”
”Sengaja kok, kakak lagi libur semesteran.”
”Naik apa kemari kak ?”
”Tadinya sih mau bareng sama temanku, tapi mereka baru balik besok, akhirnya naik kereta api tuh.”
”Coba telepon dulu, kan bisa Irwan jemput di stasiun.”
”Hehe...biar suprise ah. Mama juga nggak tahu tuh.”
”Gimana kabar opa sama oma kak ?”
”Baik, kamu tuh jarang nengokin, padahal kan ke sana sebentar.”
”Iya..iya cerewet amat.”
”Gimana sekolahnya ? Sudah punya cewek belum ?”
”Ih...nih orang cerewet deh, mending kakak istirahat dulu, terus telepon mama.”
”Oke boss...”

istriku selingkuh ngentot dengan mantan pacarnya


Berawal dari perselingkuhan istri saya dengan mantan pacarnya waktu sma, gw jadi memiliki kebiasaan seks yang tidak wajar. Berikut cerita dewasa yang lebih lengkap.
Bermula sekitar 4 thn lalu, saya keluar dari pekerjaan dan mencoba merintis usaha sendiri, untuk itu supaya saya bisa survive maka anak sama istri saya , saya taruh di kampung di daerah jawa barat, untuk itu saya jarang pulang ke rumah, paling2 satu bulan sekali paling cepat. Setelah beberapa bulan berjalan setiap saya pulang ke kampung, saya suka mendengar tetangga di kampung suka membicarakan tentang istri saya yang mulai kembali berhubungan dengan mantan pacar pertamanya waktu SMA dulu, Cuma saya tidak begitu menanggapi , Cuma karena udah terlalu sering dan gosipnya sudah mulai macam2 dan menjurus ke hal2 yang negative (katanya mantan pacar istri saya ini suka masuk rumah saya malam2), maka saya juga jadi penasaran , untuk itu saya mulai membuat sebuah rencana untuk menjebak mereka , kebetulan rumah yang saya dan istri tempati ini adalah bekas rumah kakaknya mertua saya dan jaraknya sekitar 20 mtr dari rumah mertua, jadi saya berpura2 setiap pulang ke kampung saya tidak pernah tidur di rumah, melainkan tidur di rumah mertua dengan alasan sambil mengerjakan proyek, kebetulan juga rumah yang saya tempati itu listriknya tidak kuat, suka mati kalo di pakai untuk membetulkan mesin, makanya dengan alasan itu , saya bisa memasang kamera mini yang saya pasang di ruang tamu dan satu lagi di kamar tidur istri saya (kebetulan istriku dulunya agak gaptek dia tidak tahu kalau sedang di awasin pakai kamera ), kebetulan anakku dua2nya sudah pintar tidurnya di kamarnya sendiri.
Satu dua hari belum ada tanda2 yang mencurigakan, saya juga bingung padahal kata orang2 si Ujang ( nama mantan pacar istri saya ) hampir tiap malam, datang ke rumah, setelah saya selidikin ternyata dianya sedang pergi ke Bandung sedang mengurus surat2 mobil ( pantesan tidak kelihatan seharian ). Pada malam keempat, tiba2 di kamera terlihat istri saya berjalan mengendap2 menuju pintu, sambil membuka pintu perlahan2, begitu pintu terbuka masuklah si Ujang ke dalam rumah , dan saya yakin itu si Ujang, dari perawakannya yang tidak terlalu tinggi dan sedikit gemuk, sama rambut ikal sedikit gondrong tidak salah lagi itu memang benar si Ujang mantan pacar pertama istri saya ( herannya kok istri saya mau yah ), mereka berdua mengobrol sebentar, saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan soalnya kameranya memang tidak saya pasang audionya, takut berisik, nanti mertua saya malah curiga, selama ini kan beliau tahunya saya sedang membetulkan TV di kamar, tidak berapa lama kemudian , ‘EHHH’ si Ujang itu malah mulai memegang2 tangan istri saya, terus tangannya mulai membelai2 rambut istri saya dengan mesra , ‘KURANG AJAR’ saya jadi panasss bangett, cuma saya mencoba untuk menahannya, tidak berapa lama malah istri saya yang memegang pinggang si Ujang, terus menarik2 tangannya dan mengajaknya menuju ke kamar,
‘bangs*tTT!!!!’, saya memaki dalam hati, saya sudah mulai tidak bisa menahan diri lagi, apalagi ketika si Ujang juga mulai membalas merangkul tubuh istri saya , tangan saya sudah mengepal rasanya mau memukul saja gambar yang ada di TV, tidak berapa lama mereka berdua masuk ke dalam kamar, buru2 saja saya memindahkan jegnya ke kamera yang saya pasang di kamar tidur, celakanya begitu saya pindahkan malah jadi tidak jelas, tidak keluar gambarnya !!, mungkin karena penerangannya kurang memadai kali ya, dari pada keduluan mereka langsung aja saya keluar kamar dan menuju ke rumah saya, mertua saya sampe kaget melhat saya keluar kamar dengan terburu2, “ Aya naon A’? kok keburu2 ? “ tanya bapak mertua , “ Ohh , itu pak mau ambil tang “, saya jawab sekenanya aja deh.
Saya langsung pergi setengah berjingkat, takut berisik, saya masuk dari dapur, kebetulan pintu dapur mertua , berhadap2an dengan pintu dapur rumah saya , begitu masuk saya langsung bergegas menuju jendela kamar yang mengahadap dapur, kebetulan jendela di kampung umumnya cuma di tutup pakai kain saja, jadi saya bisa mengintip agak mudah dan jelas, dan ketika saya membuka sedikit, ‘WADUHH !!’ istri saya sama si Ujang sudah tidur2an di kasur, si Ujang sudah mulai mencium pipi istri saya, tapi anehnya kali ini saya malah tidak merasa emosi tuh, soalnya saya lihat istri saya juga menikmati sepertinya, matanya merem, terus tangannya mulai di lingkarkan di leher Ujang, terus kepala si Ujang di tariknya sampai wajah si Ujang berhadapan dengan wajah istri saya, ‘SETANNN !!!’ bibir istri saya mulai melumat bibir Ujang, “ mmpphh…mmpphhh “ Ujang dan istri saya berpagutan mesra, aneh sekali, perlahan2 kemaluan saya malah bergerak nih, ‘ SOMPRETT !!!!, kenapa malah bangun nih kanjut’ pikir saya ,
‘WAH’ dari pada saya malah jadi salah tingkah akhirnya saya ambil aja kursi yang ada di dapur, pelan2 saya duduk di kursi sambil mengintip, saya lihat istri saya sudah mulai menarik2 kaos si Ujang, “ A’ ayo buka atuh kaos sama celananya “ rengek istri saya, Ujang menurut, dia mulai membuka kaosnya, sambil menurunkan juga celana panjangnya, “ Is… ( nama istri saya Euis ), biar Aa’ yang buka baju kamu yahh? “ Ujang berkata sambil tangannya mulai menarik kaos tanktop istri saya, ‘ WAHH !!! ‘ makin keras aja nih benda di selangkangan saya melihat adegan itu, tidak berapa lama terlepaslah baju istri saya, terus perlahan tangan Ujang mulai menurunkan celana Hawaii istri saya, posisi istri saya yang tengah tiduran celananya di tarik hingga lepas, sekarang pasangan selingkuh ini sudah setengah bugil, saya melihat benda di dalam celana dalam si Ujang sudah mulai berubah, tangan istri saya sudah mulai menyelinap masuk kedalam celana dalam Ujang, kelihatannya istri saya sudah mulai meremas2 kemaluan si Ujang, dan Ujang juga tidak mau kalah, dia mulai melepas tali Bra istri saya, sebentar saja sudah terlepas deh Bra istri saya, Ujang mulai meremas payudara istri saya secara perlahan2, walaupun sudah sedikit mengendur ( maklum sudah punya anak dua ) tapi dari bentuk sih masih lumayan bagus, apalagi puting susunya juga tidak terlalu besar, sambil merem-melek keenakan si Ujang mengulum pentil susu istri saya, yang sebelah kiri, sementara tangannya yang kanan terus meremas2 payudara istri saya yang bagian kanan, “ Ssssshhh….Aa’, enakkk bangettt sihhh….”, istri saya mengerang keenakan badannya menggeliat2, sementara tangannya terus giat meremas batang kemaluan si Ujang, “ Mmpph..mmbb…mbb…uhhhh….aku juga enak nih Iissss…..”, rintih Ujang sambil terus mengulum pentil susu istri saya, “ Aaaa’ udahhh donggg… E
uissss… gak kuattt nihhh….”, istri saya menggelinjang, mendesah sementara tangannya sudah mulai berusaha melepaskan celana dalam si Ujang, tangan Ujang beringsut melepas celana dalammya sendiri, batang kemaluannya menyembul keluar dan menggantung, ukurannya sedang2 aja tuh kayaknya tidak berbeda jauh dengan kemaluan saya.
Begitu batang kemaluan itu lepas dari sangkarnya, istri saya dengan sigap menangkap kemudian meremas2 dengan gemas, karuan saja ini membuat Ujang mengerang, “Aahhhh….Iissss…ssshh …Uuhhh…..” Ujang melepas kulumannya di pentil susu istri saya, dia duduk bersandar di tembok, istri saya yang sudah gemas langsung aja melahap batang kemaluan Ujang, ujung kemaluan si Ujang di kenyot kuat2, Ujang mengerang kepalanya mendongak ke atas, perutnya tertarik saking kuatnya kenyotan mulut istri saya, “ Aaarrrgggghhhhh…..Euisss!!…. ..Ampuuuunnnnnn, Ouuhhhhhhhh…………”,
Istri saya mulai mengulum2 batang kemaluan Ujang, batang itu dia masukin terus di keluarin lagi dari mulutnya,” Ouuwbb…nymmm..mmhhh….slrrrupp. .”, mulut istri saya,
terus menyiksa batang kemaluan Ujang, Dia mulai kepayahan tangannya meremas2 rambut istri saya, “ Euisss…..uddaaahhh..aahhh…uran g..teu kuattt deui…uuhhh….”, Ujang merintih sambil berusaha menarik kepala istri saya supaya mulutnya lepas dari kemaluannya. Tetapi istri saya sepertinya sudah kesetanan, sambil terus mengocok batang kemaluannya Ujang, mulutnya mulai membantai biji kemaluan si Ujang, mulutnya mulai mengulum sambil sesekali menggigit dua bola daging yang di tumbuhi bulu itu, Ujang menggeliat2 keenakan sesekali mulutnya menyeringai, mungkin ia sedang merasakan geli bercampur sakit karena biji kemaluannya sesekali digigit oleh istri saya , “ Akhh….ssshhh.. Ouhh…Ngeunahhh euyy….trusssshhh…enaaakkkkhhh. .”, Ujang mengerang panjang sepertinya dia benar2 kepayahan deh, istri saya memang paling jago kalo di suruh Blow Job, saya saja lebih sering keoknya, “Mmbbbhhh….heghh…uukh..ukh…”, mulut istri saya terus mengulum, menggigit sambil tangannya mengocok batang kemaluan Ujang.
Selang beberapa menit kemudian saya melihat Ujang menarik kuat rambut istri saya, badannya terdorong ke depan, suaranya mengerang parau, “ Aarrrgghhh…Euiss… uranggg keluarrrrrr….aaahhhhhhh…”, dan….’crett..ccrett’ menyemprot lah cairan sperma Ujang di mulut istri saya, “ I..ih..ih.. Aa’ kok udah di keluarin sihhh???? “, istri saya protes sambil terus mengocok kemaluan Ujang hingga tetes sperma yang terakhir keluar, “ Ouhh..ukhh…Ukh.. habis geli sih Is …sshhh…aahhhh..”, tubuh Ujang ambruk ke kasur, sementara istri saya berusaha membersihkan mukanya yang belepotan cairan kenikmatan si Ujang, “ Terrusss…aku gimana dong Aa’… ?, rengek istri saya, ‘Huh !! Sialan !!’ kalo gak lagi ngintip sudah saya aja deh yang mengantikan si Ujang buat menyetubuhi dia, soalnnya nih kanjut sudah tegang 200%, ‘GILA !!’ horny nya lebih dari kalau saya melihat adegan di filem Be-eF atau kalau pas mau menyetubuhi istri saya , dua kali lipat , ‘Gustiiii…’ benar2 sensasi yang luar biasa, sampai2 saya harus membuka resleting celana , untuk membuat kanjut ini bisa bernafas..
Tak berapa lama kemudian istri saya sudah rebah di samping Ujang, sementara tangannya masih mengelus2 kemaluan Ujang yang sudah sedikit lembek, “ Aa’..gimana dong?..kanjutnya jadi lemes gini…”, rengek istri saya sambil tangannya di selusupkan ke dalam celana dalamnya sendiri ( sepertinya istri saya benar2 dikuasai nafsu birahi yang kuat ), “ Ayo dong Aa’ ini lubangku udah gatelll….ihh..”, kembali dia merengek,
“ Sini Is…, Aa’ jilatin mau gak? “, lirih Ujang sambil mencium pentil susu istri saya , Ujang mulai membuka celana dalam istri saya, kemudian dia membuka paha istri saya lebar2 sehingga lubang kemaluan istri saya keliatan jelas, walaupun sudah pernah melahirkan sampai dua kali, tapi lubang kemaluan istri saya masih lumayan menggigit, ( tau deh sudah berapa kali lubang istri saya di masukkin kemaluannya si Ujang ), Saya melihat Ujang mulai menyiumi perut istri saya, kemudian semakin lama semakin turun, pas sampai di lobang kemaluannya, istri saya menjerit kecil, “ Ouhhh….Ahhhhh….sss
ssshhh…jangan di gigit Aaaa’, sakittt….”, jerit istri saya sambil tangannya meremas seprei kasur ,‘Sialan!!’, rupanya si Ujang balas dendam tadi kemaluannya di gigit istri saya, Ujang mulai menjilat2 lubang bagian dalamnya, hal ini membuat istri saya menggelinjang2 keenakan ( Padahal dia gak pernah mau kalau kemaluannya di jilat saya, takut songong katanya ), “ Ouuww…ssshh…gelliiiiii…uhh…sss hhh….geliiii..”.
istri saya mengerang2, makin beringas saja Ujang memainkan lubang kemaluan istri saya, sementara saya lihat istri saya semakin liar, kepalanya di goyang kekiri-kekanan, tangannya menjambak dan menarik2 rambut si ujang, pinggulnya ditarik maju mundur “Ouuhhh…owwhh..ssshhh…udahhh.. udahhh..geliiii..”, rengek istri saya, ‘Waduhh’, mendengar istri saya mengerang2 semakin tegang aja nih kanjut, apa kanjut si Ujang juga sama?…Ehh..ternyata sama juga tuh, saya lihat kemaluan si Ujang perlahan2 mengeras, sambil terus menjilat kemaluan istri saya, Ujang mengocok2 kemaluannya sendiri hingga makin lama kelihatan kemaluannya semakin tegang,
“ Sshh…mmbb..slrruppphh…nymmh..n ymm…sshhh..”, Ujang terus membantai lubang kenikmatan istri saya, “ Euis…kanjut Aa’ udah siap nihh..di lanjut teu..???”, Tanya si Ujang sambil mengocok kemaluannya di depan lubang kemaluan istri saya,
“ Lanjutiinnn…Aaa’..udah basah nihh….uhhhh…”, desis istri saya sambil mengangkang lebar2. Sejurus kemudian Ujang mulai memasukan kemaluannya di lubang kenikmatan istri saya, “ Ssssshhh……….”, Ujang mendesis panjang ketika kemaluannya masuk kedalam lubang nikmat istri saya, “ Uhhhhh….ssshh….aahhh
Ouhhh…..enakkk…”, istri saya mengerang kenikmatan kelihatannya dia memang sudah tidak sanggup menahan birahinya, “ Ayuh atuh Aa’…di kocok dong kanjutnya…”, rengek istri saya. Ujang mulai menggenjot kemaluannya turun naik, ‘slepphh..clepp..cleephh..’ bunyi kemaluan istri saya nyaring sekali, itu menandakan kalau lubang surga istri saya sudah basah sekali dengan cairannya dia sendiri, sementara si Ujang berusaha memompa birahinya biar sampai puncak, tapi karena dia tadi sudah keluar sepertinya bakal lama nih ejakulasinya,
“ Ukhh..uhh..ukhh…ahh..ahhh..ukh …sshhh…uuhhh….ouhhh…” suara dua insan yang di kuasai nafsu memenuhi ruangan kamar, sesekali Ujang mengulum pentil susu istri saya, membuat istri saya semakin menggelinjang, “ Eeeehhh..ssshhh…enakkk Aaaa’…terusss..auwwwhh….ngeuna hhhhhh…..Ooooooooo..”,
melihat istri saya keenakan, Ujang terus mengulum pentil susu istri saya sambil terus mengocok kemaluannya turun naik, semakin lama semakin cepat sehingga membuat istri
saya tidak kuat lagi menahan birahinya pinggulnya bergoyang cepat pantatnya diangkat dan….”Aaaaaahhhh…E uissss……..keluarrrr….A’aaaa…Oo ooooouuhhh……..”,
Istri saya mengerang sambil pahanya di tutup rapat menjepit pantat ujang, ‘ serrrr…..’ cairan istri saya keluar sepertinya, saya melihat dari celah lobang kemaluannya, mengalir cairan bening, tangan istri saya meremas punggung Ujang kuat2, “ Akhh…aauwwwhh….ssshh…..Aahhhh… .ouhhhhhh…enakkkk……….”
Ujang yang merasakan hangat di kemaluannya semakin kuat menggenjot lubang surga istri saya sesekali pantatnya di putar2 sambil di dorong habis ke depan,
“ Ugh..ukh…uhh…uhhh…lobangnya banjirrr….uuhhh…”, rintih Ujang sambil terus mengocok kemaluannya, “ Ahh…uhhh…Brenti dulu…A’…Euis ngiluu….akhh..”, istri saya menjerit2, tapi kelihatannya Ujang gak peduli, dia terus menggenjot, karena merasa ngilu, istri saya membalas dengan menggoyangkan pantatnya kekiri-kekanan, sambil sesekali di hentakkan ke atas, Karuan aja si Ujang kewalahan, kemaluannya berdenyut-denyut ,“Ahhh…sshhhh….enakkk.ahh..ahh h…Ough”
Ujang mencengkram kedua tangan istri saya, gerakan pantatnya makin cepat, dan beberapa detik kemudian pantatnya di hentakkan kuat2….” Aarrrgggghhhh…..urang keluarrr …Isssssss………..Arrrrhhhhhhhhhhh ….Ouuhhhhh………….”,
‘Crootttttt..crottt…’, Ujang mengerang panjang pantatnya berkedut2, tubuhnya di hempaskan di atas tubuh istri saya pantatnya terdorong ke depan sangat kuat, “ Ahhhh….sssshhhhhhh…..oouuhhhhh …..enakkk…..”,
lenguh Ujang sambil sesekali menggoyangkan pantatnya, kulihat spermanya mengalir keluar dari celah2 lobang kenikmatan istri saya, ‘ Sialll si ujang!!, ngapain air maninya di buang di dalam, untung aja istri saya KB kalo gak’, umpatku dalam hati, gak berapa lama Ujang turun dari tubuh istri saya, ‘ kesempatan nih mumpung dia berdua masih lemes, saya kerjain ah saya pura2 grebek aja’, pikir saya, soalnya terus terang saya juga gak marah dengan kelakuan mereka berdua malah saya menikmatinya, lihat aja ujung kepala kanjut saya malah basah, terus pelan2 saya jalan ke pintu kamar
‘Brakkkkk!!!’, pintu kamar saya tendang hingga terbuka, Ujang dan istri saya kaget bukan kepalang, “ bangs*ttt !!!, ngapain kamu berdua Ha???..”, hardik saya, muka Ujang pucat pasi istri saya langsung panik, “ A..ampun..kang..ampun….”, kata Ujang ketakutan,
“ Iya A’ aku juga minta ampun…”, rengek istri saya langsung mencoba memeluk badan saya, Cuma saya dorong lagi aja ke tempat tidur, “ Kamu berdua bikin malu!!, sekarang juga kamu berdua ke kantor desa!!, saya tarik tangan si Ujang, Ujang langsung sujud di depan saya, “ Ampuunnn kang, jangan bawa saya ke Kuwu ( panggilan kades kalo di kampung ), tolong saya kang, nanti bapak saya tahu dia jantungan ( si Ujang memang belum punya istri dan masih tinggal bersama orang tuanya ), saya mau di suruh apa aja, saya mau kang asal jangan di bawa ke pak kuwu, tolong kang..”, Ujang merengek sambil mencium kaki saya, gak berapa lama istri saya juga ikut sujud di kaki saya, “ Iya A’, tolong jangan bawa saya ke desa, Aa’ boleh ceraikan saya, saya rela…tolong jangan bawa ke desa nanti bapak jadi malu, kasian bapak A’..”, rengek istriku sambil terus menyiumi kaki saya, ‘Hmm…ini dia saya kerjain aja nih’ pikir saya dalam hati.” Ya sudah begini saja, kamu Jang bikin surat perjanjian bahwa kamu mau ngelakuin apa aja yang saya suruh, kalau kamu menolak, urusannya aku bawa ke kantor polisi, gimana?”, tanya saya sambil mengambil kertas dan ballpoint dari dalam laci, “ Iya kang saya sanggup…”, jawab Ujang lirih, sambil bangun menuju meja, “ Kamu Is!, kamu juga buat perjanjian kalau kamu juga mau aku suruh apa aja, kalo gak aku kasih tahu bapak kelakuan kamu ini dan aku laporin polisi karena kamu sudah berselingkuh”, kata saya sambil memberikan kertas ke istri saya, “ Iya A’, maafin saya yah…”, setelah kedua2nya selesai membuat surat perjanjian, saya suruh mereka berdua untuk ‘main lagi, “ Nah sebagai hukumannya kamu berdua harus mengulangi apa yang kamu perbuat tadi di hadapan saya, saya mau merekamnya buat bukti” kataku sambil mengambil HP kamera yang ada di saku ,
Ujang dan , saling pandang, mereka gak nyangka hukumannya bakal aneh begitu,
“ Tapi A’..? “, istri saya keheranan sementara Ujang cuma menunduk lesu, “ Sudah kamu mau apa tidak?, kalo tidak aku ke pak kuwu sekarang..”, aku berkata sambil mengarahkan kamera ke mereka berdua, “ I..iya,,deh A’…saya mau…” sahut istriku terbata2, “ Kamu jang..???…”, tanya ku, “ Saya terserah akang aja, tapi kayaknya saya gak sanggup kang tadi udah keluar dua kali, lagian saya malu kalo di liatin”, jawab Ujang sambil memegang kemaluaanya yang sudah lembek, “ Gak usah malu Jang, anggap aja aku gak ada, kan mumpung akunya juga gak marah, jadi kamu bisa main sepuas kamu gimana?”, kataku meyakinkan si Ujang, “ Ya udah deh kang, beneran gak apa2 nih aku main sama istri akang??”, tanya Ujang lagi, “ Udah, beneran gak apa2 kok, sana naik ke tempat tidur gih!!”, sahutku.
Ujang beringsut naik ke tempat tidur, sementara istri saya sudah duduk di atas tempat tidur, badannya sedikit di tutupi selimut, “ Euis !!, ngapain di tutupin biarin aja di buka, biar Ujang bisa nikmatin tubuh kamu “, kata saya mirip seorang sutradara yang sedang memberikan pengarahan ke para pemainnya, Ujang duduk di sebelah istri saya, mukanya masih pucat ketakutan.
“ Ayoh !!… Is…bangunin tuh kanjutnya si Ujang, kamu khan..jagonya kalo bangunin kanjut.”, kataku sambil mulai merekam mereka berdua, perlahan Euis bangun dan mulai menghampiri kanjut Ujang, jari tangannya yang lentik mulai mendarat di batang kanjut Ujang, sementara ujang mulai rebah di kasur, rupanya dia juga gak mau terlalu terlihat mukanya oleh sorotan kamera HP-ku, Euis sudah mulai beraksi, dia kelihatan agak canggung mungkin malu sama aku suaminya, mungkin pikir dia mana ada suami yang menyuruh istrinya bersetubuh dengan orang lain, “ Eh Euis.yang bener atuh,kalo kanjut Ujang gak keras2 kapan kalian mau mainnya???..”, kataku sambil terus merekam, Euis pun mulai memasukkan kepala kanjut Ujang di dalam mulutnya, dia kulum2 pelan2 sesekali dijilat2 ujung kepalanya, Euis memang pintar untuk yang satu ini, dia tahu titik mana di bagian kemaluan Ujang yang paling sensitif, buktinya Ujang mulai menggelinjang kegelian, Cuma dia gak berani mengeluarkan suaranya, “Heh…Jang…mana suaranya???….tadi waktu main yang pertama kok keras sekarang kok diam??,..Hayo…keluarin suara kamu !!…”, perintahku, Ujang dengan sedikit malu mulai bersuara, “ Sssshhhh…..mmmmpphhhhh….terrus ss..Iissss….ouhhhh….”, rintih Ujang,
Euis juga makin bersemangat ketika melihat batang kanjut Ujang mulai mengeras, sisa2 air mani Ujang yang mulai mengering tidak di hiraukannya, dia terus menjilat dan mengulum2, “ Mmmmpppphhh…slrruuuppphhh…emmm mhh..emmhh…emmhh..”,
Kemaluan Ujang dia putar2, buah zakarnya di kulum sambil di tarik2 sampai kempot, karuan saja Ujang makin keenakan, “ Okh..Ukhh…ssshhh…enak..Is, benerrrrr….”, Ujang mengerang2 tangannya mulai meremas2 rambut istriku, sementara aku yang menyaksikan adegan itu juga mulai horny lagi nih, aku buka tali ikat pinggangku kemudian kanjutku kubiarkan keluar, Euis sempat melirik perbuatanku, Cuma dia tidak bisa komentar karena mulutnya penuh dengan biji zakar milik Ujang, sementara tubuh Ujang menggeliat2 sepertinya dia merasa ngilu karena sudah dua kali kanjutnya memuntahkan air mani, “ Uughhh…ohhh…ngiluuu euy..Iss…ngiluuu..atos atuhh..”,
Rengek Ujang memohon supaya istri saya menghentikan pembantaian pada kemaluannya.Kasihan juga si Ujang belum sempat istirahat lama kanjutnya sudah di paksa bangun lagi,
Akhirnya saya suruh istri saya supaya mulai beraksi, “ Euis..ayoh kamu naik di atas kanjut ujang, gantian kamu yang genjot sekarang..”, istri saya beringsut pantatnya berada di atas kemaluan Ujang, kemudian sambil terus di genggam perlahan kanjutnya di arahkan ke lobang kenikmatannya, sejurus kemudian dimasukkannya batang nikmat Ujang ke lobang vaginanya, “ Ahhhhh……”, istri saya mendesis ketika batang kanjut Ujang amblas ke dalam lobang kemaluannya, “ Uuuuuhhhhh…..ssshhh….”, Ujang mendesis juga kelihatannya dia sedang merasakan nikmat bercampur ngilu, istri saya mulai menaik turunkan pantatnya, ‘cleppsss…sleppphh…cleppss…’, bunyi kedua kelamin ini begitu nyaring mungkin karena lobang kemaluan istriku masih terisi oleh sperma Ujang jadinya bunyinya nyaring, apalagi kulihat batang kanjut Ujang belepotan cairan putih setiap keluar masuk lobang kemaluan istriku, “ Ouwh..ouwww..ssshhh….”
Istriku merintih2 keenakan, tangannya menggenggam erat sprei tempat tidur, Ujang yang berada di bawah juga gak mau kalah, tangannya meremas2 payudara istriku dengan mesra, “ Sssshhh….ennaaaakk….aahhhh…ter russs…. Issss….”, rintih Ujang keenakkan Istri saya makin bersemangat pinggulnya turun naik dengan cepat,
matanya merem melek, sementara mulutnya menganga mengeluarkan suara2 yang gak jelas,“ Ouwwhh…hrrrhhh….aarrrgggg….oou pppphhhh….owhh..ouwwggghh….”
beberapa menit kemudian saya suruh istri dan Ujang untuk berganti posisi, sekarang saya minta istri saya untuk nungging, “ Ayohh..Euis kamu sekarang nungging, biar Ujang tusuk lobang kamu dari belakang…”, istri saya menurut dia bangun kemudian menungging di atas tempat tidur, sementara Ujang beringsut menghampiri pantat istriku yang sudah menganga menunggu kanjutnya untuk di masukkan ke dalam lobang kenikmatannya, “ Eeegghhhh….ssshhhh…..”, Ujang mulai memasukkan batang kemaluannya ke dalam lobang vagina istriku, ‘ Sleeeppppsss…’, sekali tekan masuklah batang kanjut itu, “ Aaahhhhh…….ssssshhhhh…..ennaaa akkkk….”, istri saya mendesis panjang, batang kemaluan mulai keluar masuk lobang vagina istriku, bunyinya nyaring‘ Clepss..clophh…clops…clepss..c loph…cloph…’, Ujang terus menggenjot
kanjutnya, tangannya meremas2 pantat istriku “ahh…akhh..ukkh…ogghhh…ssshh…o hhh…uuhhhhh….enaakkkk…ssshhhh… .”
Ujang terengah2 menikmati vagina istriku, “ Ssshhh….uhhh…aaaaaa….ennaakkk… ”
Istri saya juga mengerang2 kenikmatan, Sementara saya lihat Ujang mulai kepayahan, dengan posisi bersetubuh seperti ini membuat kanjutnya tidak dapat bertahan lama,
“ Oghh..sssshhhh…..addd..ddduuuh hh….teuu…kuattttsss..deui…euuh hhh…….”,
Ujang menggenjot makin cepat, kemudian secara tiba2 dia mencabut kanjutnya dan mengocoknya di luar vagina istri saya di sertai lenguhan panjang, “ Aaaaaaaahhhhh…”,
‘Crroootttt…crettt..cre..cettt ..’ muncratlah cairan mani ujang di atas pantat istriku
“ Urangggg…..Keluarrrrrrrr…..Ouu hhhhhhhh………”, Ujang mengerang2 perutnya berkedut stiap kali maninya menetes dari kepala kanjutnya, kemudian dia ambruk ke kasur, “ Yahhh…Jang…kamu udah keluar?..”, tanyaku sambil mengarahkan kamera Hp-ku kearah Ujang yang terduduk lemas, “ Uhh..iya..kang, gak kuat kalo gaya kayak gitu”, Ujang berkata lemah sambil mengelap kanjutnya dengan kain seprei
Aku mematikan proses rekamnya, kemudian aku melihat ke arah istriku yang masih nungging di kasur, sambil membuka celana dan kaosku aku menyuruh Ujang untuk turun dari kasur, “ Sudah kamu turun Jang duduk di kursi gantian aku yang mau ng*nt*t nih”,Kata saya sambil menghampiri tubuh istri saya Euis.
Malam itu saya mampu bersenggama dengan istri saya lebih dari biasanya, saya merasakan nikmat senggama yang luar biasa, ini karena sensasi yang saya dapatkan dari melihat adegan istri saya bersenggama dengan Ujang. Sejak saat itu bila saya ingin mendapatkan sensasi yang luar biasa waktu ML dengan istri, maka saya biasanya mengajak Ujang atau orang lain untuk terlebih dahulu menyetubuhi istri saya, berkat surat perjanjian yang di buat istri saya dan Ujang maka saya bisa menyalurkan hasrat seks saya yang tidak lazim ini dengan mudah, tapi lama-kelamaan istri saya juga mulai terbiasa dengan hal itu, malah sekarang dia dapat lebih menikmatinya dan terkadang lebih sering dia yang memilih pasangan untuk bersenggamanya, kami punya banyak pengalaman untuk di ceritakan bila berkenan.
Add starLikeShareShare with noteEmail

dugem asyk....

ini pengalaman gw dugem beberapa waktu yang lalu. kebetulan tiap jumat malam gw dan temen2 gw selalu booking karaoke room di salah satu club di daerah kota. Nah yang namanya karaoke room selalu menjadi tempat yang hot untuk cewek2 yang kagak punya pasangan karena disini minuman free flow.

pendek cerita, semua yang hadir disini 5 cowok dan 2 cewek (kebetulan ceweknya temen gw) udah pada mulai agak mabok sambil dengerin house music. Tiba2 lewat 3 orang cewek, pakaiannya sexy banget lah, biasa di club, Andre teman gw yang paling gokil langsung undang mereka masuk ke room kita yang punya balcon dgn pemandangan dance floor. Teman gw satu lagi Rudi juga langsung sksdk, nawarin 3 cewek ini minum dll. Susi, Helen dan Olivia ini kebetulan lewat mau ke wc dan bt di tempat karaoke temannya 2 ruangan disebelah, karena cowoknya agak tua tua.

Nah kebetulan mereka juga sudah agak mabok atau on, kagak jelas, mereka dance nya seductive sekali dan kita masing2 dance dengan salah satu diantara mereka atau kadang2 ber 6 pelukan rame2, wah pokoknya udah asyik banget deh.

Susi yang paling hot diantara mereka, pake t-shit ketat dan rok agak mini.... jadi incaran Andre, Rudi dan gw. kita gantian melukin dia dari belakang dan dance sambil nempelin badan,... yang pasti ko...l kita semua sudah pada keras abis. Susi dan teman2nya juga kelihatannya tahu ini mereka sengaja goyang2in pantat mereka waktu kita peluk dari belakang.. Kita terus nuangin long island ke mulut mereka, dan mereka sambut dengan gembira.

akhirnya karena kagak tahan, gw tarik susi untuk mojok berdua, dia juga tambah berani. di pojokan karaoke room, di samping tv, agak gelap, gw sosot aja bibirnya... dan dia juga pasrah dan horny, dia diem aja waktu tangan gw masuk ke t-shirt nya yang ketat, ternyata dia kagak pake bra. toketnya mungkin 34B, sorry bro gw juga udah agak mabok, yang pasti langsung gw remes2, sampe mendesah2 kagak karuan... Dia bilang...Dan, isepin dong nipple gw,...ahhh udah kagak tahan nih.....Gokil juga nih cewek, tangannya langsung ngeraba2 selangkangan gw yang juga memang udah mau meledak....

langsung aja gw isep2 nipple nya yang udah keras kagak karuan... gw remes2 toketnya...Sussss.. gila bener toket elu keras banget. Dia bilang.. iya nih gw horny banget, elu sih dari tadi nempel2in rudal elu.

akhirnya kita berdua makin nekat, dia ngerogoh k....ol gw dan dikocok2... sampe gw belingsatan sendiri... gw kagak mau kalah, gw juga masukin tangan gw ke cd nya. langsung gw kocok2 m......k nya, busyeet udh basah banget... Dannnn , teruss dann, terus mainin cli....is gw, yah itu yah itu, kocok2.... tiba2 tidak sampe 5 menit, bagian dalam v....nya berkedut2, gw rasa dia keluar, yang ada tangannya yang ada di ko...l gw makin cepat dan makin cepat, hampir gw kagak bisa tahan lagi. karena udah kagak tahan juga, akhirnya susi gw ajak ke wc (yg ada di dalam vip karaoke room ini).... yang ada di dalam wc, gw buka tshirtnya, kelihatan toketnya yang masih kenceng banget, langsung gw jilat2 dan gw naikin dia ke wastafel... sambil gw buka celana gw... Udah kagak tahan, tanpa ba bi bu lagi, gw masukin ko...ll gw ke lubang m....k nya yang udah basah banget.

Dann.... awww. pelan.. pelan... enak dan enak dan... terusin, terussin. susi terus mendesah2 kagak akruan... sementara tangan gw satunya memegang paha dia . gw terus memompa. tangan gw yang satu lagi meremas2 toketnya yang putih mulus...
karena pengaruh alkohol, gw juga agak lama keluarnya dan benar2 menikmati ml gila2an ini. setelah puas meremas2 toketnya yang legit ini, gw langsung balikin badannya susi yang tinggi langsing ini dan hajar dari belakang doggy style, shitt.. enak banget sambil remas2 pantatnya. mekinya susi benar2 enak nih,, basah tetapi peret banget..... terus kita pindah posisi lagi, gw duduk di atas toilet dan dia masukin ko..l gw sambil berdiri dan duduk diatas pangkuan gw. tubuhnya yang mulus putih dan telanjang bergerak dengan sexy nya diatas gw. pemandangan yang indah banget..... gw sibuk meremas2 dan menjilat toket dan nipple nya....


.....sampe akhirnya setelah susi keluar lagi untuk kedua kalinya, gw keluar juga............

setelah keluar.... gw dan susi cepat2 bersihin masing2 di wc, eh lagi gw pake celana, susi langsung bilang.... Dan, jgn keluar dulu...gw mau blow job-in elu... . Belum sempat gw jawab, susi yang masih duduk di toilet dalam keadaan bugil langsung narik gw dan masukin kon...ol gw ke mulutnya.... wah gw rasa ini cewek lagi mabok berat.. yang ada enak banget... palkon gw mula2 dijilatin.. pelan2 teruss lidahnya bergerak ke batang gw dan ke bola kembar gw, terus dia masukin seluruh rudal gw yang masih agak lemes... seluruhnya kemulutnya... shittt, rasanya terbang lagi gw,, didalam mulutnya yang hangat dan lembut, lidahnya mulai menari2 menyapu seluruh bagian rudal gw samil tangannya meremas2 bola gw.... yang ada gw langsung ngaceng lagi... sementara dia sibuk blow job, tangan gw juga bergerilya di toketnya yang putih menantang... sampe dia juga kagk tahan juga kelihtannya.

karena rudal gw sudah keras lagi, akhirnya gw suruh dia nyender ke dinding, gw angkat kakinya satu, gw masukan lagi kon...ol gw ke mekinya... blesss, damned... ternyata udah basah lagi.... dia bilang dia juga horny waktu blow job gw..., clurp clurp clurp mekinya basah banget, tetapi heran kenapa nge'gigit' banget,,,, mungkin karena masih belum terlalu sering??

Dan, punya elu gede banget... enak dan enak.... terusin dan.... sementara gw sibuk jilatin dan kadang2 gigit nipplenya.... setelah 10 menitan gw ngerasain kalo mekinya udah kedut2 lagi, dia bilang dannnnnnnn gw kagak tahan dan...gw keluar ya.... ntar gw keluarin elu ...gw blow job dan keluarin di dalam..... karena udah cape juga, agak mabok.gw meng iya kan.... gw biarin dia keluar sambil meluk gw kenceng2..... setelah dia udah settle down,,, tanpa diminta susi langsung nyium gw, terima kasih ya dan,,,, elu bener2 hebat.... dan langsung dia jongkok dan masukin rudal gw kemulutnya... ah suss enak banget.... dia jilatin palkon gw sampe rasanya gw mau terbang.... tiba2 dia berhenti... dan dia ke wastafel... dan nyalain air hangat... selagi gw bingung dia mau ngapain??? tiba2 dia kumur2 dengan air hangat.... airnya ditahan sebentar kemudia dia buang,, dan langsung blow job gw lagi.... Hasilllllnya???? rasanya bener2 gila2an enaknya.... bayangin bro,... mulutnya yang lembut itu berubah menjadi hangat sekali... dan enaknya bukan cuma di palkon... sampe ke sum sum bro.... gw jambak2 rambutnyayang sebahu karena udah kagak tahan... rasanya cuma 5 menitan gw di blow job gw keluar lagi dan dia maksa keluarin didalam mulutnya...
sus gw udah mau keluar......... crot crot crot.....
part II

ngentot

Ceritanya sebagai berikut: Tati diminta oleh Ayah Anto untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Melihat peluang itu, aku diam-diam mengikutinya dari belakang. Kamar ayah Anto memang tidak terlihat dari tempat di mana orang tua itu biasa duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang semampai perawat itu dari belakang. Tati terkejut dan tertawa kecil ketika sadar siapa yang memeluknya dan tanpa basa-basi langsung menyambut ciumanku dengan bibirnya yang mungil itu sambil dengan buas mengulum lidahku. Ia memang sudah tidak malu-malu lagi seperti awal pertemuan kami.

Janda cantik itu sudah menunjukkan karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa suaminya tega meninggalkannya. Namun analisaku mengatakan, suaminya tak mampu mengimbangi gejolak gairah Tati di atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan perempuan lain yang lebih ‘low profile’. Aku memang belum sempat menanyakan pada Tati bagaimana ia menyalurkan kebutuhan biologisnya di saat menjanda. Aku berpikir, bawa masturbasi adalah jalan satu-satunya.

Kami berdua masih saling berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu. Sungguh terkejut ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya yang ranum itu.

“Kok ngga pakai BH Mbak..?” Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal.
“Supaya gampang diremas sama kamu..”. Benar-benar jawaban yang menggemaskan!

Kembali kukulum bibir dan lidahnya yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka kancing bajunya yang pertama, kedua, dan ketiga. Lalu tanpa membuang waktu kutundukkan kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan buah dada kanannya dan kuhisap sedemikian rupa sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Tati mulai mengerang kegelian, “Ouhh.., geli Mas.., geliii.., ahh..”. Sejak kejadian malam itu, ia memang membiasakan dirinya untuk memanggilku Mas. Sambil menggelinjang dan merintih, tangan kanan Tati mulai mengelus-elus bagian depan celana kantorku.

Penisku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang. Jari-jari lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk kemudian digosok-gosoknya dari luar celana. Sensasi itu membuat nafasku semakin memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, tangan kiriku berusaha menyingkap rok janda muda itu dan dengan sigap kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya, celana dalam Tati terasa sudah basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk dimasuki oleh penisku.

Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang kali ini berwarna hitam, kudorong tubuh montok perawat itu ke dinding, lalu kuangkat paha kanannya sehingga dengkulnya menempel di pinggangku. Dengan sigap pula kubuka ritsluiting celanaku dan kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dan besar itu. Tati sudah nampak pasrah. Ia hanya bersender di dinding sambil memejamkan matanya dan memeluk bahuku.

“Tatiii.., mana minyak tawonnya.., kok lama betuul”. Suara orang tua itu terdengar dengan keras. Sungguh menjengkelkan. Tati sempat terkejut dan nampak panik ketika kemudian aku berbisik,
“Tenang Mbak.., jawab aja.., kita selesaikan dulu ini.., kamu mau kan?” Ia mengangguk seraya tersenyum manis.
“Sebentar Pak..”, teriaknya.
“Minyak tawonnya keselip entah ke mana.., ini lagi dicari kok”. Ia tertawa cekikikan, geli mendengar jawaban spontannya sendiri. Namun tawanya itu langsung berubah menjadi jerikan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala penisku ke selangkangannya.

Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu di pintu vaginanya. Sambi kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan. Tati ternganga sambil terengah-engah, “aahh.., aahh.., ouhh.., Mas.., besar sekali.., pelan-pelan Mas..pelan-pelanhh..”, dan, “aaah”. Tati menjerit kecil ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat sempit dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh Tati terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya semakin menjadi-jadi.

Aku sudah tak peduli kalau ayah Anton sampai mendengarkan jeritan perempuan itu. Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang memiliki daya pikat seks yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat, namun kemulusan dan kemontokan badannya sungguh setara dengan perempuan kota jaman sekarang. Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkankan di kulit kita. Gerakan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat. Mulutku tak puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing panjang dan keras itu. Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa sebentar lagi aku akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Tati menegang.

Kupercepat gerakan pinggulku dan tiba-tiba, “aahh.., Mas.., Masss, aku keluarrr.., aahh”, Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan penisku ke dalam vagina janda muda itu sekeras-kerasnya dan, “Craat.., craatt.., craat”.
“Ahh…, Mbaak”, erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya jatuh bersamaan itu. Kami berpelukan sesaat dan Tati berbisik dengan suara serak.
“Mas.., aku ngga pernah dipuasin laki-laki seperti kamu muasin saya.., kamu hebat..”. Aku tersenyum simpul.
“Mbak., aku masih punya 1001 teknik yang bisa membuat kamu melayang ke surga ke-7.., ngga bosan kan kalo lain waktu aku praktekkan sama kamu?”. Perlahan Tati menurunkan paha kanannya dan mencabut penisku dari vaginanya.
“Bosan? Aku gila apa.., yang beginian ngga akan membuatku bosan.., kalau bisa tiap hari aku mau Mas..”. Benar-benar luar biasa libido perempuan ini. Beruntung aku mempunyai libido yang juga luar biasa besarnya. Sebagai partner seks, kami benar-benar seimbang.

Setelah kejadian siang itu, aku dan Tati seperti pengantin baru saja. Tak ada waktu luang yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi. Walaupun demikian, aku tekankan pada Tati, bahwa hubungan antara aku dan dia, hanyalah sebatas hubungan untuk memuaskan nafsu birahi saja. Aku dan dia punya hak untuk berhubungan dengan orang lain. Tati si janda muda yang sudah merasakan kenikmatan seks bebas itu tentu saja menyetujuinya.

Suatu hari, Tati masuk ke dalam kamarku dan ia berkata, “Mas, aku akan mengambil cuti selama 1 bulan. Aku harus mengurusi masalah tanah warisan di kampungku..”.
“Lha.., kalau Mbak pulang, siapa yang akan mengurusi Bapak?”, tanyaku sambil membayangkan betapa kosongnya hari-hariku selama sebulan ke depan.
“Mas Anto bilang, akan ada adik Bapak yang akan menggantikan aku selama 1 bulan.., namanya Mbak Ine.., dia ngga kimpoi.., umurnya sudah hampir 40 tahun.., orangnya baik kok.., cerewet.., tapi ramah..”. Yah apa boleh buat, aku terpaksa kehilangan seorang teman berhubungan seks yang sangat menggairahkan. Hitung-hitung cuti 1 bulan.., atau kalau berpikir positif.., its time to look for a new partner!!!

Hari ini adalah hari ke lima setelah kepergian Tati. Mbak Ine, pengganti sementara Tati, ternyata adalah adik ipar ayah Anto. Jadi, adik istri si bapak tua itu. Mbak Ine adalah seorang perempuan Sunda yang ramah. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya berwarna hitam manis, badannya agak pendek dan bertubuh montok. Ukuran buah dadanya besar. Jauh lebih besar dari Tati dan senantiasa berdandan agak menor. Wanita yang berumur hampir 40 tahun itu mengaku belum pernah menikah karena merasa bahwa tak ada laki-laki yang bisa cocok dengan sifatnya yang avonturir. Saat ini ia bekerja secara freelance di sebuah stasiun televisi sebagai penulis naskah. Kemampuan bergaulku dan keramahannya membuat kami cepat sekali akrab.

Lagi-lagi, kamarku itu kini menjadi markas curhatnya Mbak Ine.
“Panggil saya teh Ine aja deh..”, katanya suatu kali dengan logat Bandungnya yang kental.
“Kalau gitu panggil saya Rafi aja ya teh.., ngga usah pake pak pak-an segala..”, balasku sambil tertawa.

Baru 5 hari kami bergaul, namun sepertinya kami sudah lama saling mengenal. Kami seperti dua orang yang kasmaran, saling memperhatikan dan saling bersimpati. Persis seperti cinta monyet ketika kita remaja. Saat itu seperti biasa, kami sedang ngobrol santai dari hati ke hati sambil duduk di atas ranjangku. Aku memakai baju kaos dan celana pendek yang ketat sehingga tanpa kusadari tekstur penis dan testisku tercetak dengan jelas. Bila kuperhatikan, beberapa kali tampak teh Ine mencuri-curi melirik selangkanganku yang dengan mudah dilihatnya karena aku duduk bersila. Aku sengaja membiarkan keadaan itu berlangsung. Malah kadang-kadang dengan sengaja aku meluruskan kedua kakiku dengan posisi agak mengangkang sehingga cetakan penisku makin nyata saja di celanaku.

Sesekali, ditengah obrolan santai itu, tampak teh Ine melirik selangkanganku yang diikuti dengan nafasnya yang tertahan. Kenapa aku melakukan hal ini? Karena libidoku yang luar biasa, aku jadi tertantang untuk bisa meniduri teh Ine yang aku yakini sudah tak perawan lagi karena sifatnya yang avonturir itu. Dan lagi, dari sifatnya yang ramah, ceria, cerewet dan petualang itu, aku yakin di balik tubuh montok perempuan setengah baya tersimpan potensi libido yang tak kalah besar dengan Tati. Juga, gayanya dalam bergaul yang mudah bersentuhan dan saling memegang lengan sering membuat darahku berdesir. Apalagi kalau aku sedang dalam keadaan libido tinggi.

Saat ini, teh Ine mengenakan daster berwarna putih tipis sehingga tampak kontras dengan warna kulitnya yang hitam manis itu. Belahan buah dadanya yang besar itu menyembul di balik lingkaran leher yang berpotongan rendah di bagian dada. Dasternya sendiri berpola terusan hingga sebatas lutut sehingga ketika duduk, pahanya yang montok itu terlihat dengan jelas. Aku selalu berusaha untuk bisa mengintip sesuatu yang terletak di antara kedua paha teh Ine. Namun karena posisi duduknya yang selalu sopan, aku tak dapat melihat apa-apa.

Bukan main! Ternyata seorang wanita berusia 40-an masih mempunyai daya tarik sexual yang tinggi. Terus terang, baru kali ini aku berani berfantasi mengenai hubungan seks dengan teh Ine. Sementara ia bercerita tentang masa mudanya, pikiranku malah melayang dan membayangkan tubuh teh Ine sedang duduk di hadapanku tanpa selembar benangpun. Alangkah menggairahkannya. Aku seperti bisa melihat dengan jelas seluruh lekuk tubuhnya yang mulus tanpa cacat. Tanpa sadar, penisku menegang dan cairan madzi di ujungnya pun mulai keluar. Celanaku tampak basah di ujung penisku, dan cetakan penis serta testisku semakin jelas saja tercetak di selangkangan celanaku.

Membesarnya penisku ternyata tak lepas dari perhatian teh Ine. Tampak jelas terlihat matanya terbelalak melihat ukuran penisku yang membesar dan tercetak jelas di celana pendekku. Obrolan kami mendadak terhenti karena beberapa saat teh Ine masih terpaku pada selangkanganku.

“Kunaon teh..?”, tanyaku memancing.
“Eh.., enteu.., kamu teh mikirin apa sih?”, katanya sambil tersenyum simpul.
“Mikirin teh Ine teh.., entah kenapa barusan saya membayangkan teh Ine nggak pakai apa-apa.., aduh indahnya teh..”, tiba-tiba saja jawaban itu meluncur dari mulutku. Aku sendiri terkejut dengan jawabanku yang sangat terus terang itu dan sempat membuatku terpaku memandang wajah teh Ine. Wajah teh Ine tampak memerah mendengar jawabanku itu. Napasnya mendadak memburu.

Tiba-tiba teh Ine bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia menutup pintu kamarku dan menguncinya. Leherku tercekat, dan kurasakan jantungku berdegup semakin kencang. Dengan tersenyum dan sorot mata nakal ia menghampiriku dan duduk tepat di hadapan selangkanganku. Aku memang sedang dalam posisi selonjor dengan kedua kaki mengangkang.

“Fi, kamu pingin sama teteh..? Hmm?”, Desahnya seraya meraba penis tegangku dari luar celana. Aku menelan ludah sambil mengangguk perlahan dan tersenyum. Entah mengapa, aku jadi gugup sekali melihat wajah teh Ine yang semakin mendekat ke wajahku. Tanpa sadar aku menyandarkan punggungku ke tembok di ujung ranjang dan teh Ine menggeser duduknya mendekatiku sambil tetap menekan dan membelai selangkanganku. Nafas teh Ine yang semakin cepat terasa benar semakin menerpa hidung dan bibirku. Rasa nikmat dari belaian jemari teh Ine di selangkanganku semakin terasa keujung syaraf-syarafku. Napasku mulai memburu dan tanpa sadar mulutku mulai mengeluarkan suara erangan-erangan.

Dengan lembut teh Ine menempelkan bibirnya di atas bibirku. Ia memulainya dengan mengecup ringan, menggigit bibir bawahku, dan tiba-tiba.., lidahnya memasuki mulutku dan berputar-putar di dalamnya dengan cepat. Langit-langit mulutku serasa geli disapu oleh lidah panjang milik perempuan setengah baya yang sangat menggairahkan itu. Aku mulai membalas ciuman, gigitan, dan kuluman teh Ine. Sambil berciuman, tangan kananku kuletakkan di buah dada kiri teh Ine. Uh.., alangkah besarnya.., walaupun masih ditutupi oleh daster, keempukan dan kekenyalannya sudah sangat terasa di telapak tanganku.

Dengan cepat kuremas-remas buah dada teh Ine itu, “Emph.., emph..”, rintihnya sambil terus mengulum lidahku dan menggosok-gosok selangkanganku. Mendadak teh Ine menghentikan ciumannya. Ia menahan tanganku yang tengah meremas buah dadanya dan berkata, “Fi, sekarang kamu diam dulu yah.., biar teteh yang duluan..”.

Tiba-tiba dengan cepat teh Ine menarik celana pendekku sekalian dengan celana dalamku. Saking cepatnya, penisku yang menegang melejit keluar. Sejenak teh Ine tertegun menatap penisku yang berdiri tegak laksana tugu monas itu. “Gusti Rafi.., ageung pisan..”, bisiknya lirih. Dengan cepat teh Ine menundukkan kepalanya, dan seketika tubuhku terasa dialiri oleh aliran listrik yang mengalir cepat ketika mulut teh Ine hampir menelan seluruh penisku. Terasa ujung penisku itu menyentuh langit-langit belakang mulut teh Ine. Dengan sigap teh Ine memegang penisku sementara lidahnya memelintir bagian bawahnya. Kepala teh Ine naik turun dengan cepat mengiringi pegangan tangannya dan puntiran lidahnya.

Aku benar-benar merasa melayang di udara ketika teh Ine memperkuat hisapannya. Aku melirik ke arah kaca riasku, dan di sana tampak diriku terduduk mengangkang sementara teh Ine dengan dasternya yang masih saja rapi merunduk di selangkanganku dan kepalanya bergerak naik turun. Suara isapan, jilatan dan kecupan bibir perempuan montok itu terdengar dengan jelas. Kenikmatan ini semakin menjadi-jadi ketika kurasakan teh Ine mulai meremas-remas kedua bola testisku secara bergantian. Perutku serasa mulas dan urat-urat di penisku serasa hendak putus karena tegangnya. Teh Ine tampak semakin buas menghisapi penisku seperti seseorang yang kehausan di padang pasir menemukan air yang segar. Jari-jemarinyapun semakin liar mempermainkan kedua testisku. “Slurrp.., Cuph.., Mphh..”. Suara kecupan-kecupan di penisku semakin keras saja.

Nafsuku sudah naik ke kepala. Aku berontak untuk berusaha meremas kedua buah dada montok dan besar milik wanita lajang berusia setengah baya itu, namun tangan teh Ine dengan kuat menghalangi tubuhku dan iapun semakin gila menghisapi dan menjilati penisku. Aku mulai bergelinjang-gelinjang tak karuan.

“Teh Ine.., teeeh, gantian dongg.., please.., saya udah ngga kuaat, aahh.., sss..”, erangku seakan memohon. Namun permintaanku tak digubrisnya. Kedua tangan dan mulutnya semakin cepat saja mengocok penisku. Terasa seluruh syaraf-syarafku semakin menegang dan menegang, degup jantungku berdetak semakin kencang.. napaskupun makin memburu.

“Oohh…, Teh Ine.., Teh Ineee…, aahh.”, Aku berteriak sambil mengangkat pinggulku tinggi-tinggi dan, “Crat.., craat.., craat”, aku memuncratkan spermaku di dalam mulut teh Ine. Dengan sigap pula teh Ine menelan dan menjilati spermaku seperti seorang yang menjilati es krim dengan nikmatnya. Setiap jilatan teh Ine terasa seperti setruman-setruman kecil di penisku. Aku benar-benar menikmati permainan ini.., luar biasa teh Ine, “Enak Fi..? Hmm?”, teh Ine mengangkat kepalanya dari selangkanganku dan menatapku dengan senyum manisnya, tampak di seputar mulutnya banyak menempel bekas-bekas spermaku.

“Fuhh nikmatnya sperma kamu Fi..” Bisiknya mesra seraya menjilat sisa-sisa spermaku di bibirnya.
“Obat awet muda ya teh..”, kataku bercanda.
“Yaa gitulah…, antosan sekedap nya? Biar teteh ambilkan minum buat kamu”. Oh my God.., benar-benar seorang wanita yang penuh pengabdian, dia belum mengalami orgasme apa-apa tapi perhatiannya pada pasangan lelakinya luar biasa besar, sungguh pasangan seks yang ideal! Kenyataan itu saja membuat rasa simpati dan birahiku pada teh Ine kembali bergejolak. Teh Ine kembali dari luar membawa segelas air.
“Minum deh.., biar kamu segeran..”.
“Nuhun teh.., tapi janji ya abis ini giliran saya muasin teteh..”. Aku meneguk habis air dingin buatan teh Ine dan saat itu pula aku merasakan kejantananku kembali. Birahiku kembali bergejolak melihat tubuh montok teh Ine yang ada di hadapanku.

Aku meraih tangan teh Ine dan dengan sekali betot kubaringkan tubuhnya yang molek itu di atas ranjang.

“Eeehh.., pelan-pelan Fi..”, teriak teh Ine dengan geli.
“Teteh mau diapain sih… “, lanjutnya manja. Tanpa menjawab, aku menindih tubuh montok itu, dan sekejap kurasakan nikmatnya buah dada besar itu tergencet oleh dadaku. Juga, syaraf-syaraf sekitar pinggulku merasakan nikmatnya penisku yang menempel dengan gundukan vaginanya walaupun masih ditutupi oleh daster dan celana dalamnya.

Kupandangi wajah teh Ine yang bundar dan manis itu. Kalau diperhatikan, memang sudah terdapat kerut-kerut kecil di daerah mata dan keningnya. Tapi peduli setan! Teh Ine adalah seorang wanita setengah baya yang paling menggairahkan yang pernah kulihat. Pancaran aura sexualnya sungguh kuat menerangi sanubari lelaki yang memandangnya.

“Teteh mau tau apa yang ingin saya lakukan terhadap teteh?”, Kataku sambil tersenyum.
“Saya akan memperkosa teteh sampai teteh ketagihan”.

Lalu dengan ganas, aku memulai menciumi bibir dan leher teh Ine. Teh Inepun dengan tak kalah ganasnya membalas ciuman-ciumanku. Keganasan kami berdua membuat suasana kamarku menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan rintihan-rintihan erotis. Dengan tak sabar aku menarik ritsluiting daster teh Ine, kulucuti dasternya, BH-nya, dan yang terakhir.., celana dalamnya. Wow.., sebuah gundukan daging tanpa bulu sama sekali terlihat sangat menantang terletak di selangkangan teh Ine. My God.., alangkah indahnya vagina teh Ine itu.., tak pernah kubayangkan bahwa ia mencukur habis bulu kemaluannya.

“Kamu juga buka semua dong Fi”, rengeknya sambil menarik baju kaosku ke atas. Dalam sekejap, kami berdua berdua berpelukan dan berciuman dengan penuh nafsu dalam keadaan bugil! Sambil menindih tubuhnya yang montok itu, bibirku menyelusuri lekuk tubuh teh Ine mulai dari bibir, kemudian turun ke leher, kemudian turun lagi ke dada, dan terus ke arah puting susu kirinya yang berwarna coklat kemerah-merahan itu. Alangkah kerasnya puting susunya, alangkah lancipnnya.., dan mmhh.., seketika itu juga kukulum, kuhisap dan kujilat puting kenyal itu.., karena gemasnya, sesekali kugigit juga puting itu.

“Auuhh.., Fi.., gellii.., sss.., ahh”, rintihnya ketika gigitanku agak kukeraskan. Badan montoknya mulai mengelinjang-gelinjang ke sana k emari.., dan mukanya menggeleng-geleng ke kiri dan ke kanan. Sambil menghisap, tangan kananku merayap turun ke selangkangannya. Dengan mudah kudapati vaginanya yang besar dan sudah sangat becek sekali. Akupun dengan sigap memain-mainkan jari tenganku di pintu vaginanya.

“Crks.., crks.., crks”, terdengar suara becek vagina teh Ine yang berwarna lebih putih dari kulit sekitarnya. Ketika jariku mengenai gundukan kecil daging yang mirip dengan sebutir kacang, ketika itu pula wanita setengah baya itu menjerit kecil.
“Ahh.., geli Fi.., gelli”, Putaran jariku di atas clitoris teh Ine dan hisapanku pada kedua puting buah dadanya makin membuat lajang montok berkulit hitam manis itu semakin bergelinjang dengan liar.

“Fi.., masukin sekarang Fi.., sekarang.., please.., teteh udah nggak tahan..ahh..”. Kulihat wajah teh Ine sudah meringis seperti orang kesakitan. Ringisan itu untuk menahan gejolak orgasmenya yang sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan sigap kuarahkan penisku ke vagina montok milik teh Ine.., kutempelkan kepala penisku yang besar tepat di bawah clitorisnya, kuputar-putarkan sejenak dan teh Ine meresponnya dengan mengangkangkan pahanya selebar-lebarnya untuk memberi kemudahan bagiku untuk melakukan penetrasi.., saat itu pula kusodokkan pantatku sekuat-kuatnya dan, “Blesss”, masuk semuanya!

“Aahh.” Teh Ine menjerit panjang.., “Besar betul Fi.., auhh., besar betuull…, duh gusti enaknya.., aahh..”. Dengan penuh keganasan kupompa penisku keluar masuk vagina teh Ine. Dan iapun dengan liarnya memutar-mutar pinggulnya di bawah tindihanku. Astaga.., benar-benar pengalaman yang luar biasa! Bahkan keliaran teh Ine melebihi ganasnya Mbak Tati.., luar biasa!

Kedua tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat yang bercampur liur. Kasurkupun sudah basah di mana-mana oleh cairan mani maupun lendir yang meleleh dari vagina teh Ine, namun entah kekuatan apa yang ada pada diri kami…, kami masih saling memompa, merintih, melenguh, dan mengerang. Bunyi ranjangkupun sudah tak karuan.., “Kriet.., kriet.., krieeet”, sesuai irama goyangan pinggul kami berdua. Penisku yang besar itu masih dengan buasnya menggesek-gesek vagina teh Ine yang terasa sempit namun becek itu.

Setelah lebih dari 15 menit kami saling memompa, tiba-tiba kurasakan seluruh tubuh teh Ine menegang.
“Fi.., Fi.., Teteh mau keluar..”.
“Iya teh, saya juga.., kita keluar sama-sama teh…”, Goyanganku semakin kupercepat dan pada saat yang bersamaan kami berdua saling berciuman sambil berpelukan erat.., aku menancapkan penisku dalam-dalam dan teh Ine mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi…, “Crat.., crat.., crat.., crat”, kami berdua mengerang dengan keras sambil menikmati tercapainya orgasme pada saat yang bersamaan. Kami sudah tak peduli bila seisi rumah akan mendengarkan jeritan-jeritan kami, karena aku yakin teh Inepun tak pernah merasakan kenikmatan yang luar biasa ini sepanjang hidupnnya.

“Ahh.., Fi.., kamu hebaat.., kamu hebaathh.., hh.., Teteh ngga pernah ngerasain kenikmatan seperti ini”.
“Saya juga teh.., terima kasih untuk kenikmatan ini..”, Kataku seraya mengecup kening teh Ine dengan mesra.
“Mau tau suatu rahasia Fi?”, tanyanya sambil membelai rambutku, “Teteh sudah lima tahun tidak bersentuhan dengan laki-laki.., tapi entah kenapa, dalam 5 hari bergaul dengan kamu.., teteh tidak bisa menahan gejolak birahi teteh.., ngga tau kenapa.., kamu itu punya aura seks yang luar biasa..”. Teh Ine bangkit dari ranjangku dan mengambil sesuatu dari kantong dasternya. Sebutir pil KB.

“Seperti punya fitasat, teteh sudah minum pil ini sejak 3 hari yang lalu..”, katanya tersenyum, “Dan akan teteh minum selama teteh ada di sini..”, Teh Ine mengerdipkan matanya padaku dengan manja sambil memakai dasternya.
“Selamat tidur sayang”, Teh Ine melangkah keluar dari kamarku.

Teh Ine memang luar biasa. Ia bukan saja dapat menggantikan kedudukan Tati sebagai partner seks yang baik, tetapi juga memberi sentuhan-sentuhan kasih sayang keibuan yang luar biasa. Aku benar-benar dimanja oleh wanita setengah baya itu. Fantasi sexualnya juga luar biasa. Mungkin itu pengaruh dari pekerjaannya sebagai penulis cerita drama. Coba bayangkan, ia pernah memijatku dalam keadaan bugil, kemudian sambil terus memijat ia bisa memasukkan penisku ke dalam vaginanya, dan aku disetubuhi sambil terus menikmati pijatan-pijatannya yang nikmat. Ia juga pernah meminta aku untuk menyetubuhinya di saat ia mandi pancuran di kamar mandi dan kami melakukannya dengan tubuh licin penuh sabun.

Dan yang paling sensasional adalah.., Sore itu aku sudah berada di rumah. Karena load pekerjaan di kantorku tidak begitu tinggi, aku sengaja pulang cepat. Selesai mandi aku duduk di meja makan sambil menikmati pisang goreng buatan teh Ine. Perempuan binal itu memang luar biasa. Ia melayaniku seperti suaminya saja. Segala keperluan dan kesenanganku benar-benar diperhatikan olehnya. Seperti biasa, aku mengenakan baju kaos buntung dan celana pendek longgar kesukaanku dan (seperti biasa juga) aku tidak menggunakan celana dalam. Kebiasaan ini kumulai sejak adanya teh Ine di rumah ini, karena bisa dipastikan hampir tiap hari aku akan menikmati tubuh sintal adik ipar ayah si Anto itu.

Sore itu sambil menikmati pisang goreng di meja makan, aku bercakap-cakap dengan ayah Anto. Orang tua itu duduk di pojok ruangan dekat pintu masuk untuk menikmati semilirnya angin sore kota Bandung. Jarak antara aku dengannya sekitar 6 meter. Sambil bercakap-cakap mataku tak lepas dari teh Ine yang mondar mandir menyediakan hidangan sore bagi kami. Entah ke mana PRT kami saat itu. Teh Ine mengenakan celana pendek yang ditutupi oleh kaos bergambar Mickey Mouse berukuran ekstra besar sehingga sering tampak kaos itu menutupi celana pendeknya yang memberi kesan teh Ine tidak mengenakan celana. Aku berani bertaruh perempuan itu tidak menggunakan BH karena bila ia berjalan melenggang, tampak buah dadanya bergayut ke atas ke bawah, dan di bagian dadanya tercetak puting buah dadanya yang besar itu. Tanpa sadar batang penisku mulai membesar.

Setelah selesai dengan kesibukannya, teh Ine duduk di sebelah kiriku dan ikut menikmati pisang goreng buatannya. Kulihat ia melirik ke arahku sambil memasukkan pisang goreng perlahan-lahan ke dalam mulutnya. Sambil mengerdipkan matanya, ia memasukkan dan mengeluarkan pisang goreng itu dan sesekali menjilatnya. Sambil terus berbasa basi dengan orang tua Anto, aku menelan ludah dan merasakan bahwa urat-urat penisku mulai mengeras dan kepala penisku mulai membesar. Tiba-tiba kurasakan jari-jemari kanan teh Ine menyentuh pahaku. Lalu perlahan-lahan merayap naik sampai di daerah penisku. Dengan gemas teh Ine meremas penis tegangku dari luar celanaku sehingga membuat cairan beningku membuat tanda bercak di celanaku.

Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke daerah perut dan dengan cepat menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidak tahu lagi apa isi percakapan orang tua Anto itu. Beberapa kali ia mengulangi pertanyaannya padaku karena jawabanku yang asal-asalan. Degup jantungku mulai meningkat. Jemari lentik itu kini sudah mencapai kedua bolaku. Dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, perempuan lajang itu mengelus-elus dan menelusuri kedua bolaku.., mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan kemudian naik ke bagian batang.., terus bergerak menelusuri urat-urat tegang yang membalut batang kerasku itu, “sss…, teteh..”. Aku berdesis ketika kedua jarinya itu berhenti di urat yang terletak tepat di bawah kepala penisku.., itu memang daerah kelemahanku.., dan perempuan sintal ini mengetahuinya.., kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku itu sambil sesekali mencubitnya.

“aahh…”, erangku ketika akhirnya penisku masuk ke dalam genggamannya.
“Kenapa Rafi?”, Orang tua yang duduk agak jauh di depanku itu mengira aku mengucapkan sesuatu.
“E.., ee…, ndak apa-apa Pak..”, Jawabku tergagap sambil kembali meringis ketika teh Ine mulai mengocok penisku dengan cepat. Gila perempuan ini! Dia melakukannya di depan kakaknya sendiri walaupun tidak kelihatan karena terhalang meja.
“Saya cuma merasa segar dengan udara Bandung yang dingin ini..”, Jawabku sekenanya.
“Ooo begitu.., saya pikir kamu sakit perut.., habis tampangmu meringis-meringis begitu..”, Orang tua itu terkekeh sambil memalingkan mukanya ke jalan raya.

Begitu kakaknya berpaling, teh Ine dengan cepat merebahkan kepalanya ke pangkuanku sehingga dari arah ayah Anto, teh Ine tak tampak lagi. Dengan cepat tangannya memelorotkan celanaku sehingga penisku yang masih digenggamnya dengan erat itu terasa dingin terterpa angin. Sejenak perempuan itu memandang penis besarku itu.., ia selalu memberikan kesempatan pada matanya untuk menikmati ukuran dan kekokohannya. Kemudian teh Ine menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat mengelilingi lubang penisku.., kemudian ia memasukkan ujung lidahnya ke ujung lubang penisku dan mengecap cairan beningku.., lalu lidahnya diturunkan lagi-lagi ke urat di bawah penisku. Aku mulai menggelinjang-gelinjang tak karuan, walaupun dengan hati-hati takut ketahuan oleh kakak teh Ine yang duduk di depanku. Tanganku mulai meraba-raba buah dadanya yang besar itu dan meremasnya dengan gemas, “sss.., teeehh..”, desisku agak keras ketika perempuan itu dengan kedua bibirnya menyedot urat di bawah kepala penisku itu.., sementara tangannya meremas-remas kedua bolaku…, aawwww nikmatnya…, aku begitu terangsang sehingga seluruh pori-pori kulitku meremang dan mukaku berwarna merah. Aku sudah dalam tahap ingin menindih dan sesegera mungkin memasukkan penisku ke dalam vagina perempuan ini tapi semua itu tak mungkin kulakukan di depan kakaknya yang masih duduk di depanku menikmati lalu lalang kendaraan di depan rumahnya.

Tiba-tiba bibir teh Ine bergerak dengan cepat ke kepala penisku.., sambil terus kupermainkan putingnya kulihat ia membuka mulutnya dengan lebar dan tenggelamlah seluruh penisku ke dalam mulutnya. Aku kembali mendesis dan meringis sambil tetap duduk di meja makan mendengarkan ocehan orang tua Anto yang kembali mengajakku berbincang. Mulut teh Ine dengan cepat menghisap dan bergerak maju mundur di penisku. Tanganku menarik dasternya ke atas dari arah punggung sehingga terlihatlah pantatnya yang mulus tidak ditutupi oleh selembar benangpun. Aku ingin menjamah vaginanya, ingin rasanya kumasukkan jari-jariku dengan kasar ke dalamnya dan kukocok-kocok dengan keras tapi aku sudah tak kuat lagi. Jilatan lidah, kecupan, dan sedotan teh Ine di penisku membuat seluruh syarafku menegang.

Tiba-tiba kujambak rambut teh Ine dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh penisku tenggelam ke dalam mulutnya. Kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit tenggorokan teh Ine dan, “Creeet…, creeett…, creeettt”, menyemburlah cairan maniku ke mulut teh Ine.
“Ahh…, aahh.., aahh.., tetteeehh…”, Aku meringis dan mendesis keras ketika cairan maniku bersemburan ke dalam mulut teh Ine. Perempuan itu dengan lahap menjilati dan menelan seluruh cairanku sehingga penisku yang hampir layu kembali sedikit menegang karena terus-terusan dijilat. Aku memejamkan mataku.., gilaa.., permainan ini benar-benar menakjubkan. Ada rasa was-was karena takut ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku.

Teh Ine memandang penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam posisi tegak. “Luar biasa…”, Bisiknya, “Siap-siap nanti malam yah?” Katanya sambil bangkit dan beranjak ke dapur.

Aku cukup kagum dengan prestasi yang kucapai di rumah ini. Baru 2 bulan di Bandung, aku sudah bisa meniduri 2 orang wanita yang sudah lama tidak pernah menikmati sentuhan lelaki. Dan wanita-wanita itu, aku yakin akan selalu termimpi-mimpi akan besar dan nikmatnya gesekan penisku di dalam vagina mereka.





Nikmatnya Tubuh Sepupuku

Aku punya sepupu, tisi namanya.dia cantik, sexy, buah dadanya montok banget. Udah lama aku pengen nyobain dia. Sampai suatu ketika aku main dan nginap di rumahnya.

Siang itu pakde dan budeku pergi kondangan di luar kota. Aku yang kebetulan sedang nginap diminta untuk nemenin tisi. Tanpa pikir panjang aku iykan permintaan budeku.

Singkat kata akhirnya aku & tisi ngobrol di depan tivi. Gayanya yang cuek dengan celana pendek&tanktop memuat aku makin pengen. Perlahan penis ku mulai tegang, tapi aku pura-pura tenang aja. Ngobrol dengan tisi adalah kesmpatan terbaik buat memandangi bodi mulusnya. Apalagi waktu itu dia duduk di bawah sofa tempat aku duduk. Aku bebas memandangi paha putih tisi. Pelan2 aku condongkan badan ke depan, terlihatlah dua bukit tisi yang putih&bulat… nafasku mulai naik turun waktu aku sadar tisi nggak pake bra, dan asiknya dia nggak sadar aku pandangi kemolekannya karena dia serius nonton tivi.

Ketika film di tivi habis, tisi pamit tidur duluan karena udah malam. Aku pun masuk ke kamar tamu, gelisah bayangin indahnya buah dada tisi.Pasti enak banget buat diremas, disentuh dikenyot.Aku coba buat tidur, tenang tapi tetap nggak bisa. Bayangan dada dan paha tisi masih aja bikin nggak bisa tidur. Udah jam 2…nggak sadar aku udah 3 jam aku ga bisa tidur. Mana hujan deres lagi.

Akhirnya aku keluar kamar, mau bikin susu biar bisa tidur. Di lorong rumah, aku lihat pintu tisi sedikit terbuka. Iblis langsung menari-nari di pikiranku. Kesempatan! Pelan2 aku intip tisi. Ternyata dia udah tertidur pulas.Begitu pulas sampai nggak sadar celana pendeknya tersingkap sampai ke batas pangkal paha. Pelan2 aku buka pintu kamarnya,lalu masuk.

Mulus banget. Sintal. Buah dadanya gede. Cantik lagi. Tidur telentang seolah pasrah. Peniskupun spontan tegang. Aku lepaskan semua bajuku, ku dekati tisi.Aku nggak tahan lagi buat menyentuh buah dadanya.Pelan2 aku sentuh buah dada itu. Lembut banget. Tisi tidur pulas sampai dia nggak merasa ketika aku dengan sepelan mungkin menarik tali tanktopnya dan terlihatlah buah dadanya, gede, padat, putingnya coklat menantang…

Nggak tahan lagi aku tindih tisi yang segera terbangun kaget&meronta.Aku pegang dua tangannya sambil ciumi buah dadanya, jilati&hisap putingnya. Tisi meronta dan menjerit. Tapi derasnya hujan menelan suaranya. Aku yakin nggak akan ada yang dengar sehingga aku nggak peduli. Aku terus hisap&gigiti buah dada dan putingnya.Tissy terus meronta, tapi it malah membuatku makin terangsang. Aku rentangkan kakinya, lalu kugesek2 penisku ke pangkal pahanya yang ditutupi celana pendeknya itu. Dengan susah payah, akhirnya aku bisa melepas celana&celana dalam pinknya. Lalu kugesek2 penisku ke klitorisnya.

Tisi menangis&memohon-mohon agar aku lepaskan. Aku nggak peduli lagi. Terus aja kunikmati buah dadanya sambil menggesek penisku di klitorisnya. Nggak lama kemudian aku rasakan adan tisi menggeletar,tangisannya berubah jadi erangan lembut dan desahan ketika aku makin cepat&keras menggesekkan penisku ke klitorisnya. Aku bisa rasakan cairan memiawnya membasahi penisku. Ketika tisi semakin menggeletar dan merem melek, aku hunjamkan penisku ke lubang memiawnya. Tisi menjerit kesakitan&menangis lagi.

Oooh, nikmat banget ada di dalam tisi. Licin , anget, ketat banget. Aku tarik dorong penisku keluar masuk mmeknya. Tisi terus aja menangis&menjerit… tapi lama kelamaan jeritannya berganti lenguhan, erangan dan desahan walau dia terus aja meronta-ronta.

Nikmat banget. Ngent*t sambil hisap putingnya.Saking enaknya aku lengah dan tisi menendang aku samapai aku terjengkang. Dia berusaha lari, tapi aku lebih cepat dan kuat. Aku jambak rambutnya. Aku seret dia ke tempat tidur. Da berusaha menutupi buah dadanya dan berbalik sehingga posisinya tengkurap. Kebetulan! Aku tindih dia lalu kupentangkan kakinya& hunjamkan lagi penisku ke memiawnya sambil satu tanganku membekap mulutnya dan tangan yang lain meremas-remas buah dadanya. Aku pompa dia. Enak banget. Ayunanku seakan-akan mendarat di bantal empuk karena pantatnya ternyata besar dan lembut banget. Aku ciumi lehernya sambil terus memompa, membekap dan meremas-remas. Sampai kenikmatanku serasa di uun-ubun dan ooooooh, aku semprotkan air maniku di dalam memiaw tisi.

Puas menikmatinya aku tinggalkan saja tisi yag tertelungkup, lemas, menangis. Aku lihat air maniku mengalir keluar dari memiawnya yang indah itu.

tante dwi

sebenarnya jujur aku merasa malu juga untuk menceritakan pengalamanku ini, akan tetapi melihat pada jaman ini mungkin hal ini sudah dianggap biasa. Maka aku beranikan diri untuk menceritakanya kepada para pembaca. Tetapi ada baiknya aku berterus terang bahwa aku menyukai wanita yang lebih tua karena selain lebih dewasa juga mereka lebih suka merawat diri. Aku seorang pria yang suka terhadap wanita yang lebih tua daripadaku.
Dimulai dari aku SMA aku sudah berpacaran dengan kakak kelasku begitu juga hingga aku menamatkan pendidikan sarjana sampai bekerja hingga saat ini. Satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika aku berpacaran dengan seorang janda beranak tiga. Demikian kisahnya, suatu hari ketika aku berangkat kerja dari Tomang ke Kelapa Gading, aku tampak terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.45. Sedangkan aku harus sampai di kantor pukul 08.30 tepat. Aku terpaksa pergi ke Tanah Abang dengan harapan lebih banyak kendaraan di sana. Sia-sia aku menunggu lebih dari 15 menit akhirnya aku putuskan aku harus berangkat dengan taxi. Ketika taxi yang kustop mau berangkat tiba-tiba seorang wanita menghampiriku sambil berkata, “Mas, mau ke Pulo Gadung ya?” tanyanya, “Saya boleh ikut nggak? soalnya udah telat nich.”

Akhirnya aku perbolehkan setelah aku beritahu bahwa aku turun di Kelapa Gading. Sepanjang perjalanan kami bercerita satu sama lain dan akhirnya aku ketahui bernama Dewi, seorang janda dengan 3 orang anak dimana suaminya meninggal dunia. Ternyata Dewi bekerja sebagai Kasir pada sebuah katering yang harus menyiapkan makanan untuk 5000 buruh di Kawasan Industri Pulo Gadung. Aku menatap wanita di sebelahku ini ternyata masih cukup menggoda juga. Dewi, 1 tahun lebih tua dari aku dan kulit yang cukup halus, bodi yang sintal serta mata yang menggoda. Setelah meminta nomor teleponnya aku turun di perempatan Kelapa Gading. Sampai di kantor aku segera menelepon Dewi, untuk mengadakan janji sore hari untuk pergi ke bioskop.
Tidak seperti biasanya, tepat jam 05.00 sore aku bergegas meninggalkan kantorku karena ada janji untuk betemu Dewi. Ketika sampai di Bioskop Jakarta Theater, tentunya yang sudah aku pilih, kami langsung antri untuk membeli tiket. Masih ada waktu sekitar 1 jam yang kami habiskan untuk berbincang-bincang satu sama lain. Selama perbincangan itu kami sudah mulai membicarakan masalah-masalah yang nyerempet ke arah seks. Tepat jam 19.00, petunjukan dimulai aku masuk ke dalam dan menuju ke belakang kiri, tempat duduk favorit bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta. Pertunjukan belum dimulai aku sudah membelai kepala Dewi sambil membisikkan kata-kata yang menggoda. “Dewi, kalau dekat kamu, saudaraku bisa nggak tahan,” kataku sambil menyentuh buah dadanya yang montok. “Ah Mas, saudaranya yang di mana?” katanya, sambil mengerlingkan matanya. Melihat hal itu aku langsung melumat habis bibirnya sehingga napasnya nampak tersengal-sengal. “Mas, jangan di sini dong kan malu, dilihat orang.” Aku yang sudah terangsang segera mengajaknya keluar bioskop untuk memesan taxi. Padahal pertunjukan belum dimulai hanya iklan-iklan film saja yang muncul.

Setelah menyebutkan Hotel **** (edited), taxi itupun melaju ke arah yang dituju. Sepanjang perjalanan tanganku dengan terampil meremas buah dada Dewi yang sesekali disertai desahan yang hebat. Ketika tanganku hendak menuju ke vagina dengan segera Dewi menghalangi sambil berkata, “Jangan di sini Mas, supir taxinya melihat terus ke belakang.” Akhirnya kulihat ke depan memang benar supir itu melirik terus ke arah kami. Sampai di tempat tujuan setelah membayar taxi, kami segera berpelukan yang disertai rengekan manja dari Dewi, “Mas Jo, kamu kok pintar sekali sih merangsang aku, padahal aku belum pernah begini dengan orang yang belum aku kenal.” Seraya sudah tidak sabar aku tuntun segera Dewi ke kamar yang kupesan. Aku segera menjilati lehernya mulai dari belakang ke depan. Kemudian dengan tidak sabarnya dilucutinya satu persatu yang menempel di badanku hingga aku bugil ria. Penisku yang sudah menegang dari tadi langsung dalam posisi menantang Dewi.
Kemudian aku membalas melucuti semua baju Dewi, sehingga dia pun dalam keadaan bugil. Kemudian dengan rakus dijilatinya penisku yang merah itu sambil berkata, “Mas kontolnya merah banget aku suka.” Dalam posisi 69 kujilati juga vagina Dewi yang merekah dan dipenuhi bulu-bulu yang indah. 10 Menit, berlalu tiba-tiba terdengar suara, “Mas, aku mau keluaarr..”
“Cret.. cret.. cret..”
Vagina Dewi basah lendir yang menandakan telah mencapai orgasmenya. 5 Menit kemudian aku segera menyusul, “Dewi, Wi, Mas mau keluar..”
“Crot.. crot.. crot..”
Spermaku yang banyak akhirnya diminum habis oleh Dewi.
Setelah itu kami pun beristirahat. Tidak lama kemudian Dewi mengocok kembali penisku yang lunglai itu. Tidak lama kemudian penisku berdiri dan siap melaksanakan tugasnya. Dituntun segera penisku itu ke vaginanya. Pemanasan dilakukan dengan cara menggosokkan penisku ke vaginanya. Dewi mendesah panjang, “Mas, kontolnya kok bengkok sih, nakalnya ya dulunya?” Tidak kuhiraukan pembicaraan Dewi, aku segera menyuruhnya untuk memasukkan penisku ke vaginanya. “Dewi, masukkan cepat! Jonathan tidak tahan lagi nih.” Sleep.. bless.. masuk sudah penisku ke vaginanya yang merekah itu. Tidak lupa tanganku meremas buah dadanya sesekali menghisap payudaranya yang besar walaupun agak turun tapi masih nikmat untuk dihisap. Goyangan demi goyangan kami lalui seakan tidak mempedulikan lagi apakah yang kami lakukan ini salah atau tidak. Puncaknya ketika Dewi memanggil namaku, “Jonathan.. terus.. terus.. Dewi, mau keluar..” Akhirnya Dewi keluar disertai memanggil namaku setengah berteriak, “Jonathan.. aku.. keluaarr..” sambil memegang pantatku dan mendorongnya kuat-kuat.

Tidak berselang lama aku pun merasakan hal sama dengan Dewi, “Wi.. ah.. ah.. tumpah dalam atau minum Wi..” kataku. Terlambat akhirnya pejuku tumpah di dalam, “Wi.. kamu hebat.. walaupun sudah punya 3 anak,” kataku sambil memujinya. Akhirnya malam itu kami menginap di hotel **** (edited). Kami berpacaran selama 1 tahun, walaupun sudah putus, tetapi kami masih berteman baik.
Adakah di antara pembaca baik itu gadis, janda, maupun tante yang bersedia kencan lepas denganku aku siap melayaninya, terlebih lagi kalau lebih tua dariku. Silakan kirim email ke alamatku disertai nomor telepon, pasti aku hubungi. Benar juga kata pepatah, “Kelapa yang tua, tentu banyak juga santannya”. Yang lebih tua memang enak juga untuk dikencani.